Gandeng UN Women, Yenny Wahid Angkat Harkat Perempuan

Minggu, 08 Oktober 2017 – 23:16 WIB
Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid dan Presiden Joko Widodo. Foto: Istimewa for JPNN

jpnn.com, SUMENEP - Wahid Foundation bersama badan PBB untuk isu perempuan UN Women merayakan Hari Perdamaian Internasional di Pondok Pesantren Annuqayah, Desa Guluk-Guluk, Sumenep, Madura, Minggu (8/10).

Presiden Joko Widodo yang hadir dalam acaar itu meminta masyarakat Indonesia untuk selalu menjaga perdamaian.

BACA JUGA: Joko Widodo, Perempuan dan Perdamaian

Dia menambahkan, banyak negara yang kepincut dengan perdamaian dan kerukunan yang berlangsung di Indonesia.

"Indonesia memiliki suku yang cukup banyak, mencapai 714 suku. Dibandingkan Malaysia yang hanya tiga suku, Indonesia memiliki berbagai suku, berbeda agama, budaya dan berbeda bahasa. Maka, perlu hati-hati dalam menyikapi dan jangan sampai ada gesekan apalagi konflik," kata  Jokowi.

BACA JUGA: Presiden Hadiri Hari Perdamaian Internasional di Sumenep

Jokowi juga meminta warga Madura menjaga persaudaraan,ukhuwah islamiyah, basyariah, dan wathaniyah.

Sementara itu, Direktur Wahid Foundation Yenny Wahid menyampaikan apresiasinya terhadap perempuan yang ada di Madura.

BACA JUGA: Al Araf: Presiden Perlu Pertimbangkan Ganti Panglima TNI

Dia mengatakan, acara itu adalah kolaborasi antara UN Women dan Wahid Foundation dengan dukungan khusus dari pemerintah Jepang.

"Kegiatan yang kami gagas ini dipicu oleh rasa bangga  kami kepada perempuan Indonesia yang mempunyai karakter khas. Ketika UN Women menghubungi kami untuk membuat kegiatan perayaan hari perdamaian dunia yang melibatkan kelompok perempuan di masyarakat, kami langsung berpikir bahwa Madura adalah daerah yang paling pas. Sebab, perempuan Madura dikenal sebagai pribadi yang ulet, pekerja keras, religius, dan senang bergotong royong,” kata Yenny.

Dia menambahkan, rasa bangga itu yang membuat pihaknya berinisiatif membikin

Gerakan Perempuan Untuk Perdamaian.

Selama ini, sambung Yenny, kiai telah berjuang di garda terdepan untuk menciptakan ketenteraman dan kedamaian di Indonesia.

Nah, di belakang para kiai tentu ada istri yang luar biasa dan turut serta dalam perjuangan tersebut.

“Program yang kami gagas bersama UN Women berbentuk program penguatan ekonomi keluarga. Perempuan akan dibantu untuk meningkatkan kemampuannya dalam mencari tambahan nafkah keluarga. Mereka bisa tetap tinggal di rumah untuk mengasuh anak sambil membuat usaha kecil untuk membantu pendapatan keluarganya,” imbuh Yenny.

Di sisi lain, perempuan juga akan dibekali dengan kemampuan untuk menerapkan nilai-nilai perdamaian di lingkungannya masing-masing.

Dengan begitu, mereka tidak mudah terpancing oleh provokasi orang-orang yang ingin menciptakan konflik di tengah-tengah masyarakat.

“Dalam program ini kami juga melibatkan banyak kiai, Gus dan Lora, untuk membantu membangun pemahaman kaum perempuan terutama tentang nilai Pancasila,” kata Yenny.

Menurut dia, kiai adalah orang yang paling tepat untuk bicara soal Pancasila.

Sebab, para kiai sangat menyadari bahwa Pancasila adalah mitsaqon gholidhoh atau perjanjian suci yang mengikat seluruh bangsa Indonesia.

“Saya berharap para Lora dan Gus dari AnNuqoyah bersama para Bu Nyai nantinya bisa menjadi pelopor-pelopor perdamaian di Madura dan Indonesia,” imbuh Yenny.

Menurut Yenny, gerakan ini juga sekaligus menjadi respons dari keinginan baik Jokowi yang telah menggagas konsep penguatan ekonomi umat.

“Beliau telah bekerja keras dalam melakukan banyak upaya untuk mengikis kesenjangan ekonomi yang ada di masyarakat. Karena itu mari kita doakan agar beliau diberi kekuatan dalam memimpin bangsa ini. Kita doakan Bbeliau diberi kesehatan dan kemampuan yang dibutuhkan untuk membangun Indenesia yang aman, adil, dan sejahtera,” ujar Yenny. (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Gatot dan Tito Dekati Ulama, SMI Tarik Pajak


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler