Intoleransi di Sekolah Menguat, OSIS Harus Jadi Alat Pemersatu Siswa

Kamis, 01 Juni 2017 – 19:37 WIB
Ketum PB PGRI Unifah Rosyidi (tengah) dalam konpress di Jakarta, Rabu (31/5). Foto: Mesya Mohammad/JPNN.com

jpnn.com, JAKARTA - Pancasila sebagai dasar negara adalah final dan harga mati. Pascaorde baru hingga saat ini, menurut Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rosyidi, radikalisme menguat. Bahkan tindakan intoleransi terjadi di banyak tempat hingga sekolah.

"Mengapa intoleransi makin kentara di era reformasi hingga saat ini? Karena semangat reformasi yang lahir dari perlawanan pada orde baru memprivatisasi Pancasila, sehingga disadari atau tidak berdampak pada sikap antipati terhadap Pancasila," kata Unifah dalam peringatan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2017.

BACA JUGA: PGRI Sebut Data Jumlah Guru Surplus Menyesatkan

Hal tersebut dibuktikan dengan perubahan mata pelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKn), yang sebelumnya tertera dalam UU Sisdiknas 2/1989 menjadi Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) dalam UU Sisdiknas 20/2003. Dalam PKn, Pancasila diajarkan hanya sebagai dasar administrasi kenegaraan. Bukan sebagai nilai-nilai yang seharusnya dijadikan landasan dalam menjalani kehidupan bersama sebagai bangsa plural.

"Itu pun hanya bersifat transfer of knowledge. Dengan sistem pembelajaran yang mengutamakan beberapa pelajaran tertentu (khususnya karena UN), pelajaran dan internalisasi terkait nilai-nilai termarjinalkan, jadi tidak menarik, dan tidak dianggap penting,” tuturnya.

BACA JUGA: PGRI Tuding Dirjen GTK Mempersulit Guru Peroleh Sertifikasi

Tidak adanya ruang yang memadai untuk mendiskusikan tentang nilai dan tata cara hidup bersama, anak-anak bangsa seperti kering kerontang jiwanya dari apresiasi terhadap keberagaman.

Adanya pelajaran agama yang harusnya menjadi sebuah media untuk menumbuhkan kekuatan kritis, tapi menurut Unifah, kualitas dan kapasitas guru agama kita tidak jauh berbeda dengan bidang studi lainnya.

BACA JUGA: Sekolah Wajib Terima Siswa yang Memiliki KIP

"Pancasila dan Pendidikan Agama harus disampaikan dengan pendekatan serta cara-cara baru. Karena itu kapasitas dan kualitas guru harus ditingkatkan, karena yang dihadapi guru adalah lingkungan plural,” terangnya.

Unifah menambahkan, salah satu cara yang bisa memersatukan bangsa (siswa) adalah kegiatan intra dan ekstra di sekolah melalui OSIS. Selain itu menghidupkan kembali upacara bendera Senin agar siswa memiliki rasa nasionalisme dan cinta Tanah Air.(esy/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Setuju Guru di Sekolah 8 Jam, dengan Catatan...


Redaktur & Reporter : Mesya Mohamad

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag
Sekolah   Siswa   Intoleransi   PGRI  

Terpopuler