Ini Kebiasaan di Akhir Pekan yang Bisa Meningkatkan Risiko Obesitas

Selasa, 10 Maret 2020 – 08:17 WIB
Penderita obesitas. Foto/ilustrasi: Daily Telegraph

jpnn.com, JAKARTA - Akhir pekan mungkin menjadi hari yang baik bagi Anda untuk beristirahat dan bersantai. Tetapi, itu juga membuat jadwal kebiasaan Anda berbeda dari hari-hari sebelumnya yang bisa mempengaruhi kesehatan dan gaya hidup Anda.

Kebiasaan ini termasuk jadwal makan yang tidak konsisten selama akhir pekan. Para peneliti di Universitas Barcelona menyebutnya sebagai "makan jet lag", dan bisa mengarah ke tingkat indeks massa tubuh (BMI) yang lebih tinggi.

BACA JUGA: Ketahuilah! Makanan Olahan Bisa Menyebabkan Obesitas

Walaupun belum terbukti sebagai indikator kesehatan yang sempurna, penelitian menunjukkan bahwa formula yang menggunakan berat dan tinggi badan seseorang menentukan risiko obesitas serta tekanan darah tinggi, diabetes tipe 2, kanker tertentu dan penyakit jantung, dimana semakin tinggi levelnya, maka akan semakin tinggi pula risikonya.

Penelitian yang diterbitkan di jurnal Nutrients MDPI, mempelajari lebih dari 1.000 orang Spanyol dan Meksiko antara usia 18 tahun dan 22 tahun, membandingkan BMI peserta dengan perubahan waktu makan sepanjang akhir pekan.

BACA JUGA: Ini 6 Deretan Penyakit Akibat Obesitas

Itu melibatkan memeriksa waktu mereka biasanya makan sarapan, makan siang dan makan malam, dibandingkan dengan mereka pada hari kerja biasa.

"Jet lag" kemudian didefinisikan sebagai perbedaan lebih dari 3,5 jam bila dibandingkan dengan makanan yang dimakan dari hari Senin sampai Jumat.

BACA JUGA: 4 Olahraga yang Cocok Bagi Penderita Obesitas

Kemudian ditemukan bahwa peserta yang pernah mengalami makan jet lag memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi, memiliki peningkatan BMI rata-rata 1,34 kilogram (sekitar 1.5 kilogram) per meter persegi.

Studi tersebut kemudian mengaitkan makan jet lag dan obesitas dengan apa yang disebut Chronodisruption, yang merupakan pemutusan antara jam tubuh seseorang dan kehidupan sosial.

"Chronodisrupt adalah penyebab gangguan tidur yang paling sering, termasuk insomnia, dan juga terkait dengan jenis kanker tertentu," kata Trinitat Cambras, kepala peneliti dan penulis pendamping penelitian ini, seperti dilansir laman MSN, Senin (9/3).

Jam tubuh seperti sebuah mesin, siap untuk melepaskan ikatan respons fisiologis dan metabolisme yang sama pada waktu yang sama setiap hari, setiap hari dalam seminggu.

Cambras kemudian menyimpulkan bahwa orang dengan perubahan jadwal yang lebih tinggi akan memiliki risiko obesitas yang lebih tinggi. Sementara para penulis penelitian mengatakan bahwa diperlukan lebih banyak penelitian untuk menguji hubungan antara makan jet lag dan obesitas.

Mereka masih mencari mekanisme fisiologis di balik makan jet lag yang berkontribusi pada tingkat BMI yang lebih tinggi, yang bisa mengakibatkan risiko obesitas yang lebih besar. Mereka juga mendesak orang untuk mempertahankan jadwal makan dan tidur yang tepat dan konsisten.(fny/jpnn)


Redaktur & Reporter : Fany

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler