Ganjar Pranowo: Tak Usah Pulang Kampung, Kalau Ada Apa-Apa Lapor Saya

Jumat, 17 April 2020 – 13:21 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo di asrama mahasiswa Papua. Foto:

jpnn.com, SEMARANG - Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo belakangan ini rutin mengunjungi asrama mahasiswa luar Jawa yang  merantau di Kota Semarang.

Kedatangan Ganjar untuk memberikan bantuan dan memastikan kondisi para mahasiswa perantau dalam keadaan sehat.

BACA JUGA: 46 Tenaga Medis RSUP Kariadi Positif Covid-19, Ini yang Dilakukan Pak Ganjar

Sejumlah asrama yang telah dikunjungi adalah Papua, Aceh, Palembang, Lampung, Maluku, Kalimantan Barat dan Makassar.

Pagi tadi, Jumat (17/4), pria berambut putih itu kembali berkeliling untuk mengunjungi asrama mahasiswa.

BACA JUGA: Kunjungi Mahasiswa Maluku, Ganjar Disambut Lagu Sio Mama e Beta Rindu Pulang

Di antaranya Nusa Tenggara Barat (NTB) di Jl Talang Sari, Parsadaan Mahasiswa Batak Semarang di Tembalang dan asrama pelajar asal Papua di Sambiroto.

Setiap berkunjung, Ganjar selalu menanyakan kondisi para perantau yang sedang menempuh pendidikan itu. Tak hanya itu, Ganjar juga menyempatkan diri mengecek dapur asrama dan melihat stok kebutuhan mereka.

BACA JUGA: 5 Berita Terpopuler: Covid-19 Baru jadi Bencana Nasional, Bentrok TNI-Polri, Tak Ada yang Berubah PSBB

Di Asrama Mahasiswa NTB misalnya, Ganjar bahkan sempat mengecek ember beras yang ada di dapur. Di dalam ember itu, Ganjar melihat hanya tinggal sedikit beras yang tersedia.

"Maaf pak, kondisinya kotor. Berasnya juga tinggal itu. Itu juga bantuan dari kampus," kata Junaidi, Ketua Mahasiswa NTB di Semarang.

Junaidi mengaku wabah covid-19 ini cukup berdampak bagi mahasiswa luar Jawa. Yang paling terasa menurutnya, kiriman dari kampung halaman saat ini sering terlambat.

"Kiriman sering telat pak, tapi mau bagaimana lagi karena kondisinya seperti ini. Kami semua mayoritas anak petani, uang saku biasanya hanya Rp300.000 per bulan," curhat Junaidi.

Curhatan yang sama juga didapat Ganjar dari puluhan mahasiswa yang tinggal di asrama mahasiswa suku Batak di Semarang. Mereka juga mengatakan sering telat kiriman dari kampung halaman.

"Kami ada 20 orang yang tinggal di sini. Semuanya sehat pak, tapi ya itu, kiriman dari rumah macet," kata Ketua mahasiswa Batak di Semarang, Chandra Pangabean.

Ganjar terenyuh mendengar cerita para mahasiswa itu. Meski begitu, dia tetap menyemangati para mahasiswa itu untuk tetap survive. Segala cara, lanjut Ganjar, harus dilakukan agar tetap bisa bertahan di Semarang.

"Nanti saya kirim bantuan sembako, biar kalian tenang. Bisa dimasak dan dimakan bareng-bareng. Jangan jajan terus, biar irit. Yang penting sehat ya, nggak usah pulang kampung dulu, tetap tinggal di sini, pakai masker, sering cuci tangan dan olahraga. Kalau ada apa-apa lapor saya," kata Ganjar.

Hal berbeda dilihat Ganjar saat mengunjungi asrama pelajar Papua di Sambiroto Semarang. Mayoritas kondisi para pelajar dari Papua itu relatif aman karena dijamin pemerintah daerahnya. Meski begitu, Ganjar tetap memberikan bantuan sembako kepada mereka.

"Saya hanya ingin memastikan semua mahasiswa dan pelajar dari luar daerah ini sehat. Beberapa memang ada yang kesulitan karena kiriman telat dari kampung, maka kami berikan bantuan sembako. Kami harap bantuan ini bisa membuat mereka setidaknya tenang," terang Ganjar.

Pemberian sembako tersebut diapresiasi oleh mahasiswa dan pelajar dari luar Jawa itu. Mereka merasa beruntung, meskipun bukan warga Jawa Tengah, tetapi tetap mendapat perhatian.

"Kami sebagai mahasiswa luar Jawa Tengah sangat terbantu. Di tengah kondisi wabah ini, kiriman orang tua menjadi telat. Kami senang, walaupun bukan warga asli Jateng, namun diperhatikan oleh pak Ganjar," kata Chandra. (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler