Ingatkan Memori dengan Buku Tim 9 Membongkar Skandal Century

Selasa, 11 November 2014 – 21:21 WIB
Buku berjudul 'Tim Sembilan Membongkar Skandal Century' yang mendokumentasikan berbagai kisah tentang upaya membentuk Pansus Angket Bank Century. Foto: Ricardo/JPNN.Com

jpnn.com - LIMA tahun silam DPR RI diramaikan dengan pembentukan panitia angket kasus Bank Century. Bertepatan dengan peringatan lima tahun pengusulan hak angket Century yang jatuh besok (12/11), akan ada peluncuran buku berjudul Tim Sembilan Membongkar Skandal Century yang berisi berbagai catatan seputar perjalanan kasus bank penikmat uang negara hingga Rp 6,7 triliun itu.

Penulis buku sengaja memilik tanggal 12 November sebagai momentum yang pas untuk meluncurkan buku itu. Sebab, pada tanggal itu pula usulan penggunaan hak angket Century yang diteken 139 wakil rakyat periode 2009-2014 dari 8 fraksi diserahkan kepada pimpinan DPR.

BACA JUGA: Demokrat Tuding Misbakhun di Balik Berita Century Bank SBY

“Kami pilih peluncuran itu sesuai momentumnya, tetapi pesan yang ada di dalam buku ini tetap teraktualisasi karena kasus Century belum menemui akhir,” kata Monang Sinaga selaku penulis buku itu di Jakarta, Senin (12/11).

Kasus Century mulai bergulir ketika pada 12 November 2008, bank hasil merger itu dinyatakan kalah kliring. Bank Indonesia sebagai otoritas moneter kala itu mengeluarkan fasilitas pendanaan jangka pendek (FPJP) sebesar Rp 600 miliar.

BACA JUGA: Kejagung Tangkap Buronan Kasus Bank Century di Sebuah Rumah Makan

Kondisi Century yang tak membaik membuat pemerintah menyuntik bank milik Robert Tantular itu melalui penyertaan modal sementara (PMS) yang belakangan dikenal dengan skema bailout sebesar Rp 6,7 triliun. Namun, berbagai kejanggalan muncul di seputar pengucuran FPJP dan PMS.

Kejanggalan itulah yang memicu sembilan orang anggota DPR baru hasil Pemilu 2009 menginisiasi pengungkapan kasus Bank Century. Mereka adalah Mukhamad Misbakhun yang saat itu masih menjadi anggota DPR dari PKS, Ahmad Muzani (Gerindra), Bambang Soesatyo (Golkar), Maruarar Sirait (PDI-P), Andi Rahmat (PKS), Chandra Tirta Wijaya (PAN), Lili Wahid (PKB), Kurdi Moekri (PPP) dan Akbar Faizal yang dulu masih menjadi kader Hanura.

BACA JUGA: Bank Century Lagi Hidup Mati

“Mereka inilah yang kemudian disebut Tim Sembilan,” tutur Monang.

Selanjutnya, dalam buku itu diuraikan tentang kisah para anggota Tim Sembilan saat mengegolkan panitia angket. Kasus itu menjadi panas karena menyeret Partai Demokrat (PD) dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang kala itu berkuasa.

Jusuf Kalla (JK) yang menjadi Wakil Presiden RI periode 2004-2009 menulis kata pengantar dalam buku itu. JK yang menentang pengucuran bailout menyebut kesulitan Century lebih diakibatkan persoalan internal ketimbang kondisi global. Sebab, uang nasabah di Century justru dirampok oleh pemilik bank.

Namun, kondisi itu diperparah dengan lemahnya pengawasan oleh BI. “Saya berharap, kita bisa membaca kembali apa yang terjadi kala itu,” tulis JK.

Salah satu anggota Tim Sembilan Mukhamad Misbakhun mengatakan, buku itu menjadi dokumentasi penting tentang anak-anak muda di DPR yang baru terpilih dan tidak punya jabatan penting di partai, namun bisa meloloskan sebuah wacana menjadi kenyataan yang tak terbantahkan.

Anggota Fraksi PKS DPR 2009-2014 itu mencatat, Panitia Angket Angket Century menjadi pansus yang memperoleh paling banyak dukungan. Sebab, ada 503 dari 560 anggota DPR memberikan tanda tangan dukungan sehingga bisa memenangi voting saat berhadapan dengan fraksi pendukung pemerintah.

“Tim Sembilan telah mencetak prestasi yang monumental dari sisi  politik karena Pansus Hak Angket Century sebagai sebuah isu politik berhasil menyedot perhatian media dan seluruh masyarakat. Karena skandal yang dibongkar adalah skandal korupsi yang diduga melibatkan figur penting yang sedang berkuasa di tampuk pemerintahan,” ucapnya.(ara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler