Harga Minyak Dunia Meroket, Pertalite Bagaimana?

Rabu, 09 Maret 2022 – 20:09 WIB
Harga minyak dunia terus melonjak akibat geopolitik antara Rusia dengan Ukraina, bagaimana dengan Pertalite? Ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Harga minyak dunia terus melonjak akibat geopolitik antara Rusia dengan Ukraina.

Namun, PT Pertamina (Persero) memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite tidak naik.

BACA JUGA: Waduh! Harga Minyak Mentah Dunia Berpotensi Meroket hingga USD 200 Per Barel

Vice President Corporate Communication Pertamina Fajriyah Usman menyatakan keputusan tidak menaikkan harga Pertalite dilakukan demi menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli karena masyarakat banyak menggunakan Pertalite.

"Pertamina sebagai BUMN yang berperan dalam mengelola energi nasional sangat mempertimbangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat dalam penetapan harga produk BBM," kata Fajriyah dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (9/3).

Pertamina menegaskan mendukung penuh kebijakan pemerintah dalam pemulihan ekonomi nasional, sehingga perseroan terus berkoordinasi dengan pemerintah untuk memutuskan harga Pertalite akan tetap Rp 7.650 per liter.

Menurutnya, harga tersebut tidak berubah sejak tiga tahun terakhir dan saat ini porsi konsumsi Pertalite yang terbesar atau sekitar 50 persen dari total konsumsi BBM nasional.

"Pemerintah terus melakukan pembahasan untuk skenario kompensasi Pertalite agar stabilisasi harga Pertalite dapat terjaga," tegas Fajriyah.

Selain itu, Pertamina terus melakukan berbagai efisiensi di segala lini, termasuk menekan biaya produksi BBM dalam negeri guna mengurangi tekanan lonjakan harga minyak mentah dunia terhadap peningkatan biaya penyediaan BBM.

Sejumlah strategi efisiensi tersebut, di antaranya memaksimalkan penggunaan minyak mentah domestik dan mengoptimalkan penggunaan gas alam untuk penghematan biaya energi.

BACA JUGA: Premium dan Pertalite Masih Ada di 2022, Tetapi

"Pararel juga dilakukan peningkatan produksi kilang untuk produk yang bernilai tinggi," ungkapnya.

Hari ini, harga minyak dunia menembus angka USD 130 dolar AS per barel.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata mengatakan risiko global mengalami eskalasi akibat konflik Rusia-Ukraina mempengaruhi kenaikan harga yang tinggi atas komoditas energi baik itu minyak mentah, batu bara, hingga gas.

"Peningkatan harga minyak mentah dunia tentunya berdampak terhadap APBN," kata Isa.

Secara keseluruhan dia menjelaskan kenaikan harga komoditas termasuk harga minyak mentah Indonesia (ICP) memang berdampak positif terhadap pendapatan negara, terutama Penerima Negara Bukan Pajak (PNBP).

Namun, kenaikan harga komoditas juga berdampak terhadap belanja negara terutama subsidi energi yang menjadikan ICP menjadi salah satu parameter utama dalam perhitungan tersebut.

Pemerintah akan terus memantau pergerakan harga minyak dunia dan mengukur dampaknya terhadap APBN.

BACA JUGA: Respons Terbaru Bang Saleh soal Rencana Penghapusan Premium dan Pertalite

"Kebijakan yang diperlukan akan diambil secara menyeluruh dengan melihat dari sisi potensi penerimaan negara, beban terhadap belanja negara, dan konsekuensi terhadap pembiayaan anggaran," tegas Isa. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler