Gawat, Daerah Ini Krisis Air

Minggu, 04 Desember 2016 – 11:15 WIB
ILUSTRASI. FOTO: Dok. Timor Express/JPNN.com

jpnn.com - MATARAM - Kerusakan lingkungan yang menyebabkan krisis air menjadi masalah serius Provinsi NTB. Meski belum menunjukkan dampak secara masif, tapi lambat laun bisa menghancurkan kehidupan masyarakat di dalamnya.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) NTB Wedha Magma Ardhi mengatakan, indeks kebutuhan air di NTB sudah kritis. Ia menyebutkan potensi air di NTB mencapai 9 miliar meter kubik lebih. Dari jumlah itu yang sudah bisa dikelola baru sekitar 6 miliar meter kubik. Tugas bersama saat ini adalah bagaimana mencegah krisis air terus terjadi.

BACA JUGA: Singapura Kerahkan Helikopter dan Fokker Sisir dari Udara

Menurutnya, hal ini bisa dilakukan melalui berbagai langkah. Terutama menyelesaikan persoalan-persoalan hulu, seperti penebangan liar. Karena hal ini bisa menyebabkan kemampuan alam menahan air menjadi menurun. Sehingga air itu langsung mengalir ke sungai dan terbuang ke laut. "Ini tantangan kita semua bahwa permasalahan air ini dari hulu sampai hilir,” katanya.

Tugas PU adalah bagaimana mengamankan air dari sungai sampai ke muara. Termasuk bagaimana mengatasi daya rusak air tersebut. Jika melihat secara faktual, dampak krisis air ini sudah mulai dirasakan seperti beberapa wilayah di NTB setiap tahun mengalami kekeringan. "Itu adalah indikator air kita ini kritis,” ujarnya seperti dilansir Lombok Post (Jawa Pos Group).

BACA JUGA: 20 Anggota Polri Dipecat, Ini Penjelasan Kapolda

Selain itu, juga semakin dalamnya sumur-sumur penduduk dan semakin menurunnya kuantitas serta kualitas mata air di NTB. Semakin banyak sungai menjadi keruh. "Itu satu bentuk menurunnya ketersediaan air bersih,” jelas Ardhi.

Sementara di wilayah perkotaan, krisis air ini juga ditandai dengan meningkatnya omzet penjualan air mineral kemasan. Ini menunjukkan bahwa air bersih alami semakin menurun kualitasnya, tapi bisa juga karena keraguan warga atas kualitas air. Lima tahun lalu, aliran air PDAM masih cukup kencang, tapi sekarang sudah menurun drastis.  

BACA JUGA: Oalah! Satpol PP Berulah Lagi

"Semua fakta tersebut merupakan indikator di lapangan yang bisa kita lihat dampak dari krisis air,” katanya.

Penggunaan air bawah tanah yang tidak terkendali juga menjadi masalah serius di perkotaan. Hal ini terjadi di Kota Mataram. Pengeboran air bawah tanah lambat laun bisa menyebabkan lapisan tanah menurun, sedangkan permukaan air semakin naik. Setiap 1 sentimeter tanah menurun, 3 sentimeter permukaan air laut naik.

"Lama-lama kita bisa tenggelam,” ungkap Ardhi.  

Ia menyebutkan, indeks kebutuhan air di Pulau Lombok saja sudah mencapai 76 persen. Artinya, jika dihitung 76 persen sudah kritis. Sementara di Pulau Sumbawa indeks kebutuhan air hanya 29 persen, artinya masih sedikit potensi air yang digunakan.

Sementara itu Kepala Balai Informasi Sumber Daya Air Dinas PU NTB H Masnun Masbullah menjelaskan, potensi air di NTB dibagi dalam dua kelompok. Pertama potensi air di Pulau Lombok kurang lebih 5 miliar kubik. Sedangkan andalan air yang tersedia sebesar 2,8 miliar kubik, dari andalan ini yang sudah terpakai 2,1 miliar atau sudah terpakai 76 persen, selisihnya sangat sedikit sehingga dikatakan kritis air bersih.

”Kebanyakan air di Pulau Lombok ini untuk pertanian, sekitar 66 persen,” katanya.

Sedangkan di Sumbawa memiliki potensi air 15 miliar kubik, andalan air yang tersedia sebanyak 6,4 miliar, tapi yang terpakai baru 1,8 miliar sehingga masih surplus air. Surplus air di Sumbawa ini dimanfaatkan dengan memperbanyak infrastruktur pengelolaan sumber daya air. Air yang digunakan untuk pertanian baru 54 persen.

Untuk menunjang krisis air di NTB ini, sudah ada 2.237 embung rakyat dan 10 bendungan besar yakni Bendungan Meninting,  Mujur, Pandanduri, Bintang Bano, Krekeh, Rababaka, dan Bendungan Labangka. Kondisi airnya menyusut saat musim kemarau, tapi masih ada beberapa yang berfungsi dengan baik. "Secara umum kondisi bendungan sudah sangat tua,” katanya.

Karena air sudah menjadi komoditi, dikhawatirkan hal ini bisa menjadi penyebab konflik sosial ke depan. Untuk itu, solusi untuk mengatasi krisis air ini adalah water treatment plan dan penyulingan air laut ke depan sangat dibutuhkan. Di samping itu, pemerintah dan warga harus tetap menjaga kelestarian alam, tidak menebang hutan dan sebagainya.(JPG/ili/r7/fri/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Seru dan Indahnya Ajang Banyuwangi Ijen Green Run


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler