Ikhwanul Muslimin Bisa Menang Lagi

Pemilu Putaran Kedua di Mesir, Partai Islam Diramal Berjaya

Kamis, 15 Desember 2011 – 13:31 WIB

KAIRO - Putaran kedua pemilu legislatif (parlemen) di Mesir berlangsung kemarin (14/12)Sekitar 18,8 juta dari 81 juta warga berhak memberikan suara dalam pemilu pertama pasca-lengsernya Presiden Hosni Mubarak pada Februari lalu.

Mereka mencoblos melalui berbagai tempat pemungutan suara (TPS) yang tersebar di Kota Giza, Provinsi Kairo, dan delapan provinsi lainnya

BACA JUGA: Obama Minta Kembali, Iran Menolak

Yakni, Provinsi Beni Sueif, Menufiya, Sharqiya, Beheira, Ismailiya, Suez, Sohag dan Aswan


Gerakan islam tertua di dunia, Ikhwanul Muslimin, yang mendirikan partai politik baru pasca-kekuasaan Mubarak (Partai Kebebasan dan Keadilan), diramal kembali menang

BACA JUGA: Tabrakan Dua Heli Militer saat Latihan, 4 Penerbang Tewas

Dalam pemilu putaran pertama pada 28-29 November lalu, Ikhwanul Muslimin mendominasi perolehan suara dan meraih kursi terbanyak


Karena itulah, mereka ingin menjaga momentum pemilu dan kemenangan mereka

BACA JUGA: Tentara Syria Siapkan Operasi Tumpas Habis

"Demi terciptanya parlemen yang kuat, serta memenuhi tuntutan dan aspirasi seluruh rakyat, mari kita lanjutkan (untuk mencoblos)," ajak partai tersebut dalam situs resminya di Facebook.

Seperti pada pemilu putaran pertama, coblosan kemarin juga berjalan lancarNamun, sempat terjadi insiden kecil di salah satu TPS di pinggiran KairoPanitia penyelenggara terpaksa menutup TPS sebelum waktunya karena terjadi baku tembak di antara dua kubu pendukung partai tertentu"Tak ada korban jiwaPetugas berhasil membekuk tujuh orang pelaku," ujar seorang pejabat keamanan yang tidak disebutkan namanya

Kecuali insiden penembakan itu, pencoblosan di TPS-TPS lain berlangsung amanTingkat kehadiran (partisipasi) pemilih cukup tinggiBahkan, beberapa jam sebelum TPS dibuka serentak pada pukul 08.00 waktu setempat (sekitar pukul 13.00 WIB), warga sudah terlihat mengantre.

"Ini kali pertama suara kami diperhitungkanKarena itu, kami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini," ungkap Fatma Sayed, salah seorang PNS yang mencoblos di Suez.

Partai-partai Islam bersaing ketat dalam pemilu putaran kedua kali iniPartai-partai tersebut juga diprediksi kembali berjayaIkhwanul Muslimin yang beraliran pragmatis, serta para pesaingnya seperti kubu garis keras Salafi dan sebuah faksi moderat memenangkan dua pertiga kursi pada pemilu putaran pertama yang lalu.

Ikhwanul Muslimin berharap bisa menuai lebih banyak dukunganMereka berjanji akan membentuk koalisi luas yang tak hanya melibatkan front (kelompok) Islam, namun juga kelompok lainnyaSebab, tugas utama parlemen yang terbentuk lewat pemilu itu adalah menyusun konstitusi baruAlhasil, Ikhwanul Muslimin merasa perlu melibatkan semua pihakTermasuk, kubu nasionalis dan liberal.

Selain itu, mereka berusaha menepis anggapan miring rakyat soal partainyaSebagai partai yang selalu berada pada kubu oposisi saat era Mubarak, Ikhwanul Muslimin dianggap oleh sebagian rakyat Mesir terlalu radikalKarena itu, kemenangan Ikhwanul Muslimin pada pemilu putaran pertama sempat memunculkan kekhawatiran di masyarakatWarga cemas Ikhwanul Muslimin akan menjadikan Mesir sebagai negara agama yang berpedoman pada syariat Islam

"Kami tak akan memimpin Mesir sendirianParlemen akan melibatkan semua warna pelangi (seluruh perwakilan politik) yang punya tujuan yang sama dan berjalan pada satu jalur," tegas Mohamed Badie, pemimpin Ikhwanul Muslimin, dalam wawancara dengan stasiun televisi swasta Mesir

Pernyataan itu sengaja disampaikannya jelang pemilu kemarin untuk menjaring lebih banyak suaraIkhwanul Muslimin juga berharap pemilu putaran kedua ini bisa memberikan hasil yang lebih signifikan.

"Saya rasa, kecenderungannya akan tetap sama dengan putaran laluFreedom and Justice Party (FJP), partai bentukan Ikhwanul Muslimin, masih akan memimpinTetapi, persentasenya akan berubah menjadi lebih sedikit," ramal Hassan Abou Taleb, pengamat politik dari Al Ahram Centre for Political and Strategic StudiesItu membuktikan bahwa rakyat Mesir tidak yakin Ikhwanul Muslimin bakal menerapkan pemerintahan demokratis yang tidak berbasis pada agama

Berbeda dengan parlemen Mesir sebelumnya, lembaga penyusun undang-undang pada era demokrasi nanti akan memiliki hak legislatifJadi, parlemen berwenang untuk menyusun undang-undang dasar sebagai acuan langkah politik pemerintahSebelumnya, pemerintah Mesir selalu berpijak pada aturan rezim MubarakNantinya, setelah terbentuk, parlemen akan menunjuk 100 orang sebagai anggota majelis penyusun konstitusi

Sementara itu, pemerintahan masih akan bergantung pada dewan militerDewan yang dipimpin oleh Jenderal Hussein Tantawi itu tetap akan mendominasi pemerintahan sampai Mesir menggelar pemilihan presiden (pilpres) pada Juni mendatang

Kebijakan dewan militer yang masih diduduki para kroni Mubarak tersebut sempat menuai kritik keras dari berbagai pihakUnjuk rasa menuntut mundurnya Tantawi pun masih menggema di sela penyelenggaraan pemilu kemarin(AFP/AP/RTR/hep/dwi)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jackpot Rp521 Miliar Diganti Makan Gratis


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler