Inovasi Minyak Sawit Harus Dilakukan Saat Kebutuhan Pangan Meningkat

Sabtu, 28 Mei 2022 – 07:11 WIB
Inovasi terhadap sawit harus dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Ilustrasi: Ricardo/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Asisten Deputi Pengembangan Agrobisnis Perkebunan Kementerian Perekonomian Moch Edy Yusuf menyebut minyak sawit sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat global.

Sebab, minyak sawit sudah digunakan sebagai bahan baku produk makanan, kosmetik, sabun, hand sanitizer, oleochemical hingga renewable energy.

BACA JUGA: Alhamdulillah, Harga TBS Sawit Mulai Menanjak, Pelan tetapi Pasti

“Selama 24 jam hidup berdampingan dengan produk-produk sawit,” ujarnya dalam webinar “Inovasi Sawit dalam Industri Pangan” yang diadakan Majalah Sawit Indonesia bersama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Jumat (27/5).

Menurut Edy, perlu aksi bersama untuk membangun keberlanjutan hulu hingga hilir kelapa sawit sehingga terjadi harmonisasi people, planet, dan profit.

BACA JUGA: Konon Jutaan Hektare Lahan Hutan Digunakan Untuk Sawit dan Tambang Tanpa Izin

Dia menambahkan kebutuhan minyak goreng nasional sebanyak 5,7 juta kiloliter terdiri dari kebutuhan rumah tangga sebanyak 3,9 juta kiloliter.  Sementara, kebutuhan industri sebesar 1,8 juta kiloliter.

”Adanya kebutuhan minyak goreng perlu dibarengi edukasi penggunaan produk berbasis sawit aman dan kegiatan ini perlu ditingkatkan,” kata dia.

BACA JUGA: Larangan Ekspor CPO Sudah Dicabut, Kok Harga TBS Sawit Masih Anjlok?

Dia pun terus mendorong agar ada inovasi dan kampanye positif kepada masyarakat bahwa minyak sawit itu aman dikonsumsi.

“Namun, Indonesia juga harus berbenah melakukan perbaikan produk dan kualitas minyak sawit secara menyeluruh,” kata dia.

Kepala Divisi Pelayanan BPDKS Arfie Thahar menjelaskan terdapat tujuh bidang kelompok riset yaitu budi daya, pascapanen dan pengolahan, pangan dan kesehatan, bioenergy, oleokimia dan biomaterial, lingkungan serta sosial, ekonomi, bisnis manajemen dan pasar.

Kegiatan penelitian dan pengembangan sawit bertujuan meningkatkan produktivitas, sustainability, penciptaan produk atau pasar baru dan meningkatkan kesejahteran petani.

Jumlah dana riset disalurkan BPDPKS mencapai Rp 389,3 miliar kepada 235 bidang penelitian pada 2015-2021. Riset ini meliputi 48 bidang bioenergi, 9 bidang pasc panen, 26 riset budi daya, 17 bidang pangan dan kesehatan, 37 bidang olekimia dan biomaterial, 61 bidang sosial ekonomi, dan 37 bidang lingkungan.

Arfie menuturkan program riset BPDPKS menjalin kerja sama dengan 70 lembaga penelitian dan pengembangan  termasuk perguruan tinggi dan BRIN. Selain itu, ada 840 peneliti, 346 mahasiswa, 201 publikasi yang terlibat dalam riset BPDPKS.

”Dari program riset ini dihasilkan 42 paten dan 6 buku,” ujar Arfie.

Pelaksana tugas Ketua Umum Dewan Sawit Indonesia Sahat Sinaga menjelaskan kampanye negatif sawit sudah berlangsung semenjak 1980-an. Harga sawit yang kompetitif selalu dikaitkan dengan kualitas.

Tuduhan rendahnya kualitas minyak sawit selalu digaungkan negara produsen minyak nabati lain. Sebab, harga minyak nabati lain lebih tinggi US$200/ton dari sawit.

“Kalau ada tuduhan harga sawit murah lalu kualitasnya rendah, itu tidak benar,” jelasnya.

 Sahat juga menjelaskan banyak orang tidak tahu bahwa kandungan gizi minyak sawit setara dengan air susu ibu (ASI). Maka itu dalam industri susu digunakan juga sawit ini.

Pada kesempatan itu, Guru Besar IPB Nuri Andarwulan menyampaikan minyak sawit sebagai ingredien pangan olahan yang sulit digantikan oleh minyak atau lemak lainnya.

“Minyak sawit sangat sulit untuk diganti minyak nabati lain yang ada di pasaran. Ini berhubungan dengan keekonomian dan teknologi yang diterapkan,” ucapnya. (cuy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Lihat Puluhan Petani Sawit Diikat dan Digelandang, Kasusnya Harus Jadi Pembelajaran


Redaktur & Reporter : Elfany Kurniawan

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler