Gempuran Amerika Tak Akan Hentikan Serangan Kimia di Syria

Minggu, 15 April 2018 – 08:07 WIB
Pusat riset Syria hancur setelah dibombardir pesawat Amerika Serikat dan sekutunya, Sabtu (14/3). Foto: AP

jpnn.com - AS akan keluar dari Syria secepatnya. Kalimat itu dilontarkan Presiden AS Donald Trump 29 Maret lalu di Ohio. Selang 15 hari kemudian alias Jumat (13/4), Trump berubah pikiran. Bersama dengan Inggris dan Prancis, presiden ke-45 AS itu mengerahkan pasukannya untuk menyerang Syria.

Negara-Negara sekutu itu menggunakan alasan polisional untuk melegitimasi serangan mereka. Yakni, bentuk balasan atas penggunaan senjata kimia oleh rezim Bashar Al Assad di Douma, Eastern Ghouta, 7 April.

BACA JUGA: Menakar Kekuatan Para Penebar Maut di Syria

Nah, serangan yang terjadi pada Jumat (13/4) itu diperkirakan akan berbuntut panjang. Perang yang mulai mereda akan kembali berkobar.

Sekutu-sekutu Syria seperti Iran dan Rusia tidak akan tinggal diam. Begitu pula Hizbullah dari Lebanon yang merupakan kepanjangan tangan Iran.

BACA JUGA: Prancis Sudah Lama Ngebet Bombardir Syria, Ini Alasannya

Syria juga diyakini tidak akan menghentikan aksi kejinya begitu saja meski sudah dibombardir AS dan sekutunya.

”Serangan itu tidak akan mencegah Assad untuk terus membantai penduduknya yang melawan dengan menggunakan senjata konvensional,” ujar analis di Institute for the Study of War Jennifer Cafarella seperti dilansir CNN.

BACA JUGA: Amerika Serikat, Inggris dan Prancis Bombardir Syria

Selama Assad masih ada, serangan senjata kimia sangat mungkin bisa dilakukan lagi. Sejarah mencatat, Syria melakukan serangan senjata kimia April tahun lalu di Khan Sheikoun.

Ketika itu AS menjatuhkan misil serta bom sebagai pembalasan. Hasilnya, serangan senjata kimia tetap terulang. (sha/c10/dos)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bongkar Kejahatan Assad, AS Selundupkan Mayat ke Jordania


Redaktur & Reporter : Adil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler