Indonesia Terpilih jadi Tuan Rumah Penyelenggaraan HIMSS23 APAC Health Conference & Exhibition

Jumat, 22 September 2023 – 20:16 WIB
Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono bersama dengan Kepala Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan RI Setiaji, dan President & CEO HIMSS Harold (Hal) F. Wolf III dalam pembukaan HIMSS23 APAC Health Conference & Exhibition. Foto: dok HIMSS

jpnn.com, JAKARTA - Indonesia didapuk menjadi tuan rumah HIMSS23 APAC Health Conference & Exhibition yang telah digelar pada 18-21 September 2023.

Konferensi kesehatan digital itu mengusung tema “Health that Connects + Tech that Cares”  dengan membahas bagaimana teknologi, data real-time, dan layanan kesehatan terkini berbasis nilai (value-based healthcare) yang  bisa mengoptimalkan kesehatan manusia.

BACA JUGA: Soal Aturan Turunan UU Kesehatan, Kemenkes Diminta Melibatkan Partisipasi Publik

Acara ini dibuka langsung oleh Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono bersama dengan Kepala Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan RI Setiaji, dan President & CEO HIMSS Harold (Hal) F. Wolf III.

Dante Saksono Harbuwono mengatakan bahwa terpilihnya kembali Indonesia sebagai tuan rumah dalam acara tahunan ini merupakan suatu kebanggaan mengingat visi HIMSS23 APAC juga sejalan dengan agenda Kementerian Kesehatan dalam melakukan transformasi dan kolaborasi sistem kesehatan.

BACA JUGA: Kemenkes Bentuk Komite Dampak Polusi Udara untuk Atasi Risiko Penyakit

“Saya percaya meningkatkan layanan kesehatan menggunakan teknologi dapat memberikan kendali pada masyarakat, terutama pasien dalam mengontrol kesehatan serta menyediakan alat dan fasilitas yang dibutuhkan untuk memberikan pelayanan yang lebih baik,” tutur Dante saat memberikan sambutan dalam Opening Ceremony HIMSS23 APAC Health Conference & Exhibition.

Dante menambahkan masa pandemi membawa banyak pelajaran dan perubahan bagi sistem kesehatan Indonesia.

BACA JUGA: Kemenkes Bersama Novo Nordisk Skrining Diabetes 118 Ribu Warga Jabar, Ini Hasilnya

Sejak pandemi, Kementerian Kesehatan semakin fokus mengembangkan ekosistem yang berkelanjutan dan terintegrasi.

Tidak hanya untuk melakukan tracing pengguna saja, tetapi juga untuk mengembangkan bahan baku farmasi, vaksin, produk biologis, dan perangkat kesehatan.

 Oleh sebab itu, Kemenkes berkomitmen untuk menghubungkan industri lokal dengan sektor-sektor lainnya dan perusahaan dunia, dengan harapan dapat membangun sistem kesehatan yang memadai dan mumpuni.

 Dante juga mengungkapkan dua pencapaian dan target terbesar Kemenkes terutama dalam mengantisipasi bonus demografi yang terjadi di Indonesia dari sisi layanan kesehatan.

Dalam pernyataannya, Dante menjelaskan bahwa saat ini Indonesia telah mempresentasikan industri perangkat medis dan mencari peluang investasi potensial dengan berbagai negara seperti Tiongkok, Jerman, Amerika Serikat, dan Uni Emirat Arab.

“Menurut proyeksi kita, tingkat pertumbuhan rata-rata tahunan Indonesia mencapai 12%. Artinya, Indonesia masih membutuhkan komoditas kesehatan inovatif yang belum terpenuhi. Estimasinya akan ada peningkatan permintaan empat kali lipat untuk kebutuhan perangkat kesehatan dan farmasi untuk memenuhi fasilitas 60 ribu faskes dalam melayani 270 juta rakyat Indonesia,” ujarnya.

 Pencapaian berikutnya adalah berhasilnya perubahan aplikasi garapan Kemenkes, PeduliLindungi menjadi SATUSEHAT.

PeduliLindungi adalah sebuah aplikasi yang dirancang secara khusus untuk mendeteksi dan melacak kasus COVID-19 ketika pandemi berlangsung.

Namun, seiring dengan menurunnya kasus COVID-19 di Indonesia, aplikasi ini bertransformasi menjadi SATUSEHAT.

SATUSEHAT adalah platform telemedicine menstandarisasi protokol pertukaran data dan mengintegrasikan ekosistem kesehatan Indonesia dan menggunakan menggunakan big data dan kecerdasan buatan dalam membuat kebijakan. Jumlah pengguna aktif di SATUSEHAT saat ini telah lebih dari 111 juta orang.

Setiaji, Ketua Digital Transformation Office Kementerian Kesehatan RI, berkata bahwa tahun ini menandakan tonggak sejarah transformasi teknologi kesehatan di Indonesia.

“Setelah pandemi COVID-19 mulai terkendali, kami terus mengembangkan strategi untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak terduga dan memperkuat ketahanan kesehatan kami,” ujarnya pada pemaparan bertajuk Through the Lens: Transformation of Health Technology in Indonesia (Melalui Lensa: Transformasi Teknologi Kesehatan di Indonesia) yang turut membuka sesi acara itu.

Setiaji menambahkan  kendala paling menantang di Indonesia adalah mengumpulkan data yang akurat.

Namun, dengan dukungan dan kerja sama tim dalam Kementerian Kesehatan, pengumpulan, olah, dan analisis data dapat berhasil dilakukan.

Hal ini juga dianggap sebagai salah satu puncak utama kesehatan Kemenkes dalam melayani masyarakat Indonesia.

“Mengingat pentingnya hal ini, terbukti dari keberhasilan negara-negara di seluruh dunia, terdapat potensi kolaborasi di antara kita. Membangun kepercayaan di antara kita dan memantapkan komitmen kita untuk sistem layanan kesehatan yang lebih baik di masa depan, kolaborasi yang sinergis, tersinkronisasi, dan tertata dengan baik dapat terjalin,” tambahnya. 

Dalam gelarannya, HIMSS23 APAC mengadakan berbagai sesi seminar dan workshop bersama ahli kesehatan dunia dan tokoh-tokoh terkemuka di bidangnya dengan membahas studi kasus yang ada dan implementasi transformasi digital di dalamnya.

Konferensi kesehatan digital paling berpengaruh di Asia Pasifik ini juga menyajikan lebih dari 60 ekshibitor dengan solusi-solusi inovatif yang siap mengubah cara layanan kesehatan diberikan kepada pasien.

“Melalui acara ini, kami berharap seluruh partisipan yang hadir dapat semakin mengenal satu sama lain. Menjalin hubungan dan saling mempelajari satu sama lain. Sehingga di masa depan, kita dapat mewujudkan akses kesehatan yang inklusif untuk semua. Tidak peduli di mana mereka tinggal dan seberapa dekat area tempat tinggal dengan akses kesehatan, digitalisasi ini akan membantu mereka di mana pun mereka berada,” tutur Harold (Hal) F. Wolf III, President & CEO HIMSS di kesempatan yang sama.

Hal menambahkan inovasi digital dalam bidang kesehatan akan berpengaruh besar terhadap kesetaraan kesehatan bagi seluruh masyarakat.

Kendati begitu, teknologi saja tidak cukup. Dibutuhkan semangat kebersamaan dan kepedulian terhadap sesama untuk menjadikan inovasi digital ini menjadi lebih berarti.

HIMSS23 APAC Health Conference & Exhibition adalah acara tahunan yang diadakan oleh Healthcare Information and Management Systems Society (HIMSS).

Itu adalah sebuah lembaga kesehatan nirlaba dari Amerika Serikat yang fokus terhadap digitalisasi layanan kesehatan untuk mewujudkan akses yang inklusif bagi seluruh masyarakat. (flo/jpnn)


Redaktur & Reporter : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler