Hanya Hewan yang Bertarung, Manusia seharusnya Malu kalau Berkelahi

Jumat, 24 Juli 2015 – 08:14 WIB
Ratusan warga menyaksikan atraksi mapasilaga tedong atau adu kerbau di Tana Toraja. Foto: Diar Candra/Jawa Pos

BAGI masyarakat Tana Toraja, Sulawesi Selatan, Juli termasuk bulan favorit untuk melakukan Rambu Solo'. Yakni, upacara penghormatan terakhir untuk orang terkasih yang telah lama meninggal. Upacara tersebut diramaikan atraksi mapasilaga tedong atau adu kerbau yang menarik perhatian turis.
-----------------------
Laporan Diar Candra, Tana Toraja
----------------------
SUAREZ langsung berontak begitu melihat lawannya di seberang lapangan. Naluri ’’membunuh’’-nya sontak muncul. Dengan lenguhan napas yang memburu, Suarez langsung menghampiri lawannya. Tidak ingin kehilangan momentum, kerbau berbadan gempal itu menghunjamkan tanduknya ke kepala lawan.

Sorak sorai pun terdengar menyertai aksi bengal Suarez. Dalam hitungan menit, si lawan, Toro, langsung mundur teratur. Sesuai dengan aturan, kerbau atau tedong (bahasa Toraja) yang meninggalkan gelanggang lebih dulu dianggap kalah. Maka, Suarez-lah yang dinyatakan menang ’’TKO’’ atas Toro.

BACA JUGA: Tegang Menunggu Pak Bos Diperiksa KPK Hingga 12 Jam

Begitulah suasana atraksi mapasilaga tedong atau adu kerbau di lapangan Kelurahan Lemo, Kecamatan Makale, Tana Toraja, Selasa sore (21/7). Ratusan penonton memadati lapangan berumput tipis berukuran 25 x 15 meter yang biasanya digunakan warga setempat untuk bermain bola tersebut.

Mapasilaga tedong kali ini dilakukan dalam rangka Rambu Solo’ keluarga almarhum Paulus Tampek Mangge. Mapasilaga tedong yang diwasiti Set Salimo tersebut berlangsung pukul 16.00 sampai 18.00 Wita (Waktu Indonesia Tengah). Sore itu ditampilkan delapan pertarungan kerbau yang seru dan meriah.

BACA JUGA: Terapis Anak Berkebutuhan Khusus itu Shock saat Sadari Anak Pertama Autis

Menurut Antonius Katoding, wakil keluarga Paulus, mapasilaga tedong adalah atraksi paling meriah dan dinanti warga dalam setiap rangkaian Rambu Solo’. Para pemilik kerbau bahkan sudah mempersiapkan hewan peliharaannya secara khusus 4–5 bulan sebelum upacara dilangsungkan.

’’Pesan moral dari mapasilaga tedong adalah hanya binatang yang bertarung. Manusia yang derajatnya lebih tinggi dari hewan seharusnya malu kalau berkelahi,’’ tutur Antonius.

BACA JUGA: Rukun, Halal Halalbihalal Pun Kebanyakan Pastor dan Suster yang Datang

Nah, dalam mapasilaga tedong peran pa’kambik atau penggembala kerbau sangatlah vital. Mereka punya tanggung jawab besar untuk mempersiapkan kerbau-kerbau aduannya. Merawat kerbau butuh lebih dari sekadar kesabaran dan ketekunan.

Kerbau yang menjadi tedong aduan punya kekhususan dari jenisnya. Yang paling umum adalah tedong pudu. Kerbau yang berkulit hitam legam itu disukai karena gampang dilatih dan harganya tidak semahal kerbau lain. Harga paling murah seekor tedong pudu yang berusia 6–7 tahun adalah Rp 40 juta.

Lalu, ada tedong ballian. Kerbau itu punya tanduk yang jika ditotal panjangnya bisa lebih dari 2 meter. Kemudian, ada tedong todi. Kerbau tersebut punya bercak putih di bagian kepalanya.

Salah seorang pemilik kerbau aduan, Palulun Rantelangi, mengungkapkan, mapasilaga tedong bukan cuma adu kerbau yang dipahami secara harfiah. Selain untuk melestarikan tradisi nenek moyang, mapasilaga tedong kini bisa menjadi komoditas pariwisata yang mendatangkan devisa.

Menurut Palulun yang sudah lebih dari tiga dekade menjadi pemilik tedong, hanya orang ’’gila’’ yang mau memelihara tedong aduan. Sebab, biaya perawatan serta upah untuk pa’kambik tidak murah. Per bulan minimal Rp 2 juta harus dikeluarkan pemilik kerbau.

Itu belum termasuk makanan tambahan berupa telur puyuh dan madu setiap hari selama tiga bulan menjelang hari pertarungan. Terkadang pa’kambik juga meminta tambahan uang untuk melatih kekuatan kerbau.

Jadi, kalau ditotal, biaya perawatan untuk seekor tedong dalam lima bulan sebelum mapasilaga tedong bisa sama dengan harga saat tedong itu dibeli, yakni Rp 10 juta–Rp 15 juta. Padahal, kalau kerbau tersebut kalah, harganya langsung turun drastis. Bisa di bawah harga kerbau kali pertama dibeli.

’’Buat saya, bukan harga yang membikin mata silau. Tapi, lebih pada aspek penghormatan kepada orang tua serta leluhur yang telah meninggal. Mungkin karena tradisi budaya Toraja ini masih mengakar kuat di sini,’’ kata Palulun.

Karena unsur prestisenya sangat tinggi, berbagai cara dilakukan pemilik kerbau agar bisa memenangi mapasilaga tedong. Bahkan, ada yang sampai mendatangkan dokter hewan dari Makassar seminggu sekali untuk memeriksa kondisi kerbaunya. Padahal, jarak Toraja ke Makassar, jika ditempuh dengan perjalanan darat, bisa sampai sepuluh jam.

Palulun menyatakan, selain kondisi kerbau, peran pa’kambik cukup penting dalam menyiapkan kerbau aduan. Karena itu, Palulun belakangan justru lebih memercayai anak kecil yang masih lugu sebagai penggembala kerbaunya. Alasannya, anak kecil jujur dan pandai menyimpan rahasia.

’’Mereka masih polos dan entah kenapa tedong lebih menyukai anak-anak kecil sebagai penggembalanya. Kalau tedong tidak suka, pasti akan ada penolakan. Misalnya, susah dijinakkan dan cenderung berantakan,’’ tutur Palulun.

Apa yang didapatkan seorang pa’kambik? Menurut Alberto Malossa yang menjadi pa’kambik di Kete’ Kesu’ Toraja Utara, yang dia dapatkan bukan cuma upah dari pemilik kerbau. Tetapi, harga dirinya juga terangkat jika dibandingkan dengan rekan sebayanya di Kete’ Kesu’.

Abe, panggilan Alberto Malossa, yang belajar dari kakaknya menjadi pa’kambik mengaku asyik bisa menaklukkan seekor kerbau. Murid kelas 6 SD itu mengungkapkan, di antara 20 siswa di kelasnya, ada sembilan yang menjadi pa’kambik.

’’Kalau di kelas ngomongnya tedong terus,’’ ucap Abe yang kini merawat Masbulok, kerbau aduannya.

Untuk menjaga relasi batin dengan tedong-nya, Abe sering bercakap-cakap dengan Masbulok. Bahkan, dia tak segan mengolesi bibir tedong-nya dengan air liurnya. Menurut Abe, aktivitas itu membuat kerbau gembalaannya dekat dengan dirinya.

Abe sudah lima kali menjadi pa’kambik. Tetapi, di antara lima ekor tedong yang digembalakannya, tiga kerbau berakhir dengan kekalahan saat bertarung.

’’Kalau bayaran, sama dengan pa’kambik lain. Sekitar Rp 1,7 juta. Uang itu buat bantu mamak dan bayar sekolah,’’ tuturnya.

Sementara itu, menurut Plt Pemangku Adat Kete’ Kesu’ Layuk Sarangallo, banyaknya pa’kambik cilik punya banyak efek positif. Contohnya, banyak keluarga yang perekonomiannya terbantu. Namun, ada pula dampak negatifnya. Yaitu, banyak anak yang memilih putus sekolah hanya agar bisa menjadi pa’kambik.

’’Seperti modernisasi yang tidak bisa dibendung, selalu ada dua sisi dari bermunculannya pa’kambik cilik ini,’’ tandas pria 69 tahun itu. (*/c5/ari)

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kisah Pasutri Berjuang Sembuhnya Putranya yang Terkena Penyakit Langka


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler