Integrasi Mata Rantai Produksi demi Kedaulatan Pangan

Jumat, 02 Maret 2018 – 02:18 WIB
Petani Mamuju, Sulawesi Barat, saat panen padi. Foto: istimewa

jpnn.com, JAKARTA - Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengatakan, kedaulatan pangan mesti dicapai dengan mengintegrasikan mata rantai produksi.

Mulai budi daya, penanganan pascapanen, pemasaran, branding, hingga membuka akses pasar.

BACA JUGA: Bus Listrik Besutan Moeldoko Sangat Efisien

Moeldoko menyampaikannya dalam kuliah umum dengan tema Peran Perempuan dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan Nasional di Gedung Krida Bakti Sekretariat Negara, Jakarta, Rabu (28/2).

Pada awal pemaparan yang dihadiri oleh 200 peserta, Moeldoko menyoroti tentang tahapan ketersediaan pangan bagi masyarakat.

BACA JUGA: Petani Zaman Now Harus Kreatif dan Melek Teknologi

Mulai tingkat yang paling bawah yakni ketahanan pangan, swasembada pangan, dan yang paling ideal adalah kedaulatan pangan.

“Pada tahap kedaulatan pangan, negara  sanggup memberikan pangan kepada setiap warga negara,” kata Moeldoko.

BACA JUGA: Zulhasan: Setop Impor Beras, Biarkan Petani Nikmati Panen

Masalah swasembada dan kedaulatan pangan mesti dipahami oleh perempuan petani.

Sebab, lewat kedaulatan pangan sumber daya manusia unggul bakal terwujud lewat asupan gizi, khususnya karbohidrat dan protein.

Moeldoko menambahkan, masalah pertanian bukan saja berhenti pada tahap on farming (budi daya), namun juga sampai pada tahap pascapanen.

Dia mencontohkan petani sayur yang membawa hasil produknya ke pasar dengan cara diduduki atau ditiduri dalam perjalanan. Cara ini tentu mengurangi mutu produk.

Pada kondisi inilah perempuan HKTI harus memberi pembelajaran yang baik. “Kehadiran kalian harus memberi added value lewat peningkatan kualitas, branding, dan akses pasar,” terang Moeldoko.

Selain itu, masih banyak petani kelapa yang berpikir menjual kelapa. Padahal, ada banyak produk unggulan derivatif dari kelapa seperti virgin coconut oil, arang,  dan sabut.

“Hal-hal seperti ini lebih dieksploitasi. Penyelesaian masalah petani harus kita selesaikan dari ujung ke ujung,” kata Moeldoko.

Oleh karena itu, lanjut Moeldoko, HKTI perlu menggali kembali kearifan lokal dalam memanfaatkan sumber pangan yang telah dikonsumsi turun-temurun seperti sagu di Papua. (jos/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Fadli Zon: Diam-Diam HPP Membunuh Petani


Redaktur & Reporter : Ragil

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler