Hanya Berselang 4 Hari, 2 Anak Rusa Timor Lahir Secara Alami

Jumat, 02 Maret 2018 – 21:33 WIB
Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Foto: klhk

jpnn.com, BOGOR - Populasi Rusa Timor (timorensis Blainville) di penangkaran kampus Badan Litbang dan Inovasi (BLI) Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Bogor bertambah. Sebanyak dua ekor Rusa Timor telah lahir dari dua induk berbeda, dalam selang waktu empat hari, akhir Februari kemarin.

"Satu ekor anak rusa berjenis kelamin betina, lahir hari Sabtu (24/2) dan seekor lainnya yang lahir hari Rabu (28/2), masih belum bisa diidentifikasi jenis kelamin maupun informasi lainnya," kata Kepala BLI KLHK, Agus Justianto.

BACA JUGA: Menteri Siti Dukung Pemberdayaan Perempuan Indonesia

Meskipun belum diberi nama, Agus memastikan bahwa kedua anak rusa tersebut dalam keadaaan sehat. Adapun anak rusa yang pertama lahir telah diketahui memiliki berat badan sebesar 3,6 kg, panjang badan 40,0 cm, tinggi pundak 37 cm, dan lingkar dada 35 cm.

"Dengan kelahiran anak rusa ini, populasi rusa timor di Kampus BLI Bogor saat ini mencapai tujuh individu, terdiri dari tiga jantan (dua remaja dan satu dewasa), dan dua individu betina dewasa, dan dua individu anak rusa," lanjut Agus.

BACA JUGA: Pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hutan Wajib Cegah Karhutla

Anak rusa yang lahir lebih dulu (24/2), merupakan generasi kedua dari induk dengan nomor tagging DMG-F-1-230610. Sebelas bulan sebelumnya, sang induk melahirkan anak pertama yang diberi nama Silet.

Berbeda dengan Silet yang lahir pada siang hari, generasi kedua ini lahir pada malam hari, sehingga proses kelahirannya tidak diketahui.

BACA JUGA: Ini Pesan Menteri Siti Nurbaya saat Lantik 17 Pejabat KLHK

Sementara, Kepala Pusat Litbang Hutan KLHK, Kirsfianti L. Ginoga menerangkan, tujuan penangkaran rusa ini adalah untuk pelestarian ex-situ, dan sebagai edukasi bagi masyarakat, selain sebagai obyek penelitian.

"Penangkaran ini sudah sesuai dengan prosedur yang disarankan oleh Ditjen Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem. Kami juga menyediakan advis teknis dan pembimbingan tentang penelitian penangkaran rusa,” tambahnya.

Berdasarkan keterangan peneliti Pusat Litbang Hutan KLHK, Mariana Takandjandji, interval kelahiran generasi pertama dan kedua berselang sebelas bulan karena lama bunting pada rusa 8,38 bulan.

"Kebuntingan mulai terjadi pada pertengahan bulan Juli dan umur anak pertama telah mencapai ±4,0 bulan. Umumnya rusa disapih pada umur 4,0 bulan," tuturnya.

Mariana mengatakan, rusa yang berada di penangkaran umumnya melahirkan pada sore hari menjelang malam, sesuai dengan sifat alaminya yang nokturnal atau aktif di malam hari.

"Hasil perhitungan tercatat bahwa yang lahir pada pagi hari sekitar 11,6 persen, siang hari sebesar 32,56 persen dan sore menjelang malam sebesar 55,8 persen," katanya.

Selain di Kampus Gunung Batu, BLI juga memiliki Pusat Penangkaran Rusa Timor di Hutan Penelitian (HP) Dramaga, Bogor yang dibangun tahun 2008. Awalnya, populasi rusa timor di penangkaran seluas 7,0 Ha ini berjumlah sembilan ekor saja, terdiri dari lima jantan dewasa dan empat betina yang diperoleh dari hasil penangkaran di Haurbentes, Jasinga; Taman Nasional Alas Purwo Banyuwangi, dan Taman Safari Indonesia.

Saat ini, rusa timor yang berhasil ditangkarkan mencapai lebih dari 50 ekor. Puslitbang Hutan telah berhasil menangkarkan rusa timor sampai keturunan ke-2 (F2). Keberhasilan penangkaran rusa timor di HP Dramaga ini juga mendorong lembaga lain untuk menerapkan teknologi penangkaran rusa timor yang dilakukan oleh BLI.

Teknologi ini sudah diaplikasikan pula di Pemerintah Daerah Kabupaten Sumba Timur NTT, Tahura Sultan Adam Kalimantan Selatan, dan Taman Buru Masigit Kareumbi Jawa Barat. (adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kiai Maruf: Presiden Serius Menghilangkan Kesenjangangan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler