Harga Gas dan Pupuk Melonjak Gegara Invasi Rusia, Aksi Protes Mulai Anarkis

Selasa, 05 April 2022 – 12:36 WIB
Demonstran memblokir jalan raya ke Lima selama pemogokan transportasi nasional untuk memprotes kenaikan harga gas dan tarif jalan tol, di Ica, Peru, 4 April 2022. (ANTARA/Reuters/Sebastian Castaneda/as)

jpnn.com, PERU - Gelombang protes warga mulai anarkis menyuarakan penolakan atas kenaikan harga bahan bakar, gas dan pupuk yang melonjak gegara invasi Rusia ke Ukraina.

Pengunjuk rasa di dekat kota Ica di selatan Peru, membakar gerbang tol.

BACA JUGA: Putin Bawa Misi Menyatukan Gereja Lewat Serbuan Rusia ke Ukraina?

Massa juga bentrok dengan polisi ketika protes meluas dari dataran tinggi Peru ke pesisir.

Pemerintah negara di pegunungan Andes itu sedang berupaya menurunkan harga-harga.

BACA JUGA: Tak Terima Dituduh Membantai Warga Bucha, Rusia Desak PBB Gelar Sidang Secepatnya

“Pemogokan ini tidak hanya terjadi di sini, tetapi di seluruh Peru hari ini,” kata seorang pengunjuk rasa yang menolak disebutkan namanya, Senin (4/4) waktu setempat.

Protes pecah pekan lalu saat para petani dan truk-truk memblokade sejumlah jalan tol utama negara itu menuju ke Lima yang menyebabkan lonjakan harga pangan secara tiba-tiba di ibu kota Peru itu.

BACA JUGA: Begini Kondisi di Bucha dan Irpen Setelah Rusia Lakukan Pembantaian, Mengerikan

Pemerintah Peru menyebut setidaknya empat orang tewas dalam bentrokan keras antara pengunjuk rasa dan polisi.

Pemerintah pada akhir pekan lalu menanggapi protes dengan mengajukan penghapusan sebagian besar pajak bahan bakar sebagai upaya menurunkan harga dengan cepat.

Selain itu, upah minimum juga dinaikkan sekitar 10 persen menjadi 1.205 soles (Rp 4,7 juta) per bulan.

Protes dan unjuk rasa menjadi ujian bagi kepresidenan sayap kiri Pedro Castillo, seorang petani dan guru yang memenangi pemilihan tahun lalu dengan dukungan tinggi dari warga miskin pedesaan Peru.

Namun, hasil dari jajak pendapat menunjukkan dukungan kepadanya terus menurun, saat ini hanya berkisar sekitar 25 persen secara keseluruhan.

Peru juga sudah menetapkan status darurat di sektor pertanian karena kenaikan harga pupuk yang dipicu oleh sanksi barat terhadap Rusia.

Negara pimpinan Vladimir Putin itu merupakan pengekspor utama potasium, amonia, urea, dan nutrisi tanah lainnya.

Seperti banyak negara, Peru sudah berjuang melawan inflasi sebelum perang itu meletus.

Pada Maret, inflasi menyentuh titik tertinggi dalam 26 tahun, sebagian besar didorong oleh kenaikan harga bahan bakar dan pangan.

Menteri Keuangan Peru Oscar Graham mengatakan kepada Reuters pada Jumat (1/4) bahwa ancaman terbesar bagi ekonomi Peru adalah konflik Rusia Ukraina yang berkepanjangan.(Antara/Reuters/JPNN)


Redaktur & Reporter : Kennorton Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler