Ini Capaian Kementan di Sektor Peternakan selama 4 Tahun

Senin, 12 November 2018 – 19:47 WIB
Gedung Kementerian Pertanian. Foto IST

jpnn.com, JAKARTA - Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian (Ditjen PKH) memaparkan capaian kerja selama empat tahun ini.

Menurut Dirjen PKH Kementan I Ketut Diarmita, perkembangan peternakan sangat signifikan dalam empat tahun ini. 

BACA JUGA: Digitalisasi Hortikultura Indonesia Menuju Industri 4.0

"Kami bisa lihat perkembangan kinerja pembangunan peternakan dan kesehatan hewan dari perkembangan populasi dan produksi, investasi, jumlah tenaga kerja, peningkatan produksi yang mendongkrak PDB sub sektor peternakan, daya beli peternak dan ekspor peternakan,” kata Ketut saat menggelar konferensi pers di kawasan Jakarta Selatan, Senin (12/11).

Ketut menerangkan, saat ini Indonesia sedang menuju swasembada protein hewani yang berasal dari keanekaragaman ternak, tidak tergantung pada satu macam sumber protein saja.

BACA JUGA: Digitalisasi Hortikultura Indonesia Menuju Industri 4.0

“Untuk itulah, dilakukan penguatan peningkatan produksi dan produktivitas tidak hanya untuk sapi dan kerbau, namun kami juga mendorong bertumbuh kembangnya ternak lainnya, seperti kambing, domba, kelinci, unggas, dan sapi perah,” ujarnya.

Ketut melanjutkan, populasi sapi dari 2014 sampai 2017 mengalami kenaikan sebesar 12,6 persen. Populasi kerbau dari 2014 sampai 2017 mengalami kenaikan sebesar 4,5 persen.

BACA JUGA: Produktivitas Jagung dalam Negeri Stabil, Ini Buktinya

Demikian juga dengan populasi komoditas ternak lainnya, seperti babi, kambing, domba, ayam buras, ayam ras pedaging dan petelur, serta itik dari 2014 sampai tahun 2017 mengalami kenaikan.

Terkait pengembangan komoditas sapi atau kerbau, telah terjadi loncatan populasi yang cukup signifikan. Hal ini terlihat dari rata-rata pertumbuhan populasi sapi-kerbau dari periode 2014-2017 mengalami loncatan kenaikan pertumbuhan menjadi sebesar 3,83 persen per tahun, dibanding pertumbuhan populasi pada periode tahun 2012 – 2014 dengan rata-rata pertumbuhan per tahunnya yang menurun sebesar (1,03 persen).

Untuk mempercepat peningkatan populasi sapi atau kerbau pada 2015-2016 telah dilakukan program Gertak Birahi dan Inseminasi Buatan (GBIB). Selanjutnya pada Oktober 2016 Kementan memperluas program ini dengan lebih mengoptimalkan pelayanan reproduksi kepada sapi-sapi milik peternak melalui Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang bertujuan untuk mempercepat peningkatan populasi sapi di tingkat peternak.

Pada bagian lain Ketut menyampaikan, sesungguhnya esensi Upsus Siwab adalah mengubah pola pikir petani ternak, yang cara beternaknya selama ini masih bersifat sambilan, menuju ke arah profit dan menguntungkan.

Realibitas dan validitas kinerja nasional tidak perlu diragukan lagi, seluruh pelaporan kinerja Upsus Siwab sudah terverifikasi, terlaporkan dan tercatat dalam sistem Sistem Informasi Kesehatan Hewan Terintegrasi *SIKHNAS). Sejak pelaksanaan Upsus Siwab 2017 hingga saat ini, sudah lahir 2.385.357 ekor dari indukan sapi milik peternak.

Capaian kinerja kelahiran pedet ini, dalam enam bulan ke depan, diprediksi akan bertambah lagi dan akan mencapai kurang lebih 3,5 juta ekor lebih. 

“Dampak Upsus Siwab juga mampu menurunkan pemotongan betina produktif melalui kerjasama dengan Baharkam Polri. Pemotongan sapi dan kerbau betina produktif secara Nasional pada periode Januari sampai Agustus 2018 sebanyak 8.482 ekor. Jumlah pemotongan tersebut menurun 51,38% jika dibandingkan dengan pemotongan sapi dan kerbau betina produktif pada periode yang sama pada Tahun 2017,” kata dia. (tan/jpnn) 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Kebijakan Pembatasan Impor Memacu Semangat Petani Jagung


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler