Inisiator GGSI Berharap BPJS Membuka Layanan Psikologi Pasien Kecanduan Gadget

Minggu, 12 November 2023 – 22:02 WIB
Inisiator Gerakan Gadget Sehat Indonesia (GGSI) Profesor Dr dr Ridha Dharmajaya Sp BS (K) memberikan edukasi Penggunaan Gadget Sehat di kampus Politeknik Pariwisata Makassar, Sulawesi Selatan, Jumat (10/11/2023). Foto: GGSI

jpnn.com, JAKARTA - Inisiator Gerakan Gadget Sehat Indonesia (GGSI), Prof.Dr.dr Ridha Dharmajaya Sp BS (K) menyarankan BPJS Makassar memberikan layanan psikologis akibat gangguan penggunaan gadget yang tidak tepat.

Hal itu disampaikannya saat memberikan penyuluhan gadget sehat di Kantor BPJS Wilayah IX, yang melingkupi Sulawesi dan Maluku, pada Kamis lalu.

BACA JUGA: Menciptakan Generasi Berkualitas Melalui Gerakan Gadget Sehat

"Kami berharap BPJS di Makassar peduli akan problem gangguan psikologis akibat kecanduan gadget dengan membuka pelayanan di Puskesmas ataupun rumah sakit yang tercover BPJS," katanya dalam keterangan resmi, Minggu.

Sebagai dokter speaialis bedah saraf dia mengaku banyak menemukan kasus generasi muda terdampak gadget yang tidak tepat baik secara fisik dan mental.

BACA JUGA: GGSI Ajak Para Guru Terus Mengampanyekan Gadget Sehat Bagi Anak

"Banyak ditemukan kasus spech dellay yang dialami anak akibat kecanduan gadget, karena tanpa diketahui gadget hanya merangsang pendengaran dan penglihatan, tetapi tidak merangsang bicara," ujarnya.

Menurut Ridha, dirinya punya pasien yang lambat bicara di usia sembilan tahun akibat kecanduan gadget.

BACA JUGA: Dampak Buruk Gadget Bisa Sampai Mematikan Saraf

Lazimnya menurut Prof. Ridha, saat ini rumah sakit hanya menyediakan psikiater, tetapi tidak ada psikolog terutama di sejumlah Puskesmas dalam penanganan kecanduan gadget.

"Sehingga sudah saatnya penanganan pasien BPJS dengan problem gangguan psikologis akibat gangguan gadget bisa dibantu oleh BPJS," harapnya.

Di hadapan para karyawan BPJS, Ridha juga mengingatkan untuk tetap mengutamakan keluarga.

"Jangan pernah tinggalkan problem keluarga dalam rumah tangga. Tetap awasi anak-anak kita agar tidak terpengaruh gadget terkhusus usia di bawah 13 tahun. Dengan memberikan gadget terhadap anak di bawah usia tersebut tak ubahnya meracuni anak kita sendiri," jelasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Guru Besar Fakultas Kedokteran USU itu turut menerangkan dampak penggunaan gadget yang tidak tepat baik secara posisi dan durasi.

Menurut Prof. Ridha, posisi penggunaan gadget yang kurang tepat dan juga durasi yang berlebihan, akan mengakibatkan banyak generasi muda mengalami saraf kejepit pada bagian leher.

"Gejalanya sering kesemutan pada tangan dan kaki, kepala pusing, pundak berat, leher sakit, dan bangun tidur tidak segar. Dan ini biasanya sering dialami orang tua usia 60 tahun ke atas. Namun, sekarang kondisi ini sudah mulai dirasakan generasi muda," bebernya.

Berangkat dari kekhawatiran itu jugalah alasan GGSI hadir di Indonesia dan diawali dari Medan sebagai kota tempat tinggalnya.

"Gejala awal itu jika dibiarkan saja tanpa dicegah, bahkan terus berlangsung untuk waktu yang lama maka akan berdampak terhadap kematian saraf," tegas Prof. Ridha.

Jika kondisi itu menimpa generasi muda, yang terjadi ialah potensi kelumpuhan.

Prof. Ridha menambahkan Indonesia saat ini mengalami situasi bonus demografi di mana usia produktifnya jauh lebih besar dari usia non-produktif.

Jika tidak dimanfaatkan dengan baik dan membiarkan perilaku penggunaan gadget yang salah terus menerus, bonus demografi yang dinantikan justru akan menjadi bencana demografi dengan melahirkan generasi cacat. 

"Tentu saja cita-cita bangsa ini melahirkan generasi emas menuju 2045 akan sia-sia," pungkas Ridha.

Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah IX, dr. Yessi Kumalasari, menyatakan dukungannya terhadap Gerakan Gadget Sehat Indonesia (GGSI).

Dia menilai sosialisasi dan penyuluhan gadget sehat yang digaungkan Prof. Ridha sejalan dengan program Pemerintah Indonesia dalam menyambut bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045.

dr. Yessy juga mengapresiasi harapan Prof. Ridha agar BPJS Kesehatan Wilayah IX memperhatikan problem gangguan psikologis akibat kecanduan gadget, dengan memberikan dukungan layanan kesehatan di puskesmas ataupun di rumah sakit yang ditanggung oleh Program JKN.

“Itu saran yang baik dan akan saya pertimbangkan dalam usulan rencana kerja kami,” ungkap Yessy. (rdo/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Membangun Generasi Emas 2045 Melalui Penggunaan Gadget Sehat


Redaktur & Reporter : M. Rasyid Ridha

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler