Golkar Merapat ke SBY, Koalisi Mulai Gelisah

Kamis, 16 Juli 2009 – 16:30 WIB
JAKARTA - Berkembangnya wacana Partai Golkar untuk merapat ke Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) usai pilpres 8 Juli lalu, membuat dua partai  koalisi Partai Demokrat (PD) masing-masing Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) mulai gelisah.

Zulkieflimansyah misalnya, Anggota Fraksi PKS di DPR itu malah menyebut-nyebut SBY tidak berkenan menerima kader Golkar untuk bergabung di kabinet pemerintahan SBY-Boediono periode II 2009-2014.

"Dari beberapa kali pertemuan konsultasi antara PKS dengan Susilo Bambang Yudhoyono, sangat jelas bahwa SBY tidak berkeinginan untuk mengajak Golkar ke kabinet," kata Zulkieflimansyah  saat berdikusi di press room DPR Jakarta, Kamis (16/7) dengan tema 'Menghitung Jatah Koalisi'.

Selain dia, juga tampil sebagai pembicara dalam diskusi tersebut Anas Urbaningrum, Priyo Budi santoso dan Totok Daryanto masing-masing dari DPP Partai Demokrat, DPP Golkar dan DPP PAN.

Sebagai partai besar, lanjut Zulkieflimansyah, Partai Golkar harusnya juga punya tradisi besar"Alangkah eloknya jika Golkar membangun dan punya tradisi besar dengan cara berada di luar pemerintahan dan membangun oposisi di parlemen," saran Zulkieflimansyah, kepada Priyo Budi Santoso, yang juga Ketua Fraksi Golkar di DPR itu.

Saran itu hendaknya diperhatikan oleh petinggi Partai Golkar karena sangat strategis dan diperlukan untuk membangun sistem demokrasi yang berkualitas dimasa datang, imbuh Zulkieflimansyah.

Sependapat dengan Zulkieflimansyah, Ketua DPP Partai PAN, Totok Daryanto menambahkan, Golkar hendaknya membangun sebuah tradisi politik yang sehat dan rasional

BACA JUGA: PKS Tetap Tolak Golkar Ikut Kabinet SBY

Apalagi di tengah-tengah proses bangsa ini menata-ulang arah pembangunan akibat krisis multi-dimensi.

"Sebenarnya bangsa ini sudah rusak parah
Siapa pun yang akan memimpin bangsa ini dalam waktu dekat tidak akan mampu memperbaikinya dalam tempo yang sesingkat-singkatnya," kata Totok Daryanto.

Proses demokrasi yang saat ini sedang berlangsung, lanjutnya, bisa dijadikan laboratorium politik dan demokrasi di Indonesia

BACA JUGA: JK Restui Yuddy Chrisnandi Pimpin Golkar

"Proses ini akan berjalan secara baik dan sempurna apabila semua partai politik terlebih dahulu membangun tradisi politik yang sehat dan rasional."

Dalam perspektif membangun tradisi politik yang sehat dan rasional tersebut, maka posisi politik Golkar memang harus berada di luar pemerintahan dan membangun oposisi di parlemen
"Tempat itu sangat tepat dengan perolehan suara yang diraih Partai Golkar dalam pemilu legislatif dan pilpres," kata Toto Daryanto.(fas/JPNN)

BACA JUGA: Usai Pilpres, BUMN Harus Diaudit

BACA ARTIKEL LAINNYA... Yuddy Siap Hadapi Ical dan Paloh


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler