Hatta: Saya Berbelasungkawa Sebesar-besarnya Buat Keluarga Korban

Selasa, 15 November 2016 – 03:59 WIB
Suasana di Gereja Oikumene, Samarinda, Kaltim, pasca-ledakan bom. Foto: prokal/jpg

jpnn.com - MEDAN - Sejumlah pihak mengutuk tindakan terorisme yang di depan Gereja Oikumene Samarinda, Kalimantan Timur. 

Peledakan bom molotov yang akhirnya menewaskan balita bernama Intan Marbun tersebut sangat bertentangan dengan ajarna Islam.

BACA JUGA: Diguyur Hujan Deras, Jalan Lintas Riau-Sumbar Tertutup Longsor

Apapun alasannya, membawa-bawa nama Islam, pelakunya dianggap orang tak waras.

“Perbuatan seperti itu tidak dibenarkan dalam ajaran Islam. Islam itu damai. Itu pelakunya orang gila," ungkap Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Medan, Mohd Hatta, seperti diberitakan Sumut Pos (Jawa Pos Group) hari ini.

BACA JUGA: 200 Personil Brimob Riau Mendadak Dikirim ke Batam

Hatta yang mengaku tengah di Samarinda menyakini tidak akan ada konflik horizontal terjadi sebagai ekses dari pelemparan bom di Samarinda. 

"Masyarakat saya yakini tak akan terpicu atas perbuatan orang tak bermoral seperti itu," sebutnya.

BACA JUGA: Kuasa Hukum Marthen Dira Tome Segera Serahkan Surat Keberatan ke KPK

Seorang muslim tidak pernah diajarkan untuk melakukan kekerasan, melukai orang lain. “Yang dinamakan jihad tidak seperti itu,” kata Hatta.

"Yang saya lihat itu seperti 'main-main' oleh seorang teroris. Dia cuma ingin memperkeruh kebhinekaan negara kita dengan mentamengkan agama, memprovokasi pemeluk agama lain agar membenci umat islam," kata Hatta

Hatta mengaku memberi belasungkwa sedalam-dalamnya kepada keluarga Intan, bocah yang nyawa melayang meski sebelumnya sempat mendapat perawatan intensif.

"Saya berbelasungkawa sebesar-besarnya buat keluarga korban. Pelaku harus benar-benar diberi hukuman seberat-beratnya. Itu perbuatan biadab dan keji," cerita Hatta.

Hatta berada di Samarinda menurutnya dalam rangka menghadiri kegiatan MTQ Nasional hingga tanggal 20 November. Dari sana dia kembali berpesan kepada umat beragama yang ada di Medan untuk tetap menjaga kerukunan.

"Kejadian ini sama sekali tak merepresentasikan gerakan jihad, ini gerakan biadab. Tidak ada pembenarannya. Saya harapkan masyarakat tidak terpancing yang bisa menimbulkan konflik SARA terjadi khususnya di Medan," pungkas Hatta.

Diketahui Intan Olivia Marbun dan tiga orang temannya sedang bermain di teras Gereja Oikumene HKBP Samarinda saat pelaku melemparkan bom molotov. Intan mengalami luka bakar yang cukup parah, sampai 90 persen hingga akhirnya meninggal dunia. (mag-1/ray/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Pengumuman! Tidak Membawa KTP Didenda Rp 50 Ribu


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler