Hujan Angin Landa Surabaya

Senin, 10 Maret 2014 – 11:31 WIB

jpnn.com - SURABAYA - Hujan lebat dan angin kencang yang melanda Surabaya kemarin sore berdampak serius terhadap aktivitas warga. Selain menimbulkan genangan air di beberapa titik, hujan angin menumbangkan beberapa pohon.

Pohon roboh, antara lain, terjadi di kawasan MERR, Jalan Mastrip, dan paling banyak di Jalan Ahmad Yani. Ada empat pohon yang tumbang di Jalan Ahmad Yani. Perinciannya, 1 pohon roboh di depan mal Cito, 2 pohon di depan Dinas Perhubungan (Dishub) Jatim, serta 1 pohon di depan depot Pecel Padi Giling dan Mie 55. Yang tumbang itu merupakan pohon sono berukuran besar. 

Robohnya pohon tersebut juga mengakibatkan kemacetan panjang. Laju kendaraan dari arah Sidoarjo menuju Surabaya pun tersendat. Namun, petugas Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP) Surabaya segera datang ke lokasi untuk membersihkan potongan ranting-ranting pohon tersebut. Bahkan, Wali Kota Tri Rismaharini turun langsung ke lapangan untuk membantu penanganan.

Karno, salah seorang saksi mata, mengatakan bahwa pohon-pohon itu ambruk sekitar pukul 14.00. Menurut dia, saat itu hujan lebat disertai angin kencang. "Tiba-tiba ada suara krek, lalu pohon roboh ke jalan," terangnya.

Dalam kejadian tersebut, tidak ada korban jiwa. Saat pohon roboh, lalu lintas di Jalan Ahmad Yani sedang lengang. "Untung saja tidak ada kendaraan yang melintas saat pohon ambruk," kata Karno.

Kabid Pertamanan dan PJU DKP Surabaya Mochammad Aswan mengungkapkan, pohon-pohon itu murni roboh karena angin kencang. "Itu kejadian alam. Kami tidak bisa mencegahnya, hanya bisa berdoa," jelasnya.

Aswan menambahkan, sebenarnya pihaknya sudah mengantisipasi munculnya cuaca ekstrem. Caranya dengan memotong dan merampingkan dahan tanaman di sepanjang jalan di Surabaya. "Namun, angin terlalu kencang," katanya. Karena itu, lanjut Aswan, pihaknya akan kembali merampingkan pohon-pohon yang ada. Terutama di Jalan Ahmad Yani. 

Selain pohon tumbang, genangan air muncul setelah hujan lebat. Misalnya, di Jalan Gayungsari Barat dan Jalan Dukuh Menanggal. Ketinggian air mencapai lutut orang dewasa. Akibat genangan air tersebut, pengendara roda dua sulit melintas. Bahkan, ada beberapa pengendara yang mengurungkan niatnya untuk melintas di Jalan Gayungsari dan Dukuh Menanggal.

Camat Gayungan Soedibyo mengungkapkan, genangan di Jalan Dukuh Menanggal itu muncul karena sungai tidak mampu menampung air hujan. "Sungai kecil tidak mampu menampung debit air," paparnya. Di Gayungsari Barat, genangan disebabkan pembangunan box culvert yang belum rampung. 

Lebih lanjut, Soedibyo mengatakan, pihaknya akan mengusulkan pembangunan saluran segera diselesaikan. Selain itu, dia meminta sungai di Jalan Dukuh Menanggal dinormalisasi.

Tak hanya pohon tumbang dan genangan air, guyuran hujan disertai angin kencang juga merobohkan papan rambu penunjuk jalan. Tepatnya di Jalan Akses Medaeng. Selain itu, sebuah tiang penerangan jalan umum (PJU) roboh di jalan tol Surabaya-Gempol. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut.

Hendro Waskito, petugas patroli tol Sumo PT MNA, mengatakan bahwa rambu penunjuk itu ambruk karena angin kencang yang berembus kemarin sore. Angin tersebut mengakibatkan tiang pancang tercerabut dari tanah. "Langsung kami perbaiki di tempat, terus kami pasang lagi," jelasnya. 

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Juanda memperkirakan, intensitas hujan bertambah tinggi dalam beberapa hari ke depan. Selain itu, hujan akan disertai petir. 

Prakirawan BMKG Juanda Teguh Tri Susanto menjelaskan, curah hujan sekitar 25 mm, sedangkan kecepatan angin mencapai 5-35 km/jam. Tingginya curah hujan disertai angin kencang itu disebabkan atmosfer yang tidak stabil. Hal tersebut menunjukkan akan adanya pergantian musim. "Ini menuju ke musim pancaroba. Dari hujan ke kemarau," jelasnya.

Teguh menambahkan, pergantian musim selalu diikuti dengan cuaca ekstrem. Karena itu, dia meminta warga untuk berhati-hati ketika hujan turun. "Jangan berteduh di bawah pohon," paparnya.

Musim pancaroba datang pada dasarian ketiga Maret atau sekitar minggu ketiga Maret. Setelah itu, musim hujan berganti menjadi musim kemarau. 

Selain itu, hujan lebat disertai angin kencang menimpa pengendara yang melaju di jalan tol. Korbannya adalah Prasetyono, warga Bukit Palma, Babat Jerawat, Pakal, Surabaya. Kaca depan dan kap mobil Suzuki Ertiga bernopol L 1691 XD yang dikendarai pecah karena tertimpa atap gerbang utama tol Waru yang runtuh. Untung, dalam kejadian itu, tidak ada korban jiwa. 

General Affair Jasa Marga Cabang Surabaya Gempol Effendi mengatakan, peristiwa itu terjadi pada pukul 14.05. Saat itu turun hujan lebat di sekitar gerbang tol utama Waru. Cuaca juga sangat ekstrem. Saat itu Prasetyono masuk gerbang tol. "Saat akan masuk, atap runtuh dan menimpa mobilnya," jelas dia.

Menurut Effendi, itu terjadi murni karena alam. Namun, pihaknya tetap akan bertanggung jawab atas kerusakan kendaraan Prasetyono. "Kami janji kembali membahasnya Senin (hari ini, Red) dengan pemilik kendaraan," terangnya. 

Selain atap yang ambruk, ada sejumlah pohon yang tumbang. Di antaranya, di Km 15 arah Perak. Ada juga di Km 16 menuju Waru, serta di Km 17 arah Sidoarjo. (aph/c7/c10/nw)

BACA JUGA: Polisi Tembak Mati Orang Sakit Jiwa

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kepala Biro TV Swasta Tewas di Kamar Hotel


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler