Glock 17, Senjata Andal Karya Perekayasa Tak Paham Pistol

Sabtu, 30 Juli 2022 – 07:56 WIB
Senjata genggam atau pistol Glock 17. Foto: glock.com

jpnn.com, JAKARTA - Belakangan ini senjata api Glock 17 menjadi perbincangan. Pistol rancangan perekayasa asal Austria Gaston Glock itu disebut-sebut sebagai senjata yang dipakai oleh Bharada E dalam baku tembak di rumah Irjen Ferdi Sambo.

Glock 17 merupakan senjata genggam yang melegenda. Paul M Barret dalam bukunya yang laris, Glock: The Rise of America's Gun, membeber keandalan pistol tersebut.

BACA JUGA: Pistol Glock 17, Sejarah, Spesifikasi, dan Harganya

Pistol buatan Glock tetap berfungsi baik meski jatuh ke air, dilemparkan dari ketinggian, bahkan setelah dikubur salju. "Bisa diandalkan, akurat, ringan, dan lebih murah diproduksi daripada revolver Smith and Wesson," tulis Barret.

Penulis cum analis pertahanan dan keamanan nasional Kyle Mizokami menyebut Glock 17 mungkin pistol terbaik di dunia. Melalui tulisan di laman National Interest, dia menyebut saat ini Glock 17 merupakan pistol yang paling banyak digunakan oleh polisi di seluruh dunia.

BACA JUGA: Timsus Bakal Ungkap Pemilik Senpi Glock yang Digunakan Bharada E Tembak Brigadir J

Mizokami mencatat Glock 17 diperkenalkan pada 1982 bersamaan ketika militer di banyak negara memperbarui pistol peninggalan era 1940-an dan 1950-an.

Angkatan Bersenjata Austria (Bundesheer) punya peran penting melambungkan Glock 17. Pada 1977, Bundesheer baru saja memakai senapan Steyr Armee Universal Gewehr (AUG).

BACA JUGA: Bharada E Pegang Glock Saat Baku Tembak, Bambang Soroti Pemberi Rekomendasi 

Namun, Bundesheer mau membekali personelnya dengan pistol baru yang lebih modern. Gaston Glock mendengar rencana itu dari pebincangan  dua kolonel Bundesheer.

Memang Gaston pernah mengikuti pelatihan wajib militer selama 2-3 hari di Angkatan Bersenjata Nazi-Jerman (Wehrmacht). Namun, hal itu tak membawa manfaat praktis baginya, bahkan pria kelahiran 19 Juli 1929 itu tidak tahu apa pun mengenai pistol.

Pada awal 1980-an, Gaston yang menjalankan bisnis kecil di bidang produksi pisau dan bilah untuk tentara Austria berinisiatif merancang pistol yang taktis, ringan, dan andal. Dia bertanya kepada menteri pertahanan Austria saat itu apakah perusahaannya bisa ikut bersaing dalam pengadaan pistol baru itu.

Ternyata menteri pertahanan Austria memberi lampu hijau untuk Gaston. Pria yang buta akan pistol itu pun membeli senjata genggam Baretta 92F buatan Italia, Sig Sauer P220 (produksi Swiss-Jerman), CZ75 (dari Ceko), serta Walther P-38 dan P-1 andalan Jerman di Perang Dunia II.

Gaston secara tekun mempelajari berbagai pistol itu. Dia meneliti bagaimana pistol bekerja dan cara mendesainnya.

Tentu saja pendiri Glock Ges.m.b.H itu berkonsultasi dengan para ahli senjata genggam, termasuk meminta saran tentang pistol masa depan yang dibutuhkan militer. Ternyata tentara Austria menginginkan pistol berkapasitas amunisi lebih banyak ketimbang Walther P-38 yang hanya delapan peluru. 

Selain itu, Bundesheer membutuhkan pistol yang enteng dengan berat kurang dari 28 ons, berdesain ramping, dan tarikan pelatuk enteng yang ajek. Masih ada syarat lain, yakni bagian-bagian pistol tidak boleh lebih dari 40. 

Akhirnya, setelah melakukan berbagai uji coba dan pengembangan beberapa tahun, Gaston membuat pistol rancangannya dan mematenkannya pada 30 April 1981.

Pada 19 Mei 1982, Gaston menyerahkan empat sampel pistol buatannya ke Bundesheer. 

Pistol yang kemudian dikenal dengan Glock 17 itu langsung mengalahkan kandidat lain.

Glock 17 betul-betul kuat dan ringan. Berbahan polimer, berat Glock 17 hanya 23 ons atau sekitar 652 gram.

Jika dipereteli, Glock 17 hanya menjadi 34 bagian. Kompetitornya, seperti Baretta 92F, punya lebih dari 70 bagian.

Akurasi Glock 17 juga lebih baik ketimbang pistol lain. Gaston merancang senjata genggam itu memiliki ‘pointability’ bagus.

Pointability merupakan istilah untuk menggambarkan tingkat kemampuan pistol dikoordinasikan dengan tangan dan mata penggunanya. Soal pointability, Glock 17 jauh di atas Walther P-38.

Dalam proses uji coba daya tahan, Glock 17 mampu menembakkan 10.000 peluru selama 20 jam dan hanya sekali gagal. Singkat kata, pada saat itu Glock 17 langsung dianggap ‘the best’ alias yang terbaik dibandingkan pistol lain.

Militer Austria langsung kesengsem dengan Glock 17. Gaston pun mengantongi kontrak pengadaan 20 ribu Glock 17 untuk  Bundesheer.

Setelah Austria, negara lain yang menggunakan Glock 17 untuk angkatan bersenjatanya ialah Norwegia pada 1984. Pada 1988, militer Swedia juga menjadi pengguna Glock.

Kedigdayaan Glock 17 kian mendunia. Dalam tempo 35 tahun, Glock 17 merajai pasar pistol.

Pengguna Glock 17 pun bejibun, antara lain, Angkatan Darat Inggris, militer Belanda, tentara Irak dan Yaman, pasukan khusus India, bahkan Israeli Defense Forces  (IDF). 

US Army Rangers dan Marine Corps Forces Special Operations Command menggunakan varian Glock 17, yakni Glock 19. Varian lain Glock 17 ialah Glock 22 yang digunakan Delta Force.

Glock 17 juga menjadi senjata genggam andalan polisi di berbagai negara. Ratusan negara menggunakannya untuk kepolisian mereka. 

Awalnya Gaston Glock tidak bermaksud mengambil alih pasar pistol dunia. Perhatiannya hanya bagaimana menyediakan pistol yang mudah digunakan, sederhana, dan andal untuk tentara Austria.

Namun, dunia telah memutuskan bagaimana menyambut kehadiran Glock 17. Gaston Glock memberikan pelajaran penting bagi para kontraktor pertahanan di mana-mana. “Seluruh dunia hanya memutuskan apa yang dia jual,” ujar Mizokami dalam artikelnya. (jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : M. Kusdharmadi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler