Hasil Survei: 91,9 Persen Kasus COVID-19 di DKI Jakarta Tak Terdeteksi

Rabu, 14 Juli 2021 – 14:24 WIB
Tangkapan layar - Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan melakukan peninjauan tenda darurat di RSUD Tarakan, Jakarta Pusat, Senin (28/6/2021). ANTARA/Mentari Dwi Gayati/aa.

jpnn.com, JAKARTA - Tim Pandemi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) melakukan survei bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta, Lembaga Eijkman dan CDC Indonesia.

Hasilnya, 91,9 persen kasus COVID-19 di Jakarta tidak terdeteksi, mengacu pada hasil survei serologi pada 15-31 Maret 2021.

BACA JUGA: Gus Halim Ulang Tahun, Doa dari Warganet Soal Bangun Desa

Epidemiolog FKM UI Pandu Riono mengatakan deteksi kasus COVID-19 masih sangat rendah.

Proporsi kasus yang terdeteksi hanya 8,1 persen sedangkan 91,9 persen tidak terdeteksi oleh sistem.

BACA JUGA: DPD Dukung Upaya Kementan Kembangkan Produk Olahan Berbahan Dasar Singkong

“Artinya, kalau melihat data sekian banyak di DKI, sebenarnya yang terjadi di populasi bisa jauh lebih banyak karena yang dilaporkan atau terdeteksi dalam sistem hanya 8,1 persen,” ujar Pandu dalam diskusi virtual yang diadakan oleh Persepi di Jakarta, pada Selasa (14/7) kemarin.

Survei serologi dilakukan untuk mengukur respons imun terhadap suatu antigen dari sediaan darah seseorang.

BACA JUGA: Puan: Rakyat Harus Dipersuasi, Jangan Dimarahi Apalagi Langsung Disemprot!

Metode survei dirancang untuk menggambarkan prevalensi penduduk di DKI Jakarta yang pernah terinfeksi COVID-19 atau yang antibodi SARS CoV-2-nya terdeteksi.

Menurut penelitian yang dilakukan pada 15 sampai 31 Maret 2021 itu menunjukkan dari yang tidak terdeteksi 57,4 persen di antaranya tidak bergejala, sementara 34,0 persen bergejala.

Angka ini menunjukkan jumlah pasien orang tanpa gejala (OTG) cukup tinggi dan tidak terdeteksi oleh sistem.

OTG didominasi kelompok umur muda, usia 1-14 tahun 70,8 persen.

Kemudian, usia lebih dari atau sama dengan 1 tahun 65,9 persen.

Sisanya, usia 15-49 tahun mencapai 62,6 persen dan usia lebih dari 50 tahun mencapai 55,7 persen.

"Ini mengindikasikan bahwa sistem testing di DKI walaupun sangat tinggi tetap tidak bisa mengidentifikasi atau mendeteksi sebagian mereka yang memang sudah terinfeksi," ucapnya.

Survei serologi mengambil 4.919 sampel (98,4 persen) dari target sampel 5000 penduduk usia 1 tahun lebih yang tersebar di 100 kelurahan di enam wilayah administrasi DKI Jakarta.

Untuk pemeriksaan antibodi SARS CoV-2 menggunakan tes akurat yang disumbangkan oleh US CDC dengan tetracore-luminex.

Ketua Bidang Penanganan Kesehatan Satgas COVID-19 Brigjen TNI (Purn) dr. Alexander K. Ginting mengatakan bahwa DKI Jakarta memiliki tingkat testing yang tinggi dan melebihi apa yang diminta standar WHO.

Namun, belum bisa mencerminkan apa yang dikatakan dalam penelitian serologi yang dilakukan kali ini.

"Ada sesuatu hal yang harus dicari bagian missing linknya,” katanya.

Meskipun demikian, Alexander mengakui hasil penelitian ini bermanfaat untuk melihat kembali apakah 3T (testing, tracing dan treatment) harus dicari dalam model yang baru.

“Hasil penelitian ini bisa dimanfaatkan untuk membangkitkan semangat bagi semua pihak, termasuk masyarakat dan pemerintah, untuk meningkatkan partisipasi dalam penerapan prosedur kesehatan serta pelaksanaan 3T,” kata Alexander.

Direktur Riset SMRC Deni Irvani berpendapat hasil survei serologi tidak mengonter data terkonfirmasi COVID-19 yang dirilis pemerintah.

“Justru ini adalah informasi yang sangat bermanfaat bagi pemerintah dan kita semua bahwa COVID-19 diestimasi sudah sangat menyebar di DKI Jakarta,” kata Deni.

Lanjut Deni, data pemerintah masih bisa diandalkan sementara data serologi ini berfungsi sebagai tambahan informasi untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya.(Antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Ken Girsang

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler