Gempar! Ditembak dari Jarak Dekat, Terbongkar berkat Medsos

Minggu, 10 Juli 2016 – 06:12 WIB
Gelombang aksi unjuk rasa mengecam tragedi kematian Alton Sterling dan Philando Castile. Foto: AFP

jpnn.com - REKAMAN video tentang peristiwa tewasnya warga kulit hitam di tangan polisi kulit putih, beredar luas di internet. 

Media sosial ramai mengomentari insiden tersebut dan membumbuinya dengan kata rasis. Lantas, gelombang unjuk rasa bermunculan. Pola seperti itu seakan sudah semakin baku di Negeri Paman Sam. 

BACA JUGA: Duta Indonesia Tetap Semangat Mengemban Misi PBB di Afrika

Dua video memperlihatkan detik-detik kematian Alton Sterling dan Philando Castile di tangan polisi. Meski terjadi di dua kota berbeda, dua insiden itu terjadi hampir bersamaan. 

Sterling meregang nyawa setelah dua polisi membekuknya di area parkir Triple S Food Mart di Kota Baton Rouge, East Baton Rouge Parish, Negara Bagian Louisiana. Dari jarak dekat, salah seorang polisi menembak mati pria 37 tahun itu. 

BACA JUGA: Ternyata Pelaku Bom Madinah itu Pecandu Narkoba

Pada waktu hampir bersamaan, Castile juga tewas di tangan polisi. Pria 32 tahun yang diberhentikan polisi karena lampu belakang mobilnya mati itu juga ditembak dari jarak dekat. Insiden di Kota Minneapolis, Hennepin County, Negara Bagian Minnesota, tersebut diabadikan lewat kamera ponsel kekasih korban, Diamond Reynolds. 

Saat itu, ibu satu anak tersebut berada di dalam mobil dan menyaksikan langsung Castile roboh ke tanah. 

BACA JUGA: Inilah Pelaku Bom di Madinah

Baton Rouge dan Minneapolis hanyalah dua dari sejumlah kota AS yang menjadi saksi kekerasan rasis polisi. 

Sedikitnya, ada empat kota lain yang juga memiliki catatan khusus kriminalitas polisi terhadap kulit hitam. Yakni, Ferguson, Missouri, Baltimore, dan New York. Di kota-kota tersebut, ada banyak kasus kekerasan oleh polisi terhadap warga kulit hitam. Baik itu yang berujung kematian maupun tidak.

’’Yang membuat polisi terlihat brutal atau bersalah adalah interpretasi. Dan, sejauh ini, hanyalah para petinggi polisi yang berhak menginterpretasikannya,’’ kata Christopher Schneider, dosen ilmu sosiologi di Brandon University Kanada, kemarin (9/7). 

Namun, peran media sosial dan internet lambat laun mulai mengubah semua itu. Apalagi, kini masyarakat aktif dan sigap mengabadikan kekerasan semacam itu.

Hadirnya rekaman video dan bukti berupa gambar yang disebarluaskan secara online memaksa aparat untuk bertindak. Mereka tidak lagi bisa berkelit atau mengabaikan kasus yang melibatkan rekan mereka sendiri. 

’’Media sosial dan smartphone membuat kasus-kasus semacam itu mau tak mau tersorot publik,’’ kata pengarang buku Policing and Social Media tersebut. 

Schneider yakin era digital akan membuat polisi berubah. Setidaknya, menjadi lebih transparan dalam menangani kasus-kasus besar. Yakni, kasus yang menuai perhatian masyarakat luas dan terekam di media sosial. Sebab, kaum minoritas maupun mayoritas punya suara yang sama di dunia maya. 

’’Akan terjadi perubahan kebijakan yang signifikan. Ini sejarah,’’ katanya. (AFP/theindependent/hep/c17/any)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Warga Singapura Sempat Khawatir, Dikira Ada Aksi Teroris


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler