Ini Tahapan Buka FDR Black Box Hingga Sajikan Percakapan

Selasa, 13 Januari 2015 – 07:47 WIB
PERANTI PENTING: Anggota TNI memindahkan Black Box Air Asia QZ8501 dari KRI Banda Aceh ke kotak khusus yang berisi air. (12/1). Foto: Guslan Gumilang/Jawa Pos

jpnn.com - JAKARTA - Ketua Tim Investigasi AirAsia QZ8501 Mardjono Siswosuwarno menjelaskan, meski sudah berada di laboratorium, flight data recorder (FDR) tidak akan langsung dibuka tim Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Mereka akan berdiskusi dengan tim Airbus dari Prancis dan beberapa wakil negara lain yang berkepentingan seperti Singapura, Inggris, dan Korsel (negara yang memiliki warga di daftar penumpang AirAsia QZ8501).

BACA JUGA: Sukhoi Gunung Salak Tujuh Bulan, AirAsia Berapa Lama?

”Perbincangan kami mulai pukul 09.00 di laboratorium besok pagi (pagi ini, Red). Kami akan diskusikan tentang black box dan bagaimana nanti membacanya,” ujar pakar material dan failure analysis dari ITB itu.

Setelah berdiskusi, Mardjono melanjutkan, tim membuka black box. Kemudian, membersihkan dan mengeringkannya. Setelah itu, baru proses pembacaan black box dimulai.

BACA JUGA: Budi Calon Kapolri, Ini Sikap Para Pentolan Komisi III DPR

Profesor yang menyelesaikan S-3 di bidang metalurgi di De Toegepaste, Belgia, itu mengatakan, semua percakapan di black box tidak langsung didengarkan. Namun, tim harus mengunduh data yang terekam di kotak hitam terlebih dahulu.

Proses download bisa memakan waktu berhari-hari. Sebab, FDR itu tidak hanya membaca percakapan pada satu penerbangan. ”Ada data selama 24 jam penerbangan. Jadi, bisa berjam-jam men-download-nya,” ujarnya.

BACA JUGA: Pesawat Hantam Air Lantas Meledak

Sesudah download, masih ada lagi. Data yang diunduh tersebut masih berupa bilangan biner. Bentuknya angka-angka. Karena itu, tim harus mengolahnya dengan software.

Lalu, data akan disajikan dalam bentuk tabel atau grafis dengan 1.200 parameter. Parameter yang dimaksud, antara lain, tinggi terbang pesawat, kecepatan terbang, arah terbang, sikap pesawat saat terbang, dan G-force.

”Nantinya dimodelkan. Jadi, kami suguhkan percakapan dan ada gambar pesawat. Ketika percakapan ini, posisi pesawat seperti apa bisa terlihat,” jelasnya.   

Mardjono menegaskan, meski hanya FDR yang didapat, tim bisa bekerja. Pasalnya, data pendukung yang lain bisa mereka peroleh dari Prancis atau pabrik pembuat spare part Airbus.

Dia mengungkapkan, dalam penyelidikan kecelakaan pesawat, tim harus mempertimbangkan negara tempat terjadinya kecelakaan, negara pembuat pesawat, dan tempat spare part pesawat itu dibuat. ”Itu data-data yang bisa didapatkan tanpa menunggu CVR,” jelasnya.

Bukan hanya itu. Tim juga akan mencari data pilot. Mulai dari mana dia berasal sampai riwayat penerbangannya. Berapa kali pilot menjalani training juga akan diteliti. ”Karena kami butuh banyak untuk memastikan penyebab jatuhnya pesawat,” ujarnya.

Namun, dia berharap CVR dapat segera ditemukan. Sebab, jika dua peranti di dalam black box bisa ditemukan, penyidikan akan bertambah cepat selesai.

Dia menjelaskan, investigasi membutuhkan waktu paling sebentar setahun. ”Memang cukup lama karena penyelidikan harus dilakukan terhadap seluruh data,” ujarnya. Sesuai prosedur, jika dalam waktu setahun penyelidikan belum juga selesai, tim investigasi harus melaporkan kendala ataupun hambatan. ”Tapi, kami harap enggak sampai setahun selesai,” katanya. (gun/sep/riq/aph/bil/c10/kim)

 

 

BACA ARTIKEL LAINNYA... Serpihan Pesawat Hanyut Hingga Tanjung Emas Semarang


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler