Harga Minyak Mentah Dunia Tinggi, Efisiensi Pertamina Tembus USD 2,2 Miliar

Minggu, 19 Juni 2022 – 11:24 WIB
Pertamina terus memperkuat strategi keuangan dan upaya operasional guna meningkatkan efisiensi di seluruh lini bisnis. Foto: dokumentasi Pertamina

jpnn.com, JAKARTA - PT Pertamina (Persero) memperkuat strategi keuangan dan upaya operasional guna meningkatkan efisiensi di seluruh lini bisnis, baik holding maupun subholding mulai dari hulu, pengolahan sampai hilir. 

Upaya tersebut dilakukan di tengah tantangan harga minyak dunia yang terus melambung tinggi.

BACA JUGA: Pertamin Bidik Geothermal Jadi Energi Terbarukan Indonesia, Ini Alasannya

Dari strategis bisnis tersebut, selama 2021, Pertamina berhasil melakukan optimalisasi biaya sebesar USD 2,21 miliar, yang diperoleh dari program penghematan biaya (Cost Saving ) USD 1,36 miliar, penghindaran biaya (Cost Avoidance) sebesar USD 356 juta serta tambahan pendapatan (Revenue Growth) sekitar USD 495 juta.

Direktur Keuangan Pertamina, Emma Sri Martini menjelaskan Pertamina mengembangkan berbagai kebijakan dan strategi bisnis dari sisi keuangan maupun operasional sebagai upaya menghadapi tantangan harga minyak dunia yang melonjak signifikan. 

BACA JUGA: Komitmen Pertamina Untuk Menjamin Ketersediaan BBM dan LPG Subsidi Harus Didukung

Dari sisi finansial, Pertamina menerapkan program optimalisasi biaya di seluruh Pertamina Group yang meliputi penghematan biaya (Cost Saving), penghindaran biaya (Cost Avoidance), dan peningkatan pendapatan.

Paralel dengan upaya penghematan, Pertamina juga menjalankan program lindung nilai (hegding) untuk manajemen risiko pasar. 

BACA JUGA: Pertamina Apresiasi Dukungan Pemerintah Tambah Subsidi BBM & LPG dan Kompensasi BBM

Selain itu, perseroan juga melakukan sentralisasi pengadaan, prioritas belanja modal dan manajemen aset dan liabilitas untuk menurunkan biaya atau beban bunga (cost of fund).

“Kami berupaya mengoptimalkan seluruh biaya serta mengelola aspek finansial perusahaan, agar menekan biaya termasuk memprioritaskan proyek-proyek yang memiliki hasil cepat,” ungkap Emma Sri Martini.

Selain memperketat finansial, menurut Emma, Pertamina juga menerapkan strategi operasional dalam rangka meningkatkan pendapatan yang sebagian besar dijalankan oleh anak usaha yakni enam subholding. 

Di bisnis hulu, Pertamina terus meningkatkan produksi dan lifting Migas untuk memanfaatkan momentum naiknya harga minyak. 

Hasilnya, produksi naik 4 persen dan lifting 3 persen. 

Kinerja positif dari operasional hulu tersebut, disumbangkan dari Blok Rokan dan aset luar negeri serta upaya konsisten menjaga tingkat produksi melalui pengeboran sumur dan penemuan sumber daya.

Sepanjang 2021, Pertamina telah melakukan pengeboran 12 sumur eksplorasi dan 350 sumur eksploitasi. 

Pada tahun yang sama, temuan cadangan (2C) telah mencapai 486,70 MMBOE, dan tambahan cadangan terbukti (P1) mencapai 623,47 MMBOE.

Di pengolahan dan petrokimia, pada tahun 2021 Pertamina menerapkan strategi optimasi crude and product. 

Hal ini telah berkontribusi pada peningkatan yield of value produk sekitar 3 persen. 

Strategi tersebut terkait dengan pemilihan dan substitusi ekonomis minyak mentah, dan memaksimalkan high valuable products dengan high spreads.

Di sisi lain, produksi kilang juga meningkat sebagai respons atas permintaan energi yang lebih tinggi akibat pemulihan ekonomi nasional.

Lalu di lini transportasi dan logistik, Pertamina mengoptimalkan load factor untuk meraih pendapatan dan efisiensi biaya. 

Di sisi bisnis gas, Pertamina juga meningkatkan volume perdagangan dan transportasi gas serta volume transportasi minyak.

“Setelah legal end state, kami juga mengintensifkan resource sharing, seperti sharing fasilitas dan sharing development agreement, khususnya di upstream sub-holding,” imbuh Emma.

Emma menambahkan kinerja positif di hilir juga didukung oleh pemerintah melalui pengakuan kompensasi selisih HJE JBT Solar dan JBKP Pertalite pada tahun 2021, mencapai sekitar USD 4 miliar Ekv. Rp58,6 triliun (di luar pajak) serta pembayaran atas kompensasi  2018 dan 2019 sekitar USD 1,7 miliar Ekv. Rp24,1 triliun (di luar pajak).

Emma menyebutkan dukungan pemerintah berlanjut di tahun 2022 melalui revisi kebijakan yang menetapkan Pertalite (RON90) sebagai Bahan Bakar Penugasan Khusus menggantikan Premium (RON88) dan penyesuaian harga Pertamax.

Sebagai bentuk apresiasi Pertamina terhadap dukungan tersebut, telah diterapkan beberapa inisiatif di sektor hilir yang sekaligus merespon perubahan pasar seperti ekspansi transaksi digital, mempercepat outlet Pertashop untuk menangkap peluang pasar yang lebih besar di daerah pedesaan dan mengalihkan sumber energi SPBU ke panel surya.

“Kami sangat mengapresiasi keputusan pemerintah dan DPR yang telah menambah pagu anggaran subsidi dan kompensasi 2022 untuk menjaga dan melindungi daya beli masyarakat serta menahan potensi inflasi," kata Emma lagi.

Menurutnya, hal ini juga merupakan bukti dukungan terhadap Pertamina dalam penyediaan energi di tengah tantangan harga minyak mentah yang tinggi.

Emma menegaskan dengan dukungan tersebut, pada tahun tahun ini Pertamina mengembangkan strategi utama melalui upaya mendorong produksi Migas naik hingga 17 persen.

Selain itu, menargetkan Yield Valuable Product sebesar 79,9 persen, penambahan outlet BBM sekitar 3.000 Pertashop, pengembangan pasar digital hingga 25 juta pengguna MyPertamina, dan memperbesar porsi pendapatan dari non-captive market di bisnis shipping hingga 7,5persen.

Untuk memperkuat komitmen energi rendah karbon akan memproduksi listrik 7.138 GWh dan didukung oleh peningkatan kapasitas terpasang yang ditargetkan hingga 2,9 GW.

Strategi yang penting lainnya, unlock value yang dikembangkan oleh anak perusahaan.

“Di sektor keuangan, kami akan fokus optimalisasi biaya yang ditargetkan mencapai hingga USD 600 juta," sebutnya.

Emma menegaskan Pertamina juga akan terus berkomunikasi dengan Pemerintah untuk memastikan keputusan yang baik bagi perusahaan. (mrk/jpnn)


Redaktur : Sutresno Wahyudi
Reporter : Sutresno Wahyudi, Sutresno Wahyudi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler