Gagal ke Suriah, Lantas Serang Jemaat Gereja St Lidwina?

Selasa, 13 Februari 2018 – 08:15 WIB
Petugas mendokumentasikan kondisi ruangan Gereja Santa Lidwina Bedog, yang rusak usai diserang oleh pelaku teror bernama Suliono, Minggu (11/2). Foto: Guntur Aga Tirtana/Radar Jogja

jpnn.com, JAKARTA - Kapolri Jenderal Tito Karnavian memastikan Suliono, pelaku penyerangan terhadap jemaat Gereja St Lidwina, Sleman, merupakan jaringan anggota teroris. Suliono tercatat pernah berada di Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Mantan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Teror (BNPT) tersebut menjelaskan, pelaku terindikasi kuat terkena paham radikal yang pro dengan kekerasan.

BACA JUGA: Kepala Disabet Pedang, Romo Prier Sudah Bisa Bercanda

”Dia pernah ke Poso Sulteng, di sana ada kelompok Santoso,” paparnya di gedung Promoter Polda Metro Jaya, Senin (12/2).

Yang semakin menguatkan adalah pelaku pernah membuat paspor yang rencananya dipergunakan untuk berangkat ke wilayah ISIS di Suriah. Namun, dia tidak berhasil berangkat. ”Mabes Polri dan Polda terus mendalami siapa pelaku,” ujarnya.

BACA JUGA: Ini Sikap Resmi Muhammadiyah soal Teror di Gereja St Lidwina

Kemungkinan besar setelah gagal berangkat itu, pelaku memutuskan untuk melakukan amaliyah. ”Yang dalam tanda petik menyerang kafir versinya sendiri,” terang mantan Kapolda Metro Jaya tersebut.

Menurutnya, yang saat ini sedang digali lebih dalam terkait Suliono ini apakah hanya lone wolf alias pelaku tunggal atau justru merupakan bagian dari sebuah jaringan. ”Kami ingin mengetahuinya,” tuturnya.

BACA JUGA: Tokoh Agama Disasar, Ini Permintaan Bamsoet ke BIN dan TNI

Karena itu pelaku yang saat ini sedang dirawat tentu jangan sampai meninggal dunia. Tito sudah menginstruksikan agar pelaku diberikan perawatan kesehatan terbaik sehingga, nantinya bisa dilakukan pemeriksaan. ”Kita akan korek informasi dari yang bersangkutan,” urainya.

Yang juga penting, anggota kepolisian yang melumpuhkan pelaku, namun tetap berupaya agar pelaku tetap hidup.

”Saya apresiasi yang tinggi pada anggota yang melumpuhkan. Cepat datang ke TKP,” paparnya.


Tito juga berharap masyarakat jangan mengkait-kaitkan antara kasus di penyerangan gereja. Sebelumnya ada dua kasus penyerangan terhadap tokoh agama.

Namun, semua kasus itu telah terkuak, pelaku memang oleh psikiater terindikasi mengalami gangguan jiwa. ”Kasusnya dilihat hanya penganiayaan biasa,” ujarnya.

Bila dikait-kaitkan justru bisa menimbulkan spekulasi. Kondisi itu bisa membuat keresahan di masyarakat.

”Polri tidak ingin berspekulasi dengan adanya motif tertentu, namun malah beranjak dari fakta hukum,” ujarnya.

Sementara Pengamat Terorisme Al Chaidar menuturkan, orang yang terlibat kasus Poso dan pernah berupaya ke Suriah, sangat kecil kemungkinan merupakan lone wolf.

Sebab, untuk bisa ke Suriah perlu untuk koordinasi dengan jaringan ISIS. ”Karena itulah perlu untuk mengungkap jaringannya,” ungkapnya.

Terkait masalah pengaitan isu penyarangan ustad dengan penyerangan gereja, menurutnya kepolisian jangan hanya menampiknya.

Namun, tanpa memberikan bukti yang membuat masyarakat percaya bahwa tidak ada kaitan.

”Karena itu perlu untuk mempublikasikan hasil tes kesehatan mental dari pelaku. Khususnya yang pelakunya menewaskan ustad,” terangnya.

Bahkan, juga sangat perlu untuk mengawasi pelaku hingga ke rumah sakit jiwa. Jangan sampai pelaku ini hanya dilepas karena diyakini sakit jiwa.

”Ini sangat penting untuk bisa membuktikan bahwa tidak ada terorisme negara. Sebab, pengaitan isu-isu ini bisa jadi merupakan kerja-kerja intelijen,” ungkapnya. (idr)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Charles Honoris: Pelaku Teror Kini tak Lagi Berjejaring


Redaktur & Reporter : Soetomo

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler