Gadis Kecil Penggagas Hari Ibu itu Menolak Menyembah Raja Jawa

Rabu, 23 Desember 2015 – 10:07 WIB
Soejatin saat memerankan lakon R.A. Kartini, 1923. Gambar ini termuat dalam buku Sumbagsihku Bagi Pertiwi. Foto: Repro Wenri Wanhar/JPNN.com.

jpnn.com - INILAH kisah Soejatin. Si penggagas Kongres Perempuan Indonesia pertama, yang kemudian dijadikan Hari Ibu, 22 Desember. 

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network

BACA JUGA: Skenario Hari Ibu (1)

Soejatin lahir 9 Mei 1907 di desa Kalimenur, kabupaten Wates, Yogyakarta.

Lazimnya anak-anak kampung kebanyakan, semasa kecil dia suka bermain dengan teman sebaya. Mandi di sungai, memanjat pohon dan mengambil tebu yang tumbuh di sela pematang sawah.

BACA JUGA: Satu Episode Sejarah Gerakan Kiri Minangkabau

Di samping itu dia gemar sekali membaca buku. 

"Hampir semua buku yang ada di lemari bapak habis kubaca semua, di antaranya buku cerita petualangan Old Shutter Hand karangan Karl May," kenang Soejatin, sebagaimana ditulisnya dalam Sumbangsihku Bagi Pertiwi.

BACA JUGA: Misteri Hilangnya Gedung Conefo

Buku setebal bantal itu, habis dilahapnya hanya dalam waktu dua hari. 

"Kalau sudah membaca, memang saya jadi lupa segala-galanya," akunya.

Hanya saja ibunya menganggap kebiasaannya yang "keterlaluan" ini aneh. 

Agar tak ditegor, Soejatin seringkali sembunyi-sembunyi membaca di atas pohon atau di kolong tempat tidur.

Kartini

Ada satu buku yang dibacanya hingga berkali-kali. Door Duisternis tot Licht (Habis Gelap Terbitlah Terang)--nya R.A. Kartini. 

"Setiap membaca buku ini rasanya saya masuk ke dalamnya…saya betul-betul terpana dalam menghayati isi cita-cita Ibu Kartini," ungkapnya.

Tahun 1922, ketika sekolah di MULO (setingkat SMP) di Yogyakarta, dia bergabung dengan Jong Java. Dan aktif mengelola majalah yang diterbitkan organisasi tersebut.

Pada 1923, diselenggarakan pawai besar-besaran memperingati 25 tahun Ratu Wilhelmina. 

Pawai ini terbuka untuk umum. Semua residen dan pajabat gubernemen ambil bagian. 

Atas usulan Soejatin, Jong Java ikut serta dengan mengambil tema Raden Ajeng Kartini. Dan benar saja, di hari H, rombogan Jong Java mendapat applaus.

"Sambutan masyarakat di jalan-jalan kepada kami sangat besar dan kebetulan saya sendiri yang berperan sebagai Raden Ajeng Kartini," kenangnya.

Dan rupanya, mereka menang. Soejatin didaulat naik panggung menerima hadiah dari Sri Sultan Hamengkubowono VIII di Societeit Yogya.

Batin Soejatin bergemuruh. Menghadap Raja Jawa, menyembah atau tidak…menyembah atau tidak?

Kalau menyembah, "berarti menipu diri saya sendiri. Bertentangan dengan ciri-ciri saya yang ingin menghapuskan feodalisme yang saya anggap tidak adil dan bertentangan dengan kodrat manusia," gumamnya.

Kalau tidak menyembah, "saya akan mendapat cemoohan dari masyarakat, dianggap tidak tahu sopan santun, tidak tahu adat."

Perasaan itu berkecamuk di dalam gadis berusia 16 tahun. Dan di memutuskan, tidak menyembah Raja Jawa saat menerima hadiah itu.

Disaksikan para pembesar, Sultan menyerahkan hadiah berupa lampu berdiri yang indah sekali. 

Lampu yang melambangkan, "habis gelap terbitlah terang," kata Sultan. --bersambung (wow/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... ASTAGA! Ternyata Gedung DPR RI Dibangun untuk Menandingi PBB, Sejarahnya...


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler