Gara-Gara Video Hoax, Sembilan Tewas Diamuk Massa

Rabu, 13 Juni 2018 – 19:27 WIB
Pengeroyokan yang menyebabkan kematian. Foto ilustrasi: dokumen JPNN

jpnn.com, NEW DELHI - Kami telah membunuhnya, Anda bisa melihatnya di televisi besok. Kalimat itu meluncur dari orang tak dikenal yang menjawab telepon perempuan yang menjadi kekasih Abhijeet Nath Jumat malam (8/6).

Perempuan yang tak mau namanya disebut itu panik. Sebab, Nath tak kunjung meneleponnya sesuai janji.

BACA JUGA: Tak Masuk Akal, Pemerkosa ABG Cuma Dihukum Sit Up

Jawaban orang tak dikenal itu kian membuatnya gusar. Sekitar 15 menit kemudian, polisi meneleponnya mengabarkan bahwa Nath kecelakaan.

Nath tak celaka. Di kantor polisi, dijelaskan bahwa dia dan sahabatnya, Nilotpal Das, dibunuh oleh sekitar 200 orang di Desa Panjuri Kachhari, Dokmoka, Assam. Mereka dituding sebagai anggota gerombolan penculik anak hanya gara-gara penduduk sekitar tak mengenal Nath dan Das.

BACA JUGA: Badai Pasir Renggut 127 Nyawa

’’Saat mendengar berita itu, saya ingin langsung ke Dokmoka meski saya tidak pernah mendengar nama tempat itu sebelumnya,’’ ujar Gopal Chandra Das, ayah Nilotpal Das. Dia begitu shock mendengar nasib yang menimpa putranya.

Nath adalah seorang pebisnis dan Das merupakan musisi. Keduanya tinggal di Guwahati dan di hari nahas itu mereka piknik ke Kanthe Langshu untuk mencari ikan eksotis guna menambah koleksi Nath.

BACA JUGA: India Dihantam Badai Debu, 76 Tewas Tertimpa Rumah Sendiri

Dalam perjalanan pulang, mereka berhenti dan bertanya arah kepada penduduk setempat. Nahas, bukannya diberi tahu, mereka malah dipukuli hingga tewas.

’’Nilotpal adalah musisi yang brilian, penyanyi yang menginspirasi, dan yang paling penting dia adalah manusia yang luar biasa,’’ ujar Ankur Psychia, kawan Das. Tak ada yang akan percaya bahwa Das adalah penculik.

Berdasar video yang beredar di YouTube, tampak massa memukuli dua pemuda itu dengan tongkat bambu dan berbagai alat lainnya. Das sempat memohon kepada penduduk untuk tak memukulinya.

Dia menyebutkan nama orang tuanya dan asalnya, tapi penduduk tak mau mendengar. Amarah sudah meracuni massa. Jenazah keduanya hampir tak bisa dikenali. Tak hanya memukuli, massa juga merobek wajah mereka dengan pisau.

’’Kami menangkap 16 orang. Penyelidikan dipusatkan pada pasangan yang merekam dan mengunggah video,’’ ujar Mukesh Agrawal, petugas kepolisian di Assam.

BBC melansir, kasus pembunuhan seperti itu sudah beberapa kali terjadi. Sejak Juni, ada sembilan orang yang tewas dibunuh massa. Itu belum termasuk Nath dan Das. Penyebabnya adalah berita hoax yang beredar melalui pesan berantai di WhatsApp.

Dalam video itu, tampak dua orang yang mengendarai sepeda motor dan menuju sekelompok anak-anak yang tengah bermain. Salah seorang anak langsung ditarik dan dibawa lari. Video itu bukanlah penculikan sungguhan.

Itu adalah video tentang perlindungan keselamatan anak-anak yang dibuat di Pakistan. Tujuan pembuatannya adalah meningkatkan kewaspadaan publik.

Nah, si penyebar hoax menghapus bagian akhir video yang menjelaskan tentang kampanye menjaga keselamatan anak itu. Alih-alih, mereka menambahkan pesan yang menyebutkan bahwa para pelaku penculikan anak bergentayangan dan siap menculik anak-anak.

Kepanikan kian menggila setelah media lokal justru memberitakan tentang video hoax yang beredar itu tanpa menyelidiki kebenarannya. Penduduk kian menganggap video itu adalah kenyataan.

Para pakar menyatakan bahwa berita hoax gampang menyebar dan mudah dipercaya di wilayah pedesaan. Mayoritas pemilik telepon pintar adalah orang awam yang tidak bisa membedakan berita benar dan salah.

Pascarumor penculikan beredar, massa langsung menaruh curiga pada setiap orang asing. Apalagi jika mereka tidak bisa berbicara bahasa lokal setempat.

Tanpa bertanya lebih lanjut, orang yang dituduh sebagai penculik langsung dihajar hingga tewas. Sembilan korban tewas sejak Juni, seluruhnya tak bersalah.

’’Kami meminta pada penduduk untuk segera menginformasikan pada polisi jika menemukan seseorang yang menyebar rumor dan pesan kebencian,’’ tegas Dirjen Polisi Mukesh Agarwala.

Muak dengan tingkah penduduk, sekitar 2 ribu orang turun ke jalan di Guwahati pada Minggu (10/6). Mereka menuntut polisi dan pemerintah berbuat sesuatu agar kejadian serupa tak kembali terulang. Mereka juga menuntut keadilan untuk para korban.

Sarbananda Sonowal, menteri besar Assam, mengaku sangat sedih mendengar berita tentang amuk massa yang terus memakan korban itu. Dia berjanji siapa pun yang bersalah bakal mendapatkan ganjaran yang setimpal.

’’Saya meminta semua orang untuk menjaga perdamaian dan harmoni serta tidak gampang terpengaruh rumor,’’ cuit Sonowal di akun Twitter-nya. (sha/c17/ano)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Minta Uang Bermodus Ramalan, WN India Dijebak Satpol PP


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler