Hari Santri 22 Oktober, Gus Jazil: Masalah antara Agama dan Negara Sudah Tuntas

Selasa, 20 Oktober 2020 – 13:31 WIB
Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid (Gus Jazil) saat Sosialisasi Empat Pilar MPR di Ciputat Timur, Senin (19/10). Foto: Humas MPR RI.

jpnn.com, TANGSEL - Wakil Ketua MPR RI Jazilul Fawaid mengatakan Deklarasi Resolusi Jihad 22 Oktober dan pertempuran di Surabaya pada 10 November merupakan satu rangkaian perjuangan pasca Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 1945.

"Ada peristiwa besar di Indonesia yang terjadi dalam satu hentakan," kata Jazilul saat melakukan sosialisasi Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika atau yang lebih dikenal dengan Empat Pilar MPR di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten pada Senin (19/10).

BACA JUGA: Jangan Kalah dengan UNNES, Bamsoet Dorong E-Voting di Pilkada dan Pemilu

 

Hadir dalam sosialisasi yang bertema ‘Semangat Hari Santri dan Penguatan Empat Pilar MPR Untuk Indonesia Maju’ itu, antara lain anggota MPR dari FPKB Mohammad Rano Alfath, Ketua GP Ansor Tangsel Ahmad Fauzi, Ketua GP Ansor Ciputat Timur Fauzul Arif; dan Rois Syuriah NU Ciputat Timur KH Imam Abda.

BACA JUGA: Arief Poyuono: Tak Usah Temui Pedemo, Stafsus Milenial Juga Belum Tentu Paham

Gus Jazil -panggilan Jazilul mengatakan bahwa Hari Santri sangat unik, karena hanya diperingati di Indonesia. Momentum itu pun menurutnya bukan milik satu golongan namun milik seluruh umat Islam.

 

BACA JUGA: Hendri Satrio: Jangan-jangan Menteri Jokowi Pada Takut Ketemu Pedemo

"Hari Santri adalah suatu semangat di mana agama bisa bertemu dengan paham nasionalisme. Itu disebut santri," ucap politikus asal Pulau Bawean, Gresik, Jawa Timur ini.

Dari definisi itu, Gus Jazil meyakini bahwa santri tidak akan pernah berubah pikiran untuk mempertentangkan antara agama dengan negara. Sehingga, momentum peringatan Resolusi Jihad itu justru akan semakin menguatkan bahwa masalah antara agama dengan negara sudah tuntas.

Dia lantas membandingkan semangat perjuangan pada masa lalu dan masa sekarang. Dikatakan, pada masa perjuangan merebut kemerdekaan, musuh bangsa ini jelas, yakni Jepang dan Belanda sebagai penjajah.

"Kita berjuang di medan pertempuran untuk mengusir mereka," ucap waketum PKB ini.

Nah, dalam mengisi kemerdekaan, katanya, musuh bangsa ini tetap ada namun tidak perlu dihadapi di medan pertempuran.

"Musuh kita saat ini adalah kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan. Karena bentuknya tidak fisik, sehingga susah menghadapinya," jelas Gus Jazil.

Dia menambahkan, banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan dalam mengisi kemerdekaan yang telah diraih. Dengan semangat Empat Pilar dan Hari Santri, dia berharap apa yang menjadi pekerjaan besar bangsa Indonesia seperti kemiskinan, kebodohan, dan keterbelakangan, bisa diselesaikan.

Namun saat ini Gus Jazil kecewa karena bangsa ini justru lebih sibuk dengan masalah-masalah yang tidak produktif, seperti banyaknya hoaks di tengah masyarakat.

Karena itu, katanya, semua elemen masyarakat perlu kembali kepada tujuan berbangsa dan bernegara. "Kita perlu merenungkan kembali apa tujuan kita bernegara," pungkasnya.(jpnn)


Redaktur & Reporter : M. Fathra Nazrul Islam

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler