Harimau Sumatera yang Direhabilitasi di BKSDA Jambi Mati, Apa Penyebabnya?

Selasa, 02 November 2021 – 22:44 WIB
Harimau sumatra (Phantera tigris sumatrae) yang ditemukan di kandang rehabilitasi BKSDA Jambi ditemukan mati pada Selasa (2/11/2021).(ANTARA/HO)

jpnn.com, JAMBI - Harimau Sumatera (Phantera tigris sumatrae) yang beberapa waktu lalu dievakuasi tim Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Provinsi Jambi dan menjalani rehabilitasi di kandang Tempat Penampungan Satwa (TPS) BKSDA mati.

"Saat ini tim dokter masih melakukan proses necropsy atau proses pembedahan untuk mengetahui penyebab kematian harimau tersebut," kata Kabag TU BKSDA Jambi Teguh, Selasa.

BACA JUGA: Ini Asal Duit yang Dipamerkan Istri AKBP Agus Sugiyarso, Oalah

Harimau Sumatera berjenis kelamin betina tersebut, saat dievakuasi BKSDA pada Sabtu 16 Oktober lalu memang sudah dalam kondisi bagian kaki terluka dan kurus karena kekurangan makanan serta mengalami gangguan pencernaan.

Teguh mengatakan bahwa pada Selasa dini hari (2/11) sekitar pukul 02.00 WIB, tim dokter yang menangani harimau tersebut masih memberikan makanan.

BACA JUGA: Istri Joget TikTok Pamer Duit Segepok, AKBP Agus Sugiyarso Kena Getahnya

"Kemudian pada pukul 07.00 WIB, tim dokter mau memberikan makan tapi harimau tersebut sudah dalam keadaan mati, perkiraan matinya beberapa waktu sebelumnya sekitar pukul 05.00 WIB," kata Teguh.

Sebelumnya memang kondisi harimau Sumatera tersebut sangat kurus dan sudah terbujur kaku tidak bergerak lagi.

Untuk lengkapnya pengungkapan kematian harimau itu akan diumumkan pihak BKSDA Jambi sekalian menyebutkan penyebab kematian itu.

Sebelumnya, Tim BKSDA Jambi mengevakuasi harimau sumatra ini karena terlibat konflik dengan manusia di Desa Guguk, Desa Air Batu dan Desa Marus Jaya Kecamatan Renahpembarap pada 25 September lalu.

Kejadian tersebut mengakibatkan dua orang meninggal dunia dan satu orang mengalami luka-luka dan saat dievakuasi Tim BKSDA Jambi pada Sabtu 16 Oktober lalu kondisi Harimau sudah dalam keadaan kurus dan ada luka bekas jerat. (antara/jpnn)

Jangan Lewatkan Video Terbaru:


Redaktur & Reporter : Rah Mahatma Sakti

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler