Gempa dan Tsunami Setinggi 29 Meter Mengancam Selatan Jatim, Khofifah: Antisipasi Skenario Terburuk

Minggu, 19 Desember 2021 – 02:13 WIB
Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa mengunjungi rumah warga yang terdampak gempa bumi di Kecamatan Ambulu, Kabupaten Jember, Sabtu (18/12/2021). ANTARA/HO-Biro Adpim Pemprov Jatim

jpnn.com, JEMBER - Gubernur Jawa Timur (Jatim) Khofifah Indar Parawansa merespons peringatan BMKG tentang potensi gempa besar dan tsunami di selatan provinsi itu.

Khofifah meminta pemerintah daerah di sepanjang selatan Jarim memperkuat mitigasi bencana gempa dan tsunami.

BACA JUGA: Waspada, Gempa dan Tsunami Setinggi 29 Meter Mengancam Selatan Jawa Timur

"Selama kurun lima tahun terakhir, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika mencatat aktivitas kegempaan di wilayah tersebut mengalami peningkatan," kata Khofifah saat meninjau wilayah terdampak gempa di Jember, Sabtu (18/12).

BMKG mencatat, jumlah gempa bumi dengan beragam magnitudo di Jatim sepanjang 2013-2015, terjadi sekitar 230 kali per tahun.

BACA JUGA: Kapolri Bereaksi atas Kemunculan Tagar #PercumaLaporPolisi hingga #NoViralNoJustice

Namun, periode 2016-2020, jumlahnya meningkat menjadi lebih dari 450 kali setahun dengan frekuensi tertinggi 655 kali, yaitu pada 2016.

"Kepada kepala daerah mohon untuk segera melakukan audit kelayakan konstruksi bangunan dan infrastruktur, penyiapan jalur dan sarana prasarana evakuasi yang layak dan memadai," ucap Khofifah.

BACA JUGA: Begini Nasib RD yang Ditangkap Polisi di Jalan Ketintang Surabaya

Mantan Menteri Kesehatan RI itu mengatakan penguatan mitigasi harus dilakukan guna meminimalisir dampak dapat terjadi, jika sewaktu-waktu gempa dan tsunami menghantam selatan Jatim.

Pemda menurutnya harus menyiapkan rencana aksi dengan berbagai skenario, dari yang ringan hingga antisipasi yang terburuk. Baik itu jalur evakuasi, proses evakuasi, dan pola penanganan pengungsi jika bencana terjadi.

Selain itu, penguatan literasi bencana bagi masyarakat harus dilakukan supaya tahu yang mesti dilakukan saat terjadi bencana.

Khofifah menyatakan masyarakat juga harus mengerti bahwa di daerahnya berpotensi terjadi tsunami.

"Gempa sebenarnya sudah menjadi early warning system, sehingga sosialisasi tentang mitigasi bencana harus ditingkatkan karena masyarakat harus bisa melakukan evakuasi mandiri," ucapnya.

Sebab, kata eks Menteri Pemberdayaan Perempuan itu, kemungkinan jarak dari gempa ke tsunami biasanya hanya 20 menit saja, sehingga tidak akan terjangkau oleh sukarelawan.

BACA JUGA: Ridwan Kamil: Saya Mancing Ikan, Wali Kota Depok Mancing Keributan

Sebelumnya, Kepala Pusat Seismologi Teknik BMKG Rahmat Triyono mengingatkan adanya potensi gempa bumi berkekuatan besar di selatan Jatim, sehingga diperlukan persiapan sejak dini.

Hal itu disampaikan Rahmat saat mendampingi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa melakukan kunjungan kerja ke wilayah terdampak gempa di Kabupaten Jember.

"Skenario terburuk ada di selatan Jawa dengan skala VI VII MMI. Potensi kerusakannya luar biasa dan bisa menimbulkan tsunami sampai 29 meter," ungkap Rahmat.

BACA JUGA: Begini Nasib Oknum Polisi Pencuri Uang Sitaan Kasus Narkoba Senilai Rp 650 Juta, Hmmm

Dia bahkan menyebut potensi gempa tersebut akan menyebabkan kerusakan yang berdampak ke 200 kilometer-250 kilometer bibir pantai. (ant/fat/jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler