Ingat Musibah 10 Tahun Silam, Menangis, Larut dalam Zikir

Jumat, 26 Desember 2014 – 07:01 WIB

jpnn.com - BANDA ACEH - Ratusan warga Batoh, Lueng Bata, Banda Aceh, larut dalam zikir dan doa bersama untuk memperingati 10 tahun tsunami digelar Kontak Tahajud Club (KTC) Indonesia di lapangan voli setempat, Kamis (25/12).

Para jamaah didominasi kaum perempuan nampak khusyuk mengikuti kegiatan tersebut. Bahkan beberapa diantara mereka terlihat tidak kuasa dan berurai air mata, mengingat musibah maha dahsat 26 Desember 2004 lalu.

BACA JUGA: Banjir, Pemilik Tambak Ikan Tekor

Pimpinan KTC Indonesia Azmi Fajri Usman dalam kesempatan itu turut menyampaikan tausiah dan berbagi pengalaman saat terjadinya peristiwa gempa dan tsunami 10 tahun silam.

Menurutnya, setiap ujian diberikan Allah kepada umat manusia, adalah sebagai pengingat agar manusia semakin mendekatkan diri kepada Allah.

BACA JUGA: Ortu Bercerai, Pemuda Gantung Diri

Maka itulah, dirinya mengajak masyarakat Aceh untuk menjadikan momentum peringatan 10 tahun tsunami Aceh, sebagai sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dan mempererat silaturahmi antar sesama, demi kemajuan Aceh yang lebih baik lagi.

“Jangan jadikan sebagai ajang seremonial belaka. Tapi harus dapat kita ambil manfaat untuk menambah keimanan dan ketaqwaan kepada kepada-NYA,” cetus salah satu saksi sejarah gempa dan tsunami Aceh ini.

BACA JUGA: Masuk Pungli Terbesar, Ini Reaksi Pemkot Surabaya

Dalam kesempatan itu, Azmi berbagi pengalaman saat terjadinya musibah maha dahsyat silam. Saat itu, dirinya bersama istri tercinta sedang berada di kawasan Lhoknga, Aceh Besar.

Saat tsunami datang, dirinya bersama istri menyelamatkan diri di sebuah bukit bersama warga sekitar. Saat itu, suasana panik dan mencekam begitu terlihat. Masyarakat terlihat berputus asa.

“Semalaman saya bertahan di atas bukit, baru pada hari kedua kembali ke rumah di kawasan Batoh,” ulas tokoh muda Aceh yang kini sedang menginisiasi pendirian seribu Rumah Quran di Jakarta ini.

Menurutnya, tsunami menyadarkan banyak orang untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Namun belakangan, kondisi miris kembali terjadi di Aceh, karena masjid dan meunasah tidak lagi seramai dulu, sesaat setelah peristiwa tsunami 2004.

“Masyarakat lebih memilih berlama – lama di warung kopi, ketimbang memakmurkan masjid dan meunasah. Kalau manusia kembali jauh terhadap sang pencipta, maka kapan saja bisa datang tsunami berikutnya untuk menyadarkan kita kembali,” cetusnya.

Sementara itu, zikir dan doa bersama juga dilaksanakan KTC Indonesia pada hari yang sama di Pesantren Ustmaniah. Selain itu juga dilaksanakan layanan kesehatan akupuntur di Batoh dan klik Neusu Jaya. (slm)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Jual Tanah Orang, Kades Ditangkap


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler