Ini Kekhawatiran YLKI Terhadap Alat Tes Cepat yang Diimpor Indonesia

Rabu, 08 Juli 2020 – 18:39 WIB
Ilustrasi - Warga mengikuti tes cepat COVID-19. Foto: ANTARA/Rendhik Andika

jpnn.com, JAKARTA - Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mengkhawatirkan tes cepat atau rapid test yang diimpor oleh Indonesia merupakan barang abal-abal jika tidak ada standar kualitas yang dilakukan oleh pemerintah.

"Karena kita masih 100 persen impor. Katakanlah kita impor dari China l, maka barang yang dipesan akan menyesuaikan anggaran," kata Ketua Pengurus Harian YLKI Tulus Abadi di Jakarta, Rabu.

BACA JUGA: Pimpinan MPR Temui Jokowi, Bahas Isu Reshuflle Hingga RUU HIP

Akibatnya, ujar dia, barang yang diimpor tersebut menyesuaikan dengan ketersediaan jumlah anggaran pemesan sehingga belum tentu berkualitas saat digunakan kepada masyarakat.

"Jadi jika anggarannya sekian tetap dibuatkan sesuai budget yang ada," katanya.

BACA JUGA: Cerita di Balik Penemuan Kalung Antivirus Corona

Di sisi lain, jika tes cepat yang diimpor tersebut kualitas bagus maka harganya juga akan mahal. Namun, ketika harus menyesuaikan surat edaran nomor:HK.02.02/I/2875/2020 tentang Batasan Tarif Tertinggi Pemeriksaan Rapid Test Antibodi yang dikeluarkan Kementerian Kesehatan maka akan rugi.

Oleh karena itu, kata dia, ke depan pemerintah juga perlu mengetahui dari mana saja tes cepat tersebut didatangkan termasuk negara yang menghasilkannya.

BACA JUGA: Yudi Latif: Negara yang Punya Identitas Nasional Lebih Kuat Hadapi Corona

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR RI Emanuel Melkiades Laka Lena mengatakan rapid test masih dibutuhkan sepanjang alat PCR (Polymerase Chain Reaction) belum tersedia di seantero negeri.

"Semua berjalan pararel, rapid test dengan akurasi yang baik sesuai rekomendasi Kemenkes dan PCR yang lebih akurat dibanding tes cepat," kata dia. (antara/jpnn)


Redaktur & Reporter : Fajar W Hermawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler