Hasil Survei: Di Rumah Ortu Marah-marah, Anak Kangen Teman Sekolah

Sabtu, 16 Mei 2020 – 15:23 WIB
Dekan FKIP Uhamka Dr Desvian Bandarsyah, M. Pd dalam seminar nasional daring PAUD. Foto: Mesya/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pandemi Covid-19 yang diperkirakan berlangsung cukup lama, berpotensi berakibat pada terjadinya lost generation.

Bila hal tersebut tidak dicarikan solusinya, bonus geografi yang diprediksi akan dinikmati Indonesia dan sebagian kecil negara hanya jadi angan-angan.

BACA JUGA: Hotman Paris: Itu Pemalsuan, Jebloskan ke Penjara!

Hal tersebut diungkapkan Dekan Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Prof Dr Hamka, Dr Desvian Bandarsyah, M. Pd dalam seminar nasional online bertajuk Wajah Baru PAUD di Indonesia Pascapandemi Covid-19 : Sinergi Sekolah & Keluarga besutan PG PAUD FKIP Uhamka, Sabtu (16/5).

"Pandemi Covid-19 yang cukup panjang, ancamannya terjadi lost generation atau generasi yang hilang. Kita lihat daya beli masyarakat turun sehingga akses pendidikan juga melemah," kata Desvian.

BACA JUGA: Menanggapi Pernyataan Jokowi, Iwan Fals Mengaku Sudah Empot-empotan

Yang mengkhawatirkan, lanjut Desvian, dengan menurunnya daya beli masyarakat otomatis para orang tua kesulitan mencukupi kebutuhan gizi anaknya terutama anak balita.

Bila gizi tidak tercukupi ditambah akses pendidikan melemah, lost generation pasti terjadi.

BACA JUGA: Jenderal Luhut Panjaitan pakai 4 Kuasa Hukum, Said Didu Tunjuk Letkol Helvis

"Bonus demografi kalau tidak dibarengi kemampuan akses pendidikan dan negara tidak bisa memberikan sistem pendidikan yang berkeadilan maka akan jadi masalah," ucapnya.

Dia melanjutkan, masa pandemi memaksa orang tua dan rumah sebagai guru serta sekolah. Ini sebagai wadah sekaligus aktor penting untuk menggali potensi anak.

Itu sebabnya, wajah PAUD ke depan harus diubah, dikembalikan ke asalnya sesuai amanat Ki Hajar Dewantara, di mana sekolah, orang tua dan lingkungan harus saling menopang.

"Kalau selama ini kan sendiri-sendiri makanya saat belajar di rumah banyak orang tua tidak siap menjadi guru. Dan, rumah tidak siap dijadikan sekolah," sergahnya.

Praktik pendidikan dasar terutama PAUD pun mau tak mau dilaksanakan di rumah.

Belajar dari rumah adalah salah satu cara melawan ketidakberdayaan manusia di hadapan virus Covid-19. Rumah harus jadi solusi bagi anak-anak untuk mendapatkan hak pendidikan.

Senada itu Deputi Menteri PPPA Bidang Tumbuh Kembang Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Lenny N Rosalin mengungkapkan, dari hasil survei yang dilakukan, banyak orang tua tidak siap menjalankan tugasnya sebagai guru dan pengawas bagi anak-anaknya. Tercatat hanya 32 persen anak didampingi orangtuanya saat belajar.

Anak-anak juga tidak senang belajar di rumah. Dia lebih senang bertemu dengan teman-temannya apalagi di rumah orangtuanya marah-marah sehingga mereka jadi stres.

"58 persen anak-anak tidak senang belajar di rumah. Bagi anak-anak PAUD bermain di sekolah, bertemu teman-teman dan guru-gurunya adalah hal yang paling dikangenin," tandasnya. (esy/jpnn)


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler