Para ilmuwan telah memecahkan kode genetik salah satu jenis gandum paling penting di Australia, yakni barley. Penemuan ini nantinya bisa berpotensi membuat bir yang lebih sehat dan bahan pangan yang tahan kekeringan.

Upaya internasional ini melibatkan tim peneliti dari Australia yang telah mengurutkan genom atau informasi genetik dari butiran barley, yang secara sederhana membantu peneliti untuk menentukan gen yang mengendalikan sifat-sifat tertentu.

BACA JUGA: Rehabilitasi Masjid Bersejarah di Broken Hill

Di Indonesia, barley dikenal juga dengan sebutan jelai.

"Kami bisa membuat identitas atau sidik dari masing-masing genotipe," kata penulis Dr Nils Stein dari Institut Leibniz untuk Penelitian Genetika dan Tanaman Pangan di Jerman.

BACA JUGA: Perjuangan Veteran Perang Australia Di Usia 27 Tahun

Dengan informasi ini, peneliti bisa memodifikasi dan meningkatkan barley melalui pembibitan.

"Saya pikir jika Anda mempertimbangkan tantangan di masa depan, dengan kondisi iklim yang kurang stabil, kita harus memperbaiki cara meningkatkan panen, dengan memiliki hasil yang lebih stabil dan berkelanjutan, yang mana merupakan prasyarat untuk memasok pangan dunia," kata Dr Stein.

BACA JUGA: Pemimpin AS dan Australia Akan Bertemu Pertama Kali

Studi ini juga menjadi "prestasi besar", bisa menjadi kabar baik bagi peminum bir dan industri minuman secara keseluruhan menurut Profesor Rachel Burton dari University of Adelaide di Australia.

"Jika Anda bisa memproduksi barley yang lebih baik untuk dikestrak menjadi malt [untuk minuman], maka akan membantu menghemat biaya energi di tempat pembuatan bir, tentunya bagus untuk planet ini,".

- Profesor Rachel Burton dari University of Adelaide di Australia.

"Ini memberi kita cara untuk menyesuaikan banyak hal. Jadi, misalnya, Anda tertarik dengan bir rendah karbohidrat, bagi peminum bir yang tidak ingin kalori berlebih, Anda mungkin bisa menyesuaikan malt sebelumnya, untuk kemudian membuat bir yang tidak terlalu mengemukkan."

Profesor Chengdao Li, peneliti utama dan Murdoch University di Australia, mengatakan para peneliti Australia telah memainkan peranan besar dalam pemetaan genom barley, karena ini adalah tanaman yang sangat penting bagi petani. Professor Chengdao Li dari Murdoch University telah ambil bagian dalam kelompok yang meneliti barley.

Foto: Murdoch University.

Ekspor jenis gandum ini bernilai lebih dari $1 miliar, sekitar Rp 10 triliun, bagi perekonomian Australia. Dan menurut Barley Australia, lebih dari 30 persen malt terbuat dari barley berasal dari Australia.

Profesor Burton dan timnya sudah mendapat salinan referensi genom dan telah bereksperimen dengan barley, yang fermentasi lebih baik dan lebih efektif.

"Salah satu hal yang sangat kami minati adalah seberapa cepat dinding [sel] terlepas (untuk melepaskan pati)," katanya.

"Jika dinding sel butiran barley tersebut lepas secara efisien ... Anda akan mendapatkan banyak pati dan fermentasi yang baik."

"Tapi sisa-sisa pada dinding sel, saat mereka dibuat menjadi bir akan menjadi lengket dan bisa menghalangi saringan di pembuatan bir, sehingga menambah biaya."

"Jadi, jika Anda bisa menemukan varietas yang bisa dengan cepat melepas dinding selnya, mungkin akan lebih baik untuk pembuatan bir."

Para ilmuwan sebelumnya telah memetakan genom beras, namun Profesor Li mengatakan genom barley jauh lebih rumit.Buka jalan

Ilmuwan di Departemen Pertanian dan Makanan Australia, Rob Loughman mengatakan pemetaan genom barley pada akhirnya akan membuka jalan bagi pemuliaan tanaman yang lebih baik.

Dr Loughman mengatakan pembudidayaan yang baik akan memberikan peluang pemasaran, namun ia mengatakan alasan utama untuk pemuliaan tumbuhan yang lebih baik adalah untuk memenuhi keinginan petani.

"Petani tentu akrab dengan pentingnya menggabungkan perbaikan agronomi, dengan perbaikan genetik dari varietas baru," katanya.

"Jenis karakteristik yang mereka cari adalah yang bisa meningkatkan produktivitas dan panen, yang dapat membawa produk mereka tepat sasaran, dan yang dapat mengurangi risiko."

Dr Loughman mengatakan peningkatan kemampuan adaptasi terhadap perubahan iklim akan menjadi keuntungan paling signifikan bagi petani.

Diterbitkan oleh Erwin Renaldi pada Kamis 27/04/2017 pukul 15:00 AEST, dari artikel berbahasa Inggris yang bisa dibaca di sini.

Lihat Artikelnya di Australia Plus

BACA ARTIKEL LAINNYA... Untuk Pertama Kalinya veteran Aborijin Pimpin Parade Hari Anzac 2017

Berita Terkait