Hasil Survei: Prabowo-Gibran Tembus 52,4%, AMIN dan Ganjar-Mahfud Bersaing Ketat

Minggu, 04 Februari 2024 – 19:42 WIB
Temuan survei yang dilakukan Jakarta Research Center (JRC) menunjukkan elektabilitas Prabowo-Gibran mencapai 52,4 persen. Foto: dok JRC

jpnn.com, JAKARTA - Kurang dari dua minggu lagi menuju pencoblosan, elektabilitaas pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka terus bergerak naik.

Temuan survei yang dilakukan Jakarta Research Center (JRC) menunjukkan elektabilitas Prabowo-Gibran mencapai 52,4 persen.

BACA JUGA: Pesan Jokowi untuk Anies, Prabowo, dan Ganjar, Jangan Terjebak

Praktis kini pasangan calon presiden dan calon wakil presiden dengan nomor urut 02 itu makin jauh meninggalkan dua pesaingnya.

Elektabilitas pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) hanya 21,2 persen, terpaut tipis dari Ganjar Pranowo-Mahfud MD yang sebesar 20,1 persen.

BACA JUGA: Sukarelawan Bergerak 1912 di Malaysia Deklarasi Dukung Prabowo-Gibran

Dengan sisa waktu yang makin sempit, upaya baik dari kubu AMIN maupun Ganjar-Mahfud untuk mempersempit jarak elektabilitas dengan Prabowo-Gibran semakin mengecil.

Pemilihan presiden yang bakal digelar pada 14 Februari mendatang diprediksi berlangsung hanya dalam satu putaran.

BACA JUGA: Pakar Sebut Program Makan Siang Gratis Prabowo-Gibran Berdampak Positif

“Elektabilitas pasangan Prabowo-Gibran menembus 52,4 persen, jauh mengungguli AMIN dan Ganjar-Mahfud yang keduanya masih bersaing ketat,” kata Direktur Komunikasi JRC Alfian P di Jakarta pada Minggu (4/2).

Menurut Alfian, Prabowo-Gibran menikmati tren kenaikan elektabilitas, ketika dua pasangan yang lain mengalami fluktuasi.

Pada September 2023, sebelum pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum, Prabowo bahkan masih tertinggal elektabilitasnya dari Ganjar dalam simulasi tanpa cawapres.

Begitu dipasangkan dengan Gibran, elektabilitas pasangan yang diusung oleh Koalisi Indonesia Maju (KIM) itu melambung, hingga terus bergerak mencapai lebih dari 50 persen pada pergantian tahun.

“Majunya Gibran yang merupakan putera Presiden Jokowi menjadi game changer,” tandas Alfian.

Tampilnya Gibran dalam Pilpres memperkuat arah dukungan Jokowi terhadap Prabowo, sekaligus menggerus elektabilitas Ganjar-Mahfud yang diusung koalisi PDIP.

“Perpecahan antara Jokowi dan elite PDIP makin dalam setelah Gibran maju sebagai pasangan cawapres Prabowo,” tegas Alfian.

Kritik dan serangan yang dilancarkan oleh kubu PDIP dan Ganjar-Mahfud tidak berdampak negatif terhadap elektabilitas Prabowo-Gibran, justru membuat pasangan capres-cawapres dengan nomor urut 03 itu semakin melorot.

Bahkan elektabilitas Ganjar-Mahfud tersalip oleh pasangan Anies-Muhaimin pada bulan Januari lalu.

Pasangan nomor urut 01 itu diam-diam beranjak naik, dari semula Anies selalu menempati posisi buncit pada tiga besar berhasil menggeser Ganjar-Mahfud, kemudian menduduki peringkat kedua.

“Dengan berbaliknya situasi dari semula Ganjar memimpin kini justru jauh tertinggal dari Prabowo, kubu 03 mewacanakan untuk menggalang aliansi dengan kubu 01 dalam upaya mendorong agar Pilpres bisa berlangsung dalam dua putaran,” jelas Alfian.

Upaya terakhir yang dilakukan adalah mendorong Mahfud mundur dari jabatan Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan pada kabinet Jokowi.

Lalu muncul gelombang pernyataan dari kalangan perguruan tinggi yang mempersoalkan krisis etika pada praktik penyelenggaraan negara.

“Tuduhan soal pelanggaran etika terus digaungkan sejak keluarnya putusan Mahkamah Konstitusi yang membolehkan kepala daerah berusia di bawah 40 tahun maju sebagai cawapres, dan dituding melempangkan jalan bagi Gibran,” terang Alfian.

Nyatanya, alih-alih menjatuhkan elektabilitas, justru dukungan terhadap pasangan 02 itu semakin menguat. “Prabowo-Gibran yang menampilkan diri paling siap melanjutkan program Jokowi berkorelasi dengan tingginya tingkat kepuasan terhadap kinerja Jokowi,” Alfian menjelaskan.

Pecah kongsi Jokowi dengan PDIP juga semakin merugikan pasangan 03, karena praktis Prabowo-Gibran mendapat limpahan dukungan dan sumber daya dari kekuasaan. “Meskipun aspek netralitas terus ditekankan, kandidat yang didukung petahana selalu dalam posisi diuntungkan,” ujar Alfian.

Kenaikan elektabilitas Prabowo-Gibran juga banyak disumbang dari migrasi pemilih nasionalis yang mengkhawatirkan kemungkinan aliansi antara 03 dengan 01. “Kalangan nasionalis moderat merasa enggan mendukung sosok yang menggunakan politik identitas demi meraih kekuasaan,” kata Alfian.

Jurus terakhir kubu Ganjar-Mahfud tampaknya berhasil sedikit mengungkit elektabilitas dan merebut kembali panggung dari kubu Anies-Muhaimin. “Elektabilitas pasangan 03 naik tipis sementara 01 turun, tetapi tidak mengubah peringkat keduanya,” papar Alfian.

Jika tidak ada perubahan signifikan, Prabowo-Gibran diperkirakan bakal memenangkan Pilpres hanya dalam satu putaran. “Pasangan 02 berpeluang menambah elektabilitas dari swing voters, trennya terus menurun hingga tersisa 6,3 persen yang menyatakan tidak tahu/tidak jawab,” pungkas Alfian.

Survei Jakarta Research Center (JRC) dilakukan pada 25-31 Januari 2024, secara tatap muka kepada 1200 responden mewakili seluruh provinsi di Indonesia. Metode survei adalah multistage random sampling, dengan margin of error ±2,9 persen dan pada tingkat kepercayaan 95 persen. (dil/jpnn)

Jangan Sampai Ketinggalan Video Pilihan Redaksi ini:


Redaktur & Reporter : M. Adil Syarif

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler