Gandeng Pelindo III, Banyuwangi Efisienkan Pengiriman Barang

Rabu, 28 Mei 2014 – 16:00 WIB
Pertemuan Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dengan jajaran Pelindo III dan para pelaku usaha lainnya. FOTO: ist

jpnn.com - BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi menjalin sinergi dengan PT Pelabuhan Indonesia III (Pelindo III) untuk mengefisienkan sistem logistik untuk pengiriman barang melalui Pelabuhan Tanjung Wangiyang berada di kabupaten berjuluk The Sunrise of Java tersebut. 

Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melakukan rapat bersama jajaran Pelindo III dan parapelaku usaha ekspor-impor yang ada di Banyuwangi. Hadir dari pihak Pelindo III adalah Senior Manager Hermanto dan GM Pelabuhan Tanjung Wangi Bangun Swastanto.

BACA JUGA: Relawan Janji Ulangi Kesuksesan Saat JK Dampingi SBY

”Kami duduk bareng, sama-sama dorong efisiensi sistem logistik yang ada, biar pengiriman barang jadi lebih lancar. Ini penting karena distribusi barang menentukan daya saing dunia usaha. Masyarakat Ekonomi ASEAN 2015 sudah di depan mata, karena itu sistem logistik ini harus dibenahi. Ini sangat menentukan daya saing dunia usaha Banyuwangi,” ujar Bupati Anas seusai pertemuan.

Menurut Anas, sistem logistik di seluruh Indonesia memang perlu banyak perbaikan karena masih menimbulkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Saat ini, biaya logistik Indonesia masih berkisar 25 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih tinggi dibanding negara lain seperti Malaysia yang hanya 15 persen, Jepang 10 persen, Korsel 16 persen, dan rata-rata Eropa 8-11 persen.

BACA JUGA: Jadi Tersangka Kasus Suap, Polisi Ini Masih Jabat Wakapolsek

Peringkat Indonesia dalam Indeks Kinerja Logistik (Logistics Performance Index/LPI) 2014 juga masih berada di peringkat 53, di bawah Singapura yang berada di peringkat 5, Malaysia peringkat 25, Thailand peringkat 35, Vietnam peringkat 48. ”Indonesia hanya unggul dibanding Filipina dan Myanmar. Saya sadar ini bukan hanya tugas pemerintah pusat atau Pelindo saja, tapi semua pihak harus gerak bareng. Di daerah kami berbuat sebisa mungkin agar dunia usaha nyaman saat mengirimbarang, sehingga bisa kompetitif,” ujar Anas yang pernah menempuh studi kepemerintahan di Harvard Kennedy School of Government, Amerika Serikat, tersebut. 

Dia mengatakan, banyak aspek yang menjadi perhatian bersama untuk mengefisienkan biaya logistik di Pelabuhan Tanjung Wangi, Banyuwangi. Di antaranya adalah belum sinergisnya pelaku usaha (eksportir-importir) dengan pelaku usaha transportasi laut.

BACA JUGA: Bangun Ruko di Atas Sungai, Dirut GPSP jadi Tersangka

”Kan banyak faktor pembentuk sistem logistik. Ada customs peformance, kualitas infrastruktur, danwaktu pengiriman barang. Saya cek di lapangan ada problem akses jalan dari dan ke daerah sekitarPelabuhan Tanjung Wangi yang kurang mendukung untuk beban petikemas. Nah, dalam hal ini, pemda bisa fasilitasi seperti apa, akan dimatangkan dalam waktu dekat,” ujar Anas.

General Manager Pelabuhan Tanjung Wangi, Bangun Swastanto, mengatakan, beberapa pembenahan akan dilakukan di pelabuhan tersebut. Di antaranya adalah pemanjangan dermaga dari posisi saatini 518 meter menjadi 668 meter. Pemanjangan dermaga akan dilakukan mulai tahun ini. ”Juga akan dibangun integrated area yang akan memudahkan pelaku usaha dalam melakukan aktivitas perdagangan melalui pelabuhan ini,” ujarnya.

Dia berjanji akan meningkatkan kualitas pelayanan sehingga waktu tunggu (waiting time) di Pelabuhan Tanjung Wangi bisa ditekan lagi dari 7 hari menjadi 3 hari. 

”Pelabuhan Tanjung Wangi ini ke depan sangat prospektif seiring makin berkembangnya kawasan timur Jawa. Kedalaman pelabuhan ini sudah mencapai 14 low water spring (LWS) sehingga bisa disandari kapal besar,” kata Bangun.

Pelabuhan Tanjung Wangi juga sudah memiliki sejumlah fasilitas pendukung kegiatan petikemas. Di antaranya container yard (CY) impor berkapasitas 148 Teus, CY ekspor 156 Teus, dan CY domestik 166 Teus. Arus kapal di pelabuhan tersebut terus meningkat dari 2,8 juta GT (gross tonnage) pada 2011 menjadi 3,7 GT pada 2013. Arus barang melonjak dari 943.256 ton pada 2011 menjadi 1,62 juta ton pada 2013.

”Ke depan dengan sinergi semua pihak dan kemajuan Banyuwangi, aktivitas bongkar-muat akan terus naik. Pelindo III akan memberikan pelayanan terbaik bagi pelaku usaha,” kata Bangun.

Dari hasil pertemuan dengan stakeholders ekspor-impor di Banyuwangi tersebut juga muncul kesepakatan untuk memberi insentif dengan memotong sampai 50 persen dalam hal biaya tambat dan biaya labuh. Langkah ini dimaksudkan sebagai stimulus agar gairah bongkar-muat di pelabuhan tersebut makin meningkat.

Bupati Anas menambahkan, selama ini belum ada data faktual terkait aktivitas ekspor-impor di Banyuwangi, karena memang banyak pelaku usaha yang mengekspor barangnya lewat Surabaya karena terminal petikemas di Banyuwangi yang dinilai belum memadai. ”Banyak pelaku usaha dari Banyuwangi yang mengekspor lewat Surabaya dan Gresik. Dengan sinergi dengan Pelindo III dan perbaikan-perbaikan, nanti cukup ekspor lewat Banyuwangi saja, bisa lebih efisien,” tuturnya.

Data menunjukkan, aktivitas muat barang dari Jatim yang akan dikirim ke luar provinsi memang masih terpusat di Pelabuhan Tanjung Perak dan Pelabuhan Gresik hingga sekitar Rp 60 triliun per tahun atau 83,68 persen dari total aktivitas muat di Jatim. (eri/mas)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pemakzulan Bupati Karo Menuai Ganjalan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler