Gubernur Frans Lebu Prihatin Pelajar Ikuti Lomba Bikin Video Panas

Minggu, 03 Mei 2015 – 15:59 WIB
Gubernur Frans Lebu Prihatin Pelajar Lomba Bikin Video Mesum. Foto: ilustrasi

jpnn.com - KUPANG – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Frans Lebu Raya sangat prihatin mendengar kabar siswa SMP dan SMA di wilayahnya mengadakan lomba pembuatan video seks. Dia menilai, anak-anak tersebut telah terjebak dalam dunia tekonologi yang menyesatkan. Anak-anak sekarang, kata dia, sudah berani membuat bahkan melombakan video mesum melalui handphone mereka sendiri.

“Ini tugas kita semua untuk memberikan perhatian terhadap perilaku anak-anak sekolah tersebut,” ujar Frans saat jumpa pers dengan wartawan di aula Rumah Jabatan Gubernur NTT, Sabtu (2/5).

BACA JUGA: Pamor Batu Akik Mulai Meredup, Penjualan Menurun Hingga 30 Persen

Menurut Frans, saat ini pendidikan etika sudah tidak lagi diajarkan di sekolah-sekolah sehingga sifat dan perilaku anak-anak semakin tidak beretika. Ia pun menyarankan agar pemerintah pusat mengakomodir pendidikan budi pekerti dan pendidikan moral pancasila dalam kurikulum.

Sebelumnya, beberapa siswa SMP dan SMA di NTT mengadakan lomba pembuatan video seks. Fakta tersebut diketahui melalui hasil survei yang dilakukan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) dan lembaga non-profit OnTrack Media Indonesia (OTMI). Parahnya lagi, beberapa siswi justru merasa bangga jika berpacaran dengan tukang ojek atau sopir angkot.

BACA JUGA: Lima Pasangan Bukan Suami Istri Sedang Syur Ditangkap di Kos-kosan

Perilaku seks bebas dan pacaran tidak sehat di kalangan pelajar terjadi akibat minimnya komunikasi antara siswa, guru dan orang tua. Akibatnya, 31,3 persen remaja NTT telah melakukan hubungan seks sebelum menikah dan 60 persen di antaranya tidak menggunakan kondom alias alat pengaman saat berhubungan intim.

Sebelumnya, Direktur OTMI, Imelda Theresia mengatakan, mereka melakukan survei dan kegiatan focus group discussion (FGD) kepada para siswa, guru dan orang tua.

BACA JUGA: Asyik Berjudi, Tiga Ibu Muda Diciduk Polisi

“Yang membuat miris adalah munculnya fenomena siswa dan siswi membuat film seks atau porno untuk dilombakan di antara mereka,” ujar Imelda saat meluncurkan program “Mari Kita Bicara” di aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT.

Menurut Imelda, ada beberapa siswa yang memproduksi film dewasa untuk dilombakan dengan teman-teman lainnya. Video seks itu dibuat di tepi pantai, lalu disebarkan ke teman-teman lainnya menggunakan telepon seluler. Film itu sendiri direkam menggunakan telepon seluler.

Dikatakan Imelda, pembuatan film itu pertama diprakarsai oleh siswi SMA dengan melibatkan siswa-siswi SMP di Kabupaten Kupang.

“Dengan adanya fenomena seperti ini, kita sangat khawatir. Karena itu, perlu diambil tindakan sejak dini agar tidak meluas dan menyebar ke semua sekolah,” tuturnya.

Survei OTMI dilaksanakan sejak Oktober 2014 di 16 sekolah yang tersebar di empat kabupaten di NTT, yakni Kabupaten Kupang,  Belu, Manggarai  dan Manggarai Barat. Jumlah responden survei tersebut sebanyak 450 orang siswa.

Kepala Dinas Pendidikan Nusa Tenggara Timur, Piter Manuk, mengatakan, survei yang dilakukan PKBI dan OTMI cukup mengejutkan.

“Ada 581 kasus HIV/AIDS di NTT. Lima persen di antaranya merupakan remaja,” kata Piter Manuk, beberapa waktu lalu.(one/pojoksatu/jpnn)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kejati Ekspos Dakwaan Bupati Sumba Barat


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler