Gloria Natapradja, Pagi Menangis Melihat Arjuna, Akhirnya Senyum

Kamis, 18 Agustus 2016 – 05:47 WIB
Gloria Natapradja Hamel, anggota Paskibraka 2016 bersiap menjadi penjaga gordon di Istana Merdeka jelang upacara penurunan bendera, Rabu (17/8/2016). FOTO: IMAM HUSEIN/JAWAPOS

jpnn.com - UPACARA penurunan bendera peringatan HUT Ke-71 Kemerdekaan RI di Istana Merdeka kemarin sore bakal dikenang seumur hidup oleh Gloria Natapradja Hamel.

BAYU PUTRA-NURIS ANDI, Jakarta

BACA JUGA: Yuddy Temani Anak Sarapan, Rizal Nikmati Musik Jazz

Gloria akhirnya bisa tampil dalam prosesi ’’sakral’’ di depan Presiden Jokowi dan para petinggi negeri lainnya. Padahal, dia sebelumnya sempat didiskualifikasi dari Paskibraka karena diketahui berpaspor Prancis, negara bapaknya.

Setelah ramai menjadi pembicaraan di media dan mendapat dukungan dari berbagai pihak, akhirnya istana memutuskan melibatkan kembali Gloria dalam tugas Paskibraka. Gloria pun mendapat tugas sebagai pasukan penjaga gordon. Yakni, Paskibraka yang ditempatkan di beranda Istana Merdeka. 

BACA JUGA: Anies Baswedan: Tuhan Memiliki Rencana yang Misterius

Mereka berdiri berjajar di sepanjang tepi karpet merah yang dilalui presiden dan wakil presiden menuju podium utama. Saat presiden lewat, mereka harus memberikan hormat. 

Maka, tak heran bila siswa SMA Islam Dian Didaktika Cinere, Depok, Jawa Barat, itu kemarin tampak semringah. Wajahnya terus mengembangkan senyum. Dia pun menjadi pusat perhatian para undangan dan wartawan yang membidikkan kamera ke wajah indonya. 

BACA JUGA: Para Prajurit Cantik Harus Tes Jantung Sebelum Tampil di Istana Merdeka

Perjalanan Gloria di tim Paskibraka bak roller coaster. Dia terpilih sebagai anggota Paskibraka istana mewakili Jawa Barat setelah melalui seleksi ketat. Tapi, menjelang hari H pelaksanaan upacara, dia didiskualifikasi karena kepemilikan paspor Prancis. Nah, kemarin pagi perubahan statusnya itu kembali terjadi. 

Saat upacara pengibaran bendera di Istana Merdeka, dia tetap datang meski tidak bertugas. Dia hadir sebagai undangan Menpora Imam Nahrawi. Dia datang dengan mengenakan baju batik cokelat dan rok selutut berwarna senada.

Menjelang upacara berlangsung, dia dipanggil untuk menyaksikan penampilan rekan-rekannya dari dalam ruang Wisma Negara. Kemudian, seusai upacara, dia dipanggil ke Istana Merdeka. Hampir sejam dia berada di dalam istana. Tak lama kemudian, dia keluar bersama Menpora untuk menemui para awak media.

Ekspresi gembira tampak jelas di wajah gadis kelahiran 1 Januari 2000 itu. Ternyata dia baru saja bertemu Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla. Dari pertemuan itu, Gloria mendapat kabar bahwa dirinya akan kembali dimasukkan ke Paskibraka dan bertugas dalam upacara penurunan bendera sorenya.

’’Bangga banget. Presiden sempat memberikan pesan agar saya harus terus semangat,’’ cerita Gloria dengan senyum berbinar.

Gloria menceritakan proses pertemuannya dengan presiden. Saat dia bertemu, presiden memberikan ucapan selamat. ’’Bapak Presiden mengatakan, ’Ini dia nih yang terkenal banget di TV’, sambil ketawa,’’ ucapnya lugu. 

’’Saya bilang ke Bapak Presiden, terima kasih sudah mengizinkan saya ikut dalam Paskibraka lagi,’’ imbuhnya.

Begitu pula saat bertemu Wapres Jusuf Kalla (JK). Malah, Wapres-lah yang pertama membolehkan Gloria ikut upacara penurunan bendera sore harinya. ’’Pak JK yang awalnya mengizinkan saya ikut upacara tadi (sore, Red),’’ lanjutnya.

Bukan hanya dua petinggi negeri itu yang memberikan dukungan kepada Gloria. Ibu Negara Iriana Jokowi dan Presiden Ke-5 Megawati Soekarnoputri juga sempat menyalaminya. 

Saat diberi tahu terkena diskualifikasi, Gloria sempat pasrah tidak bisa tampil bersama rekan-rekannya. Dia bahkan sempat menangis saat melihat Tim Arjuna yang bertugas pagi tampil. Sebab, selama ini dia berlatih dengan tim itu. 

Gloria mengakui, peristiwa tersebut membawa banyak hikmah. Menurut dia, kunci utama dalam setiap usaha adalah jangan pernah patah semangat. 

Juga, setiap kegagalan pasti menyertakan peluang untuk bangkit kembali. ’’Jika orang bersabar, pasti dia akan mendapatkan yang terbaik,’’ ucapnya.

Dia menambahkan, saat dirinya bertugas, sang ibu sedang terbaring sakit. Sang ibu pun sangat gembira begitu mendengar kabar bahwa Gloria diperbolehkan ikut kembali dalam Paskibraka dan bertugas dalam upacara penurunan bendera. ’’Mama seneng banget,’’ ujarnya.

Sementara itu, Menpora Imam Nahrawi mengatakan, sejak awal pihaknya memang berusaha agar Gloria tetap bisa menjadi bagian dari Paskibraka 2016. Kesempatan tersebut akhirnya datang setelah presiden dan wakil prwsiden meminta Menpora untuk mencarikan solusi terbaik bagi Gloria. 

Imam memuji ketangguhan mental Gloria sebagai seorang pemuda. ”Dia begitu tenang dan sabar menghadapi tekanan sepanjang lima hari ini,” terangnya.

Karena itu, Imam kemudian mendapuk Gloria sebagai duta Kemenpora yang akan turun dalam berbagai program andalan Kemenpora. Tujuannya, pemuda-pemudi Indonesia bisa mencontoh ketegaran dan pantang menyerah seperti Gloria.

Seperti diketahui, Gloria menjadi buah bibir karena didiskualifikasi dari keikutsertaannya sebagai anggota Paskibraka menjelang hari H pelaksanaan upacara. Garnisun Tetap I/Jakarta mendiskualifikasi Gloria karena gadis 16 tahun itu ternyata berkewarganegaraan Prancis. 

Ayah Gloria, Didier Hamel, berstatus WNA (warga negara asing) berkebangsaan Prancis. Sedangkan ibunya, Ira Natapradja, adalah WNI.

Status Gloria diketahui saat dia dan kawan-kawannya diminta mengumpulkan paspor. Paspor tersebut dipakai untuk persiapan melawat ke negeri tetangga dalam rangka program duta belia. Rupanya, Gloria hanya punya paspor Prancis plus surat izin tinggal di Indonesia hingga 2021. Status Gloria tersebut dipersoalkan pihak garnisun selaku penanggung jawab upacara.

Berdasar UU Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan, sebenarnya Gloria masih diperbolehkan memiliki kewarganegaraan ganda sebelum berusia 18 tahun. Namun, karena lahir sebelum 1 Agustus 2006, dia dikenai kewajiban mendaftarkan diri sebagai WNI di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia.

Sayang, hingga batas waktu pendaftaran pada 1 Agustus 2010, orang tuanya tidak kunjung mendaftarkan namanya ke Kemenkum HAM. ’’Ini kan bukan kesalahan Gloria,’’ ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung setelah upacara kemarin. Apalagi, lanjut dia, tampak sekali nasionalisme gadis yang lahir di Jakarta terhadap negara ibunya itu.

Pramono menjelaskan, negara memberikan ruang untuk siswa-siswa berprestasi seperti Gloria. Karena itulah, ketika mendapati persoalan kewarganegaraan menghambat Gloria menjadi anggota Paskibraka, presiden dan wakil presiden meminta panglima TNI dan Menpora mencari jalan keluar. ’’Menkum HAM melihat ternyata juga bisa (dicarikan jalan, Red),’’ kata Pramono.

Sepatu Dahlan

Anggota Paskibraka lainnya yang menjadi pusat perhatian adalah Nilam Sukma Pawening. Siswi SMAN 67 Jakarta itu mendapat tugas penting: menjadi pembawa baki bendera di Tim Arjuna, yang bertugas pada upacara detik-detik proklamasi kemarin pagi. 

Seperti halnya Gloria, raut wajah girang bercampur lega tidak mampu dia sembunyikan begitu tugas selesai dengan lancar. Dia masuk Wisma Negara dan langsung berpelukan dengan kawan-kawan. 

Nilam mengaku tak menyangka akhirnya tugas membawa baki bendera yang akan dikibarkan jatuh ke tangannya. Apalagi, penetapannya baru diumumkan pukul 07.00, tiga jam sebelum upacara. ”Memang nggak nyangka. Sebab, selama pelatihan, pembawa baki selalu di-rolling,” ujarnya. 

Nilam bercerita, perjalanannya menjadi anggota Paskibraka 2016 tak bisa dilepaskan dari sosok idolanya. Dia mengungkapkan, semangatnya menyala-nyala karena inspirasi yang diberikan mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan. 

”Perjuangan beliau itu bener-bener hebat banget. Beliau bisa bangkit saat ibunya sakit,” ucap dara kelahiran 19 Oktober 2000 tersebut.

Ya, Nilam terinspirasi Dahlan Iskan setelah membaca novel Sepatu Dahlan gubahan Khrisna Pabichara. Novel itu kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama. 

Nilam mengaku mendapat pelajaran berarti dari perjuangan Dahlan kecil yang ingin bisa membeli sepasang sepatu sendiri. Putri pasangan Istohari dan Suwarti tersebut menceritakan, Dahlan sampai rela bertahan melawan rasa sakit saat memakai sepatu yang sempit kala bermain voli di sekolah.

Nilam punya keinginan untuk bisa bertemu langsung dengan Dahlan Iskan. ”Saya mau bilang kepada beliau bahwa hidup saya terinspirasi beliau,” ucapnya. 

Di mata Nilam, Dahlan adalah seorang pejuang. Sosok yang pantang menyerah dalam kondisi apa pun. ”Mudah-mudahan saya bisa seperti beliau,” harap dia. (*/c10/c9/ari)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Ada Bekas Lipstik di Sedotan, Tiga Pembunuh Dibekuk di Perbukitan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler