HWN Minta Pandemi Tak Menyurutkan Semangat Kepahlawanan

Rabu, 10 November 2021 – 12:06 WIB
Wakil Ketua MPR-RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid tetap semangat memaknai Hari Pahlawan 10 November. Foto: MPR RI

jpnn.com, JAKARTA - Wakil Ketua MPR-RI Dr. H. M. Hidayat Nur Wahid tetap semangat memaknai Hari Pahlawan 10 November.

Dia mengajak generasi milenial tidak meninggalkan laku dan semangat kepahlawanan sekalipun meski berada di dalam kondisi pandemi covid-19.

BACA JUGA: HNW Tegaskan Selain NKRI, Pembukaan UUD 1945 Harga Mati

HNW sapaan akrab Hidayat membeberkan satu abad yang lalu Indonesia juga diserang pandemi yakni Flu Spanyol.

Menguti data Burgerlijke Geneeskundige Dienst/BGD pada zaman kolonial, flu tersebut menewaskan lebih dari satu juta orang di Hindia Belanda.

BACA JUGA: HNW: Amendemen UUD 1945 Selalu Terbuka, Hanya Satu yang tak Bisa Diubah

"Dalam bayangan pandemi dan perjuangan lepas dari penjajahan Belanda, para pemuda memaksimalkan potensi," ujar HNW saat memberikan sambutan pada Peringatan Hari Pahlawan dan Launching Lomba Pidato Biografi Tokoh Bangsa Tingkat Nasional Fraksi PKS DPR-RI, Selasa (9/11).

Pemuda, lanjut HNW menghimpun diri dalam wadah Persatuan Indonesia, menghadirkan Kongres Pemuda Indonesia dan Kongres Perempuan Indonesia. Kedua kongres, itu merupakan pilar penting menuju kemerdekaan Indonesia yang kemudian digawangi oleh BPUPKI, Panitia Sembilan, dan PPKI.

BACA JUGA: HNW: Maulid Nabi jadi Momentum Pemimpin Berinstropeksi

Para Pemuda dengan tokoh sentral Bung Tomo, melanjutkan peran itu. Mereka termotivasi oleh Resolusi Jihad KH Hasyim Asyari (22/10/1945), dengan pekikan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar! Merdeka!" menyemangati arek-arek Suroboyo.

Mereka menyelamatkan Indonesia dari kembalinya penjajah Belanda. Peristiwa heroik 10 November 1945 itu oleh Presiden Soekarno melalui Keppres 316/1959 ditetapkan sebagai Hari Pahlawan.

“Mereka memberi keteladanan nyata, menjadi pahlawan bangsa dalam momen penuh tantangan. Yaitu, mempersiapkan, merebut dan mempertahankan kemerdekaan Indonesia, justru saat mereka bertemu dengan kondisi Pandemi Flu Spanyol dan penjajahan Belanda," ungkapnya.

Oleh karena itu pandemi covid-19 dan kekhawatiran terjadinya neo-kolonialisme, mestinya bisa menghadirkan spirit para pahlawan dari kalangan Pemuda (generasi milenial) yang menyelamatkan Indonesia.

"Membawa Indonesia menuju kejayaannya pada momen 1 Abad Kemerdekaan di tahun 2045 nanti,” kata Hidayat.

Acara itu dihadiri oleh Ketua Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Salim Segaf Al-Jufrie dan Presiden PKS H. Ahmad Syaikhu. Juga Ketua Fraksi PKS DPR-RI Jazuli Juwaini, Budayawan Sudjiwo Tejo, dan Peneliti Utama BRIN Prof. Siti Zuhro. Serta Anggota Fraksi PKS dan seluruh struktur Partai Keadilan Sejahtera dari pusat hingga daerah.

Wakil Ketua Majelis Syura PKS itu juga mengapresiasi kegiatan tahunan dengan tema kepahlawanan yang diselenggarakan oleh PKS.

Menurutnya, apa yang dilakukan PKS adalah contoh baik, yang seharusnya dilakukan Partai Politik. Parpol tidak seharusnya hanya sekedar berkegiatan mencari kekuasaan dan berkompetisi melalui Pemilu.

Namun, juga serius melakukan peran edukasi dan advokasi dengan menghadirkan semangat kebangsaan yang merujuk pada aktivitas keteladanan dan kepahlawanan para tokoh bangsa.

"Bagi PKS kegiatan ini juga penting untuk membuktikan identitasnya yang menerima dan menjadi bagian dari keberagaman sesuai dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika," ujar dia.

HNW mengatakan PKS menghadirkan 8 tokoh agar para Pemuda menginternalisasi keteladanan mereka dengan mengikuti lomba pidato biografi tokoh bangsa. Yakni, Ir. Soekarno, Mohamad Hatta, Jenderal Sudirman, KH. Ahmad Dahlan, KH. Hasyim Asyari, Cut Nyak Dien, RA Kartini, dan Rahmah El-Yunusiyyah. Pemilihan para tokoh untuk dipelajari dan dipidatokan biografinya, menunjukkan sebagai partai Islam.

"PKS mendorong semangat keislaman, juga semangat kebangsaan, cinta Indonesia dan perjuangan para Pahlawan, hingga penghormatan dan pemberdayaan perempuan.

“Sikap kepahlawanan bagi PKS adalah meneladani spirit para Pahlawan Bangsa, dengan mengaktualisasi untuk menghadirkan kontribusi dan inspirasi bagi kemajuan kemanusiaan, memberi manfaat yang nyata pada kehidupan kemanusiaan, berbangsa dan bernegara, sekarang dan yang akan datang terlepas dari sudah diakui atau belum diakui oleh negara," beber HNW.

Oleh karena itu PKS mengakui dan mengusulkan agar Rahmah El-Yunusiyyah yang memperjuangkan pendidikan dan lembaga pendidikan khusus bagi perempuan.

"Sehingga menginspirasi Universitas Al-Azhar di Kairo untuk mendirikan Fakultas khusus untuk perempuan, agar pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Nasional juga,” ujar HNW. (jpnn)


Redaktur & Reporter : Elvi Robia

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
MPR RI   HNW   Hari Pahlawan   10 November   PKS  

Terpopuler