Indonesia Berbagi Strategi Menghadapi Tantangan Pekerjaan dengan Negara-negara Asia dan Pasifik

Kamis, 20 Juni 2019 – 10:06 WIB
Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Haiyani Rumondang di Jenewa, Swiss, Kamis (19/6/2019) waktu setempat. Foto: Humas Kemnaker

jpnn.com, JENEWA - Secara umum negara-negara Asia and Pasifik Group (ASPAG) yang terdiri dari negara berkembang dan maju memahami bahwa pekerjaan masa depan atau future of work merupakan tantangan bersama. Perbedaan tantangan tersebut disikapi dengan berbagai upaya sesuai dengan perbedaan tingkat ekonomi masing-masing negara.

Oleh karena itu, perlu peningkatan kolaborasi antara seluruh negara-negara ASPAG dan tetap membutuhkan bantuan teknis dari International Labour Organization (ILO).

BACA JUGA: Menaker Australia Puji Dialog Sosial di Indonesia

Menteri Ketenagakerjaan M. Hanif Dhakiri yang diwakili oleh Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Haiyani Rumondang membagikan pandangan dan strategi Indonesia dalam menghadapi tantangan pekerjaan masa depan. Ada empat strategi yang diusulkan Haiyani saat menyampaikan pernyataan delegasi Indonesia di hadapan Menteri-Menteri Tenaga Kerja Asia Pasifik.

BACA JUGA: Menaker Pimpin Delegasi Indonesia Dalam Konferensi Perburuhan Internasional di Swiss

BACA JUGA: Indonesia - Swiss Menjalin Kerja Sama Bidang Ketenagakerjaan

Pertama yaitu meningkatkan kerja sama dalam investasi Sumber Daya Manusia (SDM). Negara-negara di kawasan Asia Pasifik harus terus memperkuat kerja sama mereka dalam lembaga dan program pelatihan dan pendidikan vokasi. Indonesia terbuka dan siap untuk bekerja sama dengan negara-negara di Asia dan Pasifik dalam meningkatkan kualitas dan kapasitas pendidikan dan pelatihan vokasi.

“Ini untuk mempersiapkan diri kita sendiri dengan kemungkinan dampak yang dapat mengganggu akibat teknologi baru di dunia kerja masa depan dan untuk lebih memenuhi permintaan pasar kerja,” kata Direktur Jenderal Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja Haiyani Rumondang, Jenewa, Swiss (19/6/2019) waktu setempat.

BACA JUGA: Menaker Mempromosikan Tiga Pilar Pembangunan SDM di Forum ILO

Strategi kedua yaitu memperbaiki kebijakan ketenagakerjaan untuk orang lanjut usia. Indonesia berpandangan bahwa angkatan kerja yang menua akan menimbulkan tantangan yang semakin besar bagi Asia Pasifik. Karena tenaga kerja lanjut usia di wilayah tersebut diperkirakan akan meningkat secara signifikan pada tahun 2030.
“Kita harus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama bagi pekerja lanjut usia di pasar kerja. Negara-negara di kawasan Asia Pasifik harus mengeksplorasi lebih jauh cara dan strategi yang tepat dan memadai untuk memastikan bahwa orang lanjut usia dapat memanfaatkan pasar kerja secara setara,” tegas Haiyani.

Dalam menghadapi tantangan pekerjaan masa depan, strategi ketiga yaitu menangani pekerja di sektor informal. Laporan International Labour Organization menunjukkan bahwa 63,2 persen dari populasi pekerja di Asia Pasifik mencari nafkah di sektor informal. Sebagian besar dari mereka tidak menikmati perlindungan sosial dan kondisi kerja yang layak.

“Oleh karena itu, kami percaya bahwa kita perlu saling belajar tentang cara menangani pekerja sektor informal guna memfasilitasi transisi pekerja tersebut ke sektor formal,” kata Haiyani.

Strategi keempat yaitu memperkuat dukungan ILO untuk negara-negara di kawasan Asia Pasifik. Indonesia menggarisbawahi pentingnya ILO dalam memberikan bantuan kepada pemerintah, sektor swasta, dan serikat pekerja. ILO perlu memberikan prioritas lebih besar ke wilayah Asia Pasifik dalam mengatasi tantangan ketenagakerjaan di masa depan. Indonesia berpandangan bahwa mengatasi tantangan pekerjaan di masa depan membutuhkan partisipasi seluas mungkin dari semua pemangku kepentingan.

“Dalam hal ini, kami mendorong anggota ASPAG untuk menegaskan kembali komitmennya dalam Deklarasi Bali yang diadopsi pada 2016 untuk mempercepat upaya mempromosikan pertumbuhan inklusif, keadilan sosial, dan pekerjaan yang layak,” ujar Haiyani.

Berdasarkan data Ketenagakerjaan Asia-Pasifik dan Social Outlook 2018 tercatat bahwa Asia-Pasifik adalah wilayah dengan tingkat pengangguran terendah di dunia. Antara 2007-2017, produktivitas tenaga kerja di wilayah Asia dan Pasifik meningkat rata-rata 5 persen per tahun. Namun, kemajuan yang mengesankan ini harus didukung dengan komitmen untuk mencapai pekerjaan yang layak.

“Indonesia percaya bahwa kemajuan signifikan dalam pekerjaan yang layak untuk semua berfungsi sebagai dasar untuk pertumbuhan ekonomi yang kuat di wilayah Asia Pasifik di tahun-tahun mendatang,” kata Haiyani.

Pada akhir pernyataannya, atas nama pemerintah Indonesia Haiyani ingin menyampaikan penghargaan kepada Tiongkok atas kepemimpinannya sebagai Koordinator ASPAG untuk periode 2018-2019 dan menyatakan siap bekerja sama dengan koordinator ASPAG ILO yang akan datang.(adv/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Indonesia Dukung Sierra Leone dan Somalia Kembali Dapatkan Hak Suara di ILO


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler