Frustrasi, Petani Bakar 3 Ha Padi

Gagal Panen karena Serangan Wereng dan Krisis Air

Kamis, 06 November 2014 – 07:33 WIB

jpnn.com - MOJOKERTO – Serangan hama wereng dan krisis air lantaran kemarau panjang menghantui petani. Di Kecamatan Trowulan, sebagian tanaman padi gagal penen.

 

Selain petani gagal berproduksi, serangan hama wereng dan krisis air yang berfungsi mengairi area persawahan mengakibatkan tanaman padi mati mendadak.

BACA JUGA: Dua Bulan, 218 Isteri di Bantul Gugat Cerai

Batang dan daun berubah kecokelatan, bahkan tidak mampu lagi menghasilkan bulir buah padi. Akibatnya, mereka rugi puluhan juta. Salah satunya dialami petani di Dusun Kaweden, Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan, Kabupaten Mojokerto. Kemarin, sedikitnya lahan 3 hektare yang sudah tertanami padi terpaksa dibiarkan.

BACA JUGA: Harga Elpiji 3 Kg Naik menjadi Rp 28 Ribu

Sejak usia padi menginjak 40 hari, mereka memilih membiarkan area persawahan. Bahkan, karena didera frustrasi, mereka merusak tanaman sendiri dengan cara dibabat, lalu membakar di lokasi.

’’Petani di sini sudah tidak bisa berbuat apa-apa. Tanaman kami rusak karena serangan hama wereng,’’ tutur Sutoyo, petani setempat.

BACA JUGA: 20 Kg Ganja Tak Bertuan di Pelabuhan Sekupang

Lahan yang lebih dari 3 hektare tersebut milik delapan petani, yakni terbagi dalam delapan petak. Di antaranya milik Muipah, Sutoyo, Juki, Yasin dan Ali Mustofa.

Kondisi itu diperparah musim kemarau yang berkepanjangan. Aliran irigasi sebagai andalan petani untuk mengairi sawah justru mengering. Padahal, padi yang menginjak usia 40–75 hari sangat membutuhkan pasokan air untuk menjaga kondisi tanaman.

Sulitnya pasokan air tersebut membuat lahan persawahan mereka kian kering dan terlihat pecah-pecah. Karena itu, krisis kiriman air tersebut memperparah pertumbuhan padi yang semestinya sudah memasuki masa pembuahan.

’’Tanamannya jadi ikut kering. Pemandangan sawah sekarang terlihat sangat kering, tidak ada dedaunan sedikit pun yang menghijau,’’ ungkap bapak dua anak itu.

Rahmad, buruh tani, menambahkan, rusaknya tanaman padi milik petani di desanya merupakan yang pertama terjadi. Bukan hanya serangan hama wereng, aliran irigasi yang mengering membuat lahan pertanian turut rusak dan kesuburannya tidak terjaga.

’’Sebagian tanaman memang terlihat bulir padinya, tapi lama-kelamaan habis. Isi padinya pun kopong,’’ terangnya.

Belakangan, tanaman padi di Desa Balongwono memang bergatung pada saluran air irigasi dari hulu di wilayah selatan desa sebagai satu-satunya jalan untuk mengairi persawahan. Aliran irigasi itu datang dari Desa Kejagan, Wonorejo, dan Tawangsari hingga Balongwono.

Pasokan air yang terhenti sejak tiga bulan membuat saluran irigasi dan pintu air persawahan menjadi kering kerontang.

’’Kerugiannya mungkin tidak terhitung. Ya, paling tidak, setiap petak petani sudah menghabiskan biaya operasi minimal Rp 3 juta. Itu belum termasuk biaya pemupukan dan penyemprotan obat kerugian karena gagal panen,’’ lanjutnya. (ris/abi/JPNN/c23/bh)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Hari Ini 10 Ribu Buruh Turun ke Jalan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler