Garuda Wisnu Kencana dan Epson Kolaborasi Mahakarya

Minggu, 05 Agustus 2018 – 05:00 WIB
Garuda Wisnu Kencana dan Epson tunjukkan mahakarya hasil kolaborasi teknologi dan tradisi. Foto: Epson

jpnn.com, BALI - Epson sebagai pemimpin pasar proyektor di Indonesia dan dunia terus melakukan terobosan dan inovasi teknologi yang mumpuni.

Bertepatan dengan diresmikannya Taman Wisata Garuda Wisnu Kencana, Epson mempertontonkan suguhan video mapping dalam mendukung acara “Swadarma Ning Pertiwi: 28 Tahun Merajut Mimpi Untuk Negeri” dengan memanfaatkan 16 buah proyektor berkekuatan tinggi dengan tingkat kecerahan 8.000 hingga 25.000 lumens.

BACA JUGA: Tingkatkan Market Share, Epson Getol Buka Layanan Purnajual

Delapan buah proyektor laser digunakan pada Patung GWK dan delapan lainnya dipertontonkan pada area panggung.

“Video mapping akan menjadi petunjuk bahwa teknologi sangat berperan pada abad ini. Apalagi teknologi digital semakin hari semakin menjadi kebutuhan. Jika diterapkan pada GWK, akan menjadi sinergi yang luar biasa menarik. GWK sendiri bertumpu pada akar tradisi, tetapi menerapkan teknologi kontruksi modern dalam perancangannya. Oleh sebab itu menjadi sangat unik, menarik, dan strategis penggunaan video mapping dalam pentas bertajuk Swadharma Ning Pertiwi nanti. Kesimpulannya: GWK tetap berdiri di atas akar tradisi yang kokoh, tetapi juga menyerap kemajuan peradaban manusia yang disimbolkan dengan pencapaian teknologi digital," ujar seniman penggagas dan pembuat Garuda Wisnu Kencana (GWK), Nyoman Nuarta.

BACA JUGA: Epson Luncurkan Deretan Printer Ink Tank L-Series Terbaru

Sementara itu Shimizu Tomoya, Direktur PT Epson Indonesia mengatakan proyektor Laser Epson menggunakan teknologi 3LCD dengan panel LCD dan roda fosfor inorganik penuh pertama untuk industri dengan tingkat kecerahan putih dan warna yang sama hingga 25.000 lumens dan kontras rasio hingga 2.500.000:1.

"Yang terbukti mampu menghasilkan warna yang alami, nyaman di mata dan tidak menghasilkan efek pelangi. Dengan teknologi tersebut, Epson secara terus-menerus mendukung para pelaku industri kreatif dengan memperkaya kreatifitas seniman Indonesia terutama di bidang visual," jelas Shimizu.

BACA JUGA: Produk Baru Epson, Penuhi Target 30 Persen

Proyektor Laser Epson dengan rentang kecerahan lebih dari 8000 lumens memungkinkan penyesuaian warna secara otomatis dengan built-in kamera yang bisa mendeteksi layar yang mempunyai warna tidak seimbang, memungkinkan proyektor secara otomatis mengkoreksi warna melalui kalibrasi.

Proyektor Epson telah dilengkapi dengan fitur edge-blending, geometryc correction, dan kemampuan melakukan kalibrasi warna secara otomatis dengan memanfaatkan kamera yang sudah tertanam pada proyektor Epson.

Dia mengatakan Proyektor Epson sudah dipercaya dalam berbagai aplikasi, di bidang pendidikan dan perkantoran dengan interactive projector, restoran dan ritel, serta aplikasi video mapping di berbagai tempat seperti Benteng Kuto Besak, Museum Fatahillah, Konser Musik, dan sebagainya.

“Kami percaya bahwa line up teknologi Epson menjadi yang terdepan selama ini. Epson memiliki line up teknologi proyektor laser yang terbaru. Selain itu, kemampuan lini produk proyektor Epson sudah teruji pada acara-acara besar yang diselenggarakan di berbagai tempat di Indonesia, seperti di Candi Prambanan. Dengan track record yang dimiliki Epson, kami percaya bahwa produk ini bisa menjadi rekanan kerja yang paling tepat untuk acara kami.” Ungkap Bapak Nyoman Nuarta.

Garuda Wisnu Kencana

GWK berangkat dari ajaran setempat, Hindu Bali. Dewa Wisnu dalam ajaran itu ditempatkan sebagai pemelihara dan penjaga alam semesta beserta isinya. Sementara Garuda secara mitologis menjadi simbol pengabdian kepada ibu dan perempuan.

Garuda menyelamatkan ibundanya dari perbudakan para naga dan memperoleh air suci Tirta Amerta dari Dewa Wisnu.

Sejak itulah Garuda mengabdi sebagai “kendaraan” Wisnu. Dalam sejarah Nusantara, Garuda Wisnu menjadi simbol dari keagungan Raja Airlangga di Kerajaan Kediri. Airlangga bahkan disebut-sebut sebagai titisan dari Dewa Wisnu.

Akhir 1989 sampai awal 1990, Gubernur Bali Prof dr Ida Bagus Oka punya ide untuk membuat patung garuda di Bandara Internasional Ngurah Rai, sebagai ikon Pulau Bali.

Ide ini lantas disampaikan kepada Dirjen Pos dan Telekomukasi Joop Ave, yang secara spontan setuju dengan ide itu.

Keduanya kemudian bertemu seniman patung Nyoman Nuarta. Setelah berdiskusi ketiganya kemudian sepakat menggunakan lahan non-produktif yang selama ini hanya dijadikan tambang oleh rakyat, yakni perbukitan kapur di selatan Bali.

Nuarta punya ide untuk membuat patung Garuda Wisnu Kencana dengan ukuran yang besar.

Waktu itu dia sedang menyelesaikan pembuatan patung Jalesveva Jayamahe di pangkalan TNI Angkatan Laut di Surabaya.

Seiring perjalanan waktu Joop kemudian menjadi Menteri Pariwisata Pos dan Telekomunikasi, kemudian dilibatkan pula Menteri Pertambangan dan Energi Ida Bagus Sudjana.

Keempat tokoh ini kemudian menghadap Presiden Soeharto. Presiden kemudian memberi dukungan.

Maka pada 1997 di tengah ancaman krisis moneter yang melanda dunia, ground breaking GWK dilakukan oleh Joop Ave.

Kemudian tahun 2000 digelar GWK Expo dengan maksud menarik investor yang bersedia berinvestasi di kawasan yang kemudian dikenal sebagai Garuda Wisnu Kencana Cultural Park.

Di dalam kawasan yang direncanakan seluas 200 hektar ini tak hanya terdapat patung sebagai ikonnya, tetapi juga berbagai fasilitas kebudayaan seperti ruang pameran, museum, galeri, gedung pertunjukan, arena pentas budaya, restoran, dan ruangan konvensi.

“Ini akan jadi taman kebudayaan,” kata Nuarta.

Ide dasarnya, Nuarta ingin membuat mahakarya yang menjadi simbol pencapaian peradaban manusia modern dari Timur.

Jika dalam soal teknologi dan ekonomi Indonesia tidak bisa bersaing di mata dunia, maka Indonesia bisa berbangga dalam pencapaian kebudayaannya.

Dia berharap GWK menjadi simbol pencapaian peradaban manusia modern. Selain itu juga ingin membuat ikon baru pariwisata dunia.

Selama ini Bali hanya mengandalkan destinasi-destinasi wisata yang mereka warisi dari para leluhur, seperti keberadaan berbagai pura di pulau itu.

Dalam perjalannya GWK mengalami banyak hambatan, terutama kekurangan dana. Nyoman Nuarta yang awalnya membentuk PT GAIN dan Yayasan Garuda Wisnu Kencana, kesulitan membiayai proyek ini.

Beberapa tahun GWK terkatung-katung, sampai akhirnya PT GAIN diakuisisi oleh PT Alam Sutera Realty Tbk tahun 2013.

Maka pada bulan Agustus 2013 kembali dilakukan ground breaking dengan memindahkan lokasi patung GWK.

Oleh karena telah menjadi ikon, patung tubuh Wisnu yang terpasang di area semula tetap dibiarkan seperti sedia kala.

Nyoman Nuarta sepenuhnya membuat patung baru dari awal. Akhirnya setelah 5 tahun berjalan patung GWK secara resmi akan dilaunching Sabtu, 4 Agustus 2018.

Status kepemilikan GWK Cultural Park kini berada di tangan PT Alam Sutera Realty Tbk.

Nyoman Nuarta kini hanya bertugas menyelesaikan pembangunan karyanya menjadi patung yang utuh.

Secara umum keberadaan GWK di Bali mengandung pesan, bahwa Indonesia telah menancapkan pesan penting kepada dunia bahwa kita berdaulat secara kebudayaan.

GWK adalah pencapaian peradaban modern bangsa ini, sekaligus ikon baru pariwisata Nusantara. Selama ini destinasi pariwisata di Bali selalu mengandalkan peninggalan leluhur beberapa abad yang lalu.

“GWK dilahirkan sebagai ikon baru pariwisata Bali dan Indonesia. Kawannya akan menjadi pusat kegiatan kebudayaan dunia,” kata Nyoman Nuarta. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Epson dan Agate Studio Kolaborasi di Bekraf Game Prime


Redaktur & Reporter : Natalia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler