Hanya Tugu Cornelis Chastelein, Tak Nampak Kenduri Depokse Dag

Kamis, 29 Juni 2017 – 11:50 WIB
Tugu Cornelis Chastelein di kawasan Depok Lama, 28 Juni 2017. Foto: Wenri Wanhar/JPNN.com.

jpnn.com - SEHARIAN kemarin, tak nampak ada kenduri di kawasan Depok Lama. Padahal, 28 Juni adalah Depokse Dag atau Hari Depok.

Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network 

BACA JUGA: Ketahuilah, Sosok Pelantun Pertama Lagu Selamat Hari Lebaran

Ratusan tahun lalu, 24 Januari 1674, Cornelis Chastelein  berlayar selama 223 hari dari negeri Belanda menuju Oost Indie (Indonesia—red) dengan kapal Huys Te Cleef. Saat itu usianya 17 tahun.

Laki-laki kelahiran Amsterdam, Belanda, 10 Agustus 1657 ini bekerja sebagai Book Houder-Kamer XVII atau Kamar Dagang VOC.

BACA JUGA: Hikayat Ungku Saliah, Si Kakek Berkopiah di Sejumlah Warung Padang

Sejarah mencatat, VOC memulai kiprahnya sejak 1602, artinya Chastelein termasuk orang VOC generasi awal, meski bukan pertama.

Menginjak usia 25 di tahun 1682, anak dari pasangan Anthony Chastelein (Prancis) dan Maria Cruydeneir (Dorderecht, Belanda) ini dipercaya VOC untuk menjabat Groot Winkelier der Oost Indische Compagnie.

BACA JUGA: Mengurai Sejarah Rambut Gaya Demi Moore

Di tahun 1691, bungsu dari delapan bersaudara ini naik jabatan menjadi Twede Opperkoopman des Casteels Batavia dengan gaji 65 gulden.

Tahun itu pula Gubernur Jenderal Comphuys meletakan jabatan dan digantikan Gubernur Jenderal van Outhoorn (1691-1704).

Rupanya, politik dagang yang diterapkan Willem van Outhoorn tak sesuai dengan falsafah hidup dan prinsip-prinsip Chastelein. Dengan alasan kesehatan, Chastelein menyatakan undur diri dari VOC.

Usai mengundurkan diri dari VOC, pada 1693 Chastelein membeli sebidang tanah di wilayah Senen (sekarang Rumah Sakit Militer Gatot Subroto).

Seiring berjalannya waktu, ia memperluas wilayahnya ke Pintu Air sampai Bungur Besar, Senen Raya, termasuk Pasar Senen sekarang hingga ke Kwitang dan sepanjang kali Ciliwung sampai Pintu Air lagi.

Di Senen Raya, tepatnya di Gang Kenanga, dia mendirikan tempat tinggal yang cukup megah.

Bangunannya dihiasi taman-taman yang indah dengan parit-parit di sekelilingnya.

Daerah Kwini dijadikannya kebun tebu. Hasil penen kebun itu untuk bahan baku pabrik gula miliknya yang dibangun di sekitar tempat itu juga. Kira-kira di lokasi Departemen Luar Negeri sekarang.

Di Gang Kwini, Chastelein juga sempat membangun sebuah kebun binatang yang koleksinya memenuhi persyaratan, sehingga proyek itu dikenal sebagai kebun binatang pertama di Hindia Belanda.

Secara keseluruhan, di kawasan tersebut berdiri sejumlah bangunan megah yang dikelilingi taman bunga dan parit-parit.

Penataannya menciptakan suasana tenteram, sehingga menimbulkan kenyamanan dan kepuasan. Suasana inilah yang mengilhami nama Weltevreden, nama yang kini dikenal dengan sebutan Gambir.

Dalam perjalanan hidupnya, Cornelis bertemu Chatarina van Qualberg dan menikahinya. Mereka dikaruniai seorang putra yang diberi nama Anthony Chastelein.

15 Oktober 1695, Cornelis membeli lagi sebidang tanah di daerah Sringsing (sekarang Srengseng, Lenteng Agung).

Setahun kemudian, tepatnya 18 Mei 1696, daerah Sringsing diperluas 4 pal ke arah Selatan yaitu Tanah Depok.

Untuk menggarap tanah di Depok diperlukan tenaga kerja.

Maka Chastelein membeli pekerja-pekerja yang berjumlah sekitar 150 orang dari pulau Sulawesi, Kalimantan, Bali dan Timor.

Selain bekerja, setiap malam hari para budak diberi pelajaran etika agama Kristen Protestan.

18 Mei 1696, dalam maklumat tertulisnya, Cornelis menjanjikan tanah kepada seluruh pekerjanya dan membebaskan dari perbudakan, apabila bersedia memeluk agama yang dianutnya.

Hasilnya, sekitar 120 orang budak Chastelein bersedia menganut agama Kristen.

Budak-budak yang dibebaskan itu antara lain bernama Jan van Badinlias, Baten Pahan, Samawarin van Bali, Hazin van Bali, Wiera van Makassar dan Florian van Bangelan.

Di samping itu Raima dan istrinya Mamma, Lukas dan istrinya Klara, Sangkat Maligat, Malantas, Hagar dan Soman.

Setelah memeluk agama Nasrani, para budak ini dibagi menjadi 12 marga, yakni Jonathans, Laurens, Bacas, Loen, Soedira, Isakh, Samuel, Leander, Joseph, Tholense, Jacob dan Zadokh.

Dalam perjalanannya Zadokh menghilang. Hanya saja, hilangnya marga Zadokh dari Depok hingga kini tidak diketahui penyebabnya.

Ada yang mengatakan karena mereka tidak punya keturunan. Ada juga versi yang menyebut Zadokh kembali kepada keyakinan yang semula dianutnya. Yang pasti hingga kini hilangnya Zadokh masih misterius.

4 Juli 1696. Carnelis melakukan revisi penyempurnaan terhadap testament (maklumat tertulis-nya).

Pada 1704 VOC meminta Cornelis untuk kembali bekerja. Dia diberi posisi Road Extra Ordinaris dengan gaji 200 gulden.

Entah karena apa, tidak lama kemudian, dia kembali mengundurkan diri.

Sesudah itu, hari-harinya dihabiskan dengan menulis buku mengenai renungan dan catatan daerah jajahan. Buku itu diberi judul Invallende Gedachlen ende Aanmerkengen Over Kolonien.

Pada tanggal 17 Juli 1708 untuk ketiga kalinya dia menyempurnakan testamentnya. 21 Maret 1711 terbit lagi surat wasiat keempat. Testament kelima dibuatnya di hadapan notaris Nick van Haeften di Batavia 13 Maret 1714.

Isinya merupakan penyempurnaan dari wasiat sebelumnya, sekaligus mempertegas pembatalan testament sebelumnya. Testament keempat dianggap tak berlaku, sehingga dirobeknya.

Di usia ke 57, tepatnya 28 Juni 1714 Cornelis Chastelein wafat.

Dia meninggalkan surat wasiat untuk para pekerjanya. Isi surat wasiat itu menjelaskan antara lain bahwa harta kekayaan Chastelein berupa tanah, bangunan, alat pertanian, alat kesenian dan lainnya dihibahkan kepada 12 marga yang pernah menjadi pekerjanya.

…berikoet lagi akoe memardahekakan samoewa boedak-boedak…laki-laki dan perampoean beserta anak-anak dan tjoejoe-tjoetjoenja...(testament hal 7).

…maka akoe poesakakan boedak-boedak mardaheka sepotong tanah…(testament hal 9).

…maka sekalian orang-orang di Depok jang satoe tijada dibedakan dari jang lain…(testament hal 38).

Dalam testament itu, Cornelis juga memberikan wejangan agar proses pembagian warisannya dilakukan secara adil dan bijaksana.

Dia juga mengingatkan para kaumnya agar menjaga keseimbangan alam dan tidak menjual tanah yang diberikannya.

Duka yang menyelimuti keluarga Chastelein seolah-olah datang beruntun.

Tak lama setelah kematiannya, putra Chastelein, Anthony, wafat pada 1715. Anthony belum sempat melaksanakan amanah ayahnya, merampungkan proses balik nama milik mendiang Cornelis Chastelein atas nama Kaoem Depok. 

Surat wasiat berlaku sejak tanggal meninggalnya Cornelis, yakni 28 Juni 1714.

Maka oleh orang Depok setiap tanggal 28 Juni diperingati sebagai hari Chastelein.

Dalam perkembangannya berubah menjadi hari terbentuknya masyarakat Masehi yang sudah dibebaskan dari ikatan perbudakan.

Maka, tanggal tersebut dikenang sebagai hari ulang tahun Jemaat Masehi Depok atau biasa disebut Depokse Dag atau Hari Depok.

Narasi di atas disadur dari buku Gedoran Depok--Revolusi Sosial di Tepi Jakarta 1945-1955.

Untuk mengenang Cornelis Chastelein, maka pada tanggal 28 Juni 1814, bertepatan dengan peringatan 100 tahun kematiannya, dibangun monumen Cornelis Chastelein di depan Gedong Pertemuan, kini Rumah Sakit Harapan di Jl. Pemuda.

Sempat diruntuhkan di zaman Gedoran Depok ketika perang kemerdekaan Indonesia, baru-baru ini Tugu Cornelis Chastelein (lihat foto) dibangun lagi di lokasi yang sama.

Seharian kemarin hingga pagi ini, saya melewati hari di Depok Lama, bermalam di rumah kawan lama. Tak nampak ada kenduri merayakan Depokse Dag. Yang ada hanya Tugu Cornelis Chastelein.  (wow/jpnn)

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Bung Hatta, Buya Hamka dan Agresi Belanda di Bulan Puasa


Redaktur & Reporter : Wenri

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler