Ibu Hamil Penderita Tumor Otak Berjuang 12 jam di Kamar Operasi

Selasa, 12 April 2016 – 10:02 WIB
Ilustrasi. Foto: dok.JPNN

SURABAYA – Dewi Widia Sari, 32 harus rela kehilangan anaknya akibat tumor sebesar bola tenis bersarang di kepalanya. Tumor itu diperkirakan membesar dalam waktu kurang dari sembilan bulan.

''Awalnya mual-muntah terus selama hamil,'' ujarnya saat ditemui di ruang rawat inap lantai 3 RS Mitra Keluarga Satelit kemarin (11/4).

Ia sering mual layaknya wanita hamil. Namun, mual yang dirasakannya tidak biasa. Masalahnya, mual itu terjadi meski tanpa pemicu. Dulu, saat hamil anak pertama, Dewi hanya mual saat mencium bau tertentu. Pada kehamilan kedua kali ini, Dewi begitu sering muntah. Sehari bisa dua kali. Hal itu terus terjadi selama enam bulan. Kondisi tersebut diperparah dengan rasa nyeri di kepala. Akibatnya, tubuhnya melemah.

Keluhan itu dibiarkan karena menyangka memang bawaan hamil. Namun, pada Februari lalu Dewi jatuh sakit. Dia keluar masuk rumah sakit sampai tiga kali dalam sebulan. Keadaannya semakin parah pada Maret lalu. Dia muntah dan ngompol di tempat tidur. Dewi juga sudah tidak bisa menggerakkan kakinya dengan normal, jalannya tertatih.

Pihak keluarga akhirnya curiga Dewi menderita penyakit tertentu. Sebab, perempuan asli Malang itu kehilangan memori. Dewi sempat ngawur saat ada temannya yang menguji ingatannya. ''Namanya Ratna, tapi saya sebut Sri,'' ujar Dewi. ''Waktu itu saya diajak ngobrol juga nggak nyambung. Anak nangis saya diemin,'' ungkapnya.

Alumnus Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya itu sempat dibawa ke rumah sakit di Malang dalam kondisi tidak sadar. Secara fisik, dia tidak pingsan. Namun, pikirannya tidak bisa diajak berinteraksi. Dokter yang memeriksa mencurigai adanya masalah dengan syaraf otaknya. Dari situ diketahui ada tumor di tengkorak kepala Dewi.

Setelah melalui berbagai pertimbangan, sang suami, Ferry Prasetyo, memutuskan membawa Dewi ke Surabaya. Alat kesehatan yang lengkap dan ketersediaan dokter ahli bedah syaraf menjadi alasannya. Ferry begitu khawatir karena istrinya harus menjalani operasi besar. Yang dibedah bagian perut dan kepala.

Calon bayinya pun harus dikeluarkan. Sebab, itu satu-satunya jalan untuk mengurangi progresivitas tumor. ''Kata dokter, tumor sebesar ini belum pernah ditangani. Harus langsung operasi. Kalau dibiarkan batuk atau mengejan sedikit, bisa koma,'' jelasnya.

Karena itu, begitu masuk RS Mitra Keluarga pada 15 Maret, keesokan harinya dokter langsung melakukan operasi. Pembedahan berlangsung mulai pukul 08.30 sampai 21.00. Totalnya lebih dari 12 jam. Perinciannya, dua jam digunakan untuk Caesar dan sisanya operasi bedah otak. Selama tindakan operasi, Dewi membutuhkan 12 kantong darah untuk transfusi. Sebab, Dewi mengalami pendarahan sampai kehilangan tiga liter darah.

Ferry menyatakan, dirinya bersyukur lantaran operasi besar itu berjalan lancar. Namun, Dewi masih dirawat di ICU. Waktunya sampai sepuluh hari. Saat ini kepala Dewi botak di bagian depan. Rambutnya harus dicukur untuk membuka tengkorak bagian depan.

Saat ditemui Jawa Pos, Dewi sudah terlihat ceria. Padahal, dia baru saja keluar dari ICU. Cara berjalannya masih tertatih. Dia tertawa saat mendengar banyak cerita dari suami dan ibunya ketika kehilangan ingatan.

Dewi lupa kejadian-kejadian sejak Februari. Kalaupun ingat, hanya sekilas. Saat masa kehilangan memori itu, Dewi justru mengingat halusinasinya. Dia pernah berhalusinasi dokter main tembak-tembakan dan perawat baris-berbaris seperti tentara. ''Alhamdulillah sekarang sudah baik kondisinya. Waktu sakit tidak begini,'' kata Ferry. (nir/c15/fat/flo/jpnn)
 

BACA JUGA: Massa Aksi Tuntut Polda Ambil Alih

BACA ARTIKEL LAINNYA... Orang Tua Bocah Tenggelam Minta Rekaman CCTV Hotel Mewah


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler