Ide Full Day School Di-Bully, Inilah Wawancara dengan Mendikbud

Rabu, 10 Agustus 2016 – 06:02 WIB
Mendikbud Muhadjir Effendy. Foto: dok.JPNN.com

jpnn.com - MENDIKBUD Muhadjir Effendy mengaku full day school masih sebatas wacana. Namun, gagasan itu langsung menuai respon luar biasa dari masyarakat. 

Pasalnya urusan sekolah, menjadi hajat hidup masyarakat luas. Sambil santap siang di kawasan SCBD kemarin (9/8) Muhadjir menjelaskan duduk perkara idenya itu.

BACA JUGA: Simak! Lima Hal yang Harus Diperhatikan dalam Full Day School

Gagasan bapak terkait menerapkan sistem sekolah full day mendapat respos luar biasa dari masyarakat. Bagaimana komentar bapak?

Saya itu baru jualan ide. Ingin tahu respon masyarakat seperti apa. Kritik itu bagus. Pandangan masyarakat akan kita tampung.

BACA JUGA: Full Day School, Mau Ditaruh di Mana Siswanya?

Meskipun masih ide, di masyarakat terlanjur heboh…

Ya tidak apa-apa. Lebih baik rame di awal. Ketimbang setelah kebijakan keluar, saya nanti di-bully. 

BACA JUGA: Deddy Corbuzier Anggap Lucu Wacana Full Day School

Cerita sampai ide ini keluar bagaimana?

Saya tegaskan lagi, menteri itu adalah pembantu Presiden. Jadi harus menjalankan visi dan misinya Presiden. Nah di dalam visi misi itu ada perintah atau amar untuk melakukan revolusi karakter bangsa.

Apakah harus dengan full day?

Sebetulnya namanya tidak otomatis full day school. Saya akui kata full day school ini menyesatkan. Tidak ada penambahan pelajaran dan kegiatan harus menyenangkan.

Lalu seperti apa untuk mewujudkan visi misi Presiden itu?

Untuk membangun karakter bangsa, itu ada butir-butir ukurannya. Total ada 18 butir karakter bangsa. Seperti jujur, mandiri, kreatif, dan cinta tanah air. Nah butir-butir karakter bangsa itu tidak bisa disisipkan semuanya ke mata pelajaran.

Maka dari itu saya kira perlu ada perpanjangan waktu anak berada di sekolah. Bukan berarti jam belajarnya tambah banyak. Tetapi untuk penanaman pendidikan karakter itu bisa melalui kegiatan co-kurikuler atau ekstra kurikuler.

Bapak sempat menyebutkan gagasan full day ini untuk SD dan SMP. Itu kenapa?

Untuk menyelenggarakan pendidikan karakter, Kemendikbud sudah ada panduannya. Untuk jenjang SD pendidikan atau penanaman karakter itu porsinya 80 persen. Sisanya 20 persen untuk pendidikan umum atau pelajaran. Kemudian untuk jenjang SMP porsi pendidikan karakter 60 persen dan untuk pendidikan umum 40 persen. Jadi pendidikan karakter sangat optimal diterimak mulai di level pendidikan dasar (SD dan SMP).

Saat ini respon di masyarakat beragam. Ada yang mendukung dan banyak juga keberatan…

Tidak apa-apa. Kemendikbud masih butuh waktu untuk mengkaji ide ini. Prosesnya masih panjang. Putusan final nanti tetap ada di Presiden. Kalaupun tidak jadi atau ada skenario lain, saya tidak apa-apa.

Bapak sendiri yakin gagasan ini baik?

Iya. Khususnya untuk keluarga yang belum siap untuk ikut aktif mendidik anak-anaknya. Saya itu ingin sekolah menjadi rumah kedua. Jangan sampai justru mal atau rental game menjadi rumah kedua anak-anak. 

Salah satu dampak full day itu bisaya sekolah naik. Apakah sudah dipikirkan?

Untuk mendukung penerapan perpanjangan waktu itu, bisa memaksimalkan peran komite sekolah. Saya lebih pas menyebutnya komite gotong royong, biar jelas keberadaannya. Komite gotong royong bisa memfasilitasi orangtua yang ingin ikut terlibat secara finansial.

Saat ini muncul petisi yang menolak penerapan sekolah full day di Indonesia, bagaimana komentar bapak? (dukungan petisi sudah capai 18.523 orang)

Saya tidak terbebani dengan petisi itu. Petisi itu justru menunjukkan masyarakat kita sudah kritis. Kalau ide langsung diterima, itu yang mencurigkan bagi saya. (wan)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Wow! Petisi Tolak Full Day School Tembus 20 Ribu Tanda Tangan


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler