Ipang Wahid Berbagi Jurus Tangkis Hoaks ke Muslimat NU

Minggu, 26 Maret 2017 – 23:43 WIB
Ketua Pokja Industri Kreatif dari Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Irfan Wahid saat menerima cinderamata dari Muslimat NU yang disampaikan oleh Ketua Rapimnas NU Yenni Wahid dan disaksikan Ketua Umum PP Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (26/3). Foto: Humas Rapimnas Muslimat NU

jpnn.com, SENTUL - Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU) menyuguhkan bahasan menarik. Yakni media sosial di kalangan nahdliyin.

Ada Ketua Pokja Industri Kreatif dari Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) Irfan Wahid yang menjadi pembicara tentang media sosial dalam Rapimnas Muslimat NU yang digelar di Sentul, Bogor, Jawa Barat, Minggu (26/3). Praktisi media yang lebih beken disapa dengan panggilan Ipang Wahid itu mendorong Muslimat NU untuk memanfaatkan media sosial demi kepentingan dakwah.

BACA JUGA: Oalah Buzzer... dari Promosi Produk Jadi Penyebar Hoaks

"Bermedia sosial ini sudah tidak bisa kita hindari karena memang kini eranya. Melalui media sosial kita bisa gunakan untuk syiar agama, sosial kemasyarakatan, ekonomi, politik, dan hiburan,” ujar Ipang.

Menurutnya, Muslimat NU bisa memanfaatkan berbagai pilihan media sosial dalam rangka berdakwah. “Jika dakwah Muslimat dilakukan melalui media sosial, maka dampak positifnya akan lebih luas lagi," ulasnya.

BACA JUGA: Mensos Dorong Muslimat NU Berdayakan Nahdliyin Miskin

Lebih lanjut Ipang mengatakan, kalangan Muslimat NU juga bisa memanfaatkan media sosial untuk memerangi informasi palsu atau hoaks. Sebab, saat ini hampir setiap hari ada hoaks yang berseliweran.

Mengutip data Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Ipang mengatakan, pada 2016 lalu ada 800 ribu situs penyebar hoaks di Indonesia. Dari jumlah itu, 700 ribu di antaranya sudah ditutup.

BACA JUGA: Rapimnas Muslimat NU Fokus Bahas Penguatan Organisasi

Namun, tetap saja situs-situs hoaks bermunculan. Informasi hoaks itu juga menyebar melalui Facebook, Twitter, bahkan di aplikasi pesan di smartphone.

Ipang lantas membeber motif di balik mejamurnya situs hoaks. Yakni keuntungan finansial bagi pengelola situs dari tingginya jumlah viewers atau traffic pengunjung.

“Semakin banyak klik semakin untung mereka. Semakin tinggi traffic, semakin tinggi nilai sebuah portal,” tegasnya.

Pendiri Fasscomm itu menegaskan, para pengelola situs hoaks tak peduli pada isi. “Yang penting orang klik di situ,” sambungnya.

Karenanya Ipang mengajak Muslimat NU agar tak mudah terpengaruh informasi palsu dan menyebarkannya. Sebab, ikut menyebar hoaks tak akan ada untungnya.

“Jadi jangan mau diperalat atau dijebak oleh penyebar hoaks. Mereka dapat uangnya, kita dapat dosanya," papar pria yang berprofesi sebagai konsultan branding itu.

Putra sulung pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid itu mewanti-wanti para Muslimat NU agar mengunakan media sosial untuk menciptakan dampak positif. Ipang lantas menyodorkan rumus PRABU KREATIF yang merupakan akronim dari praktis, menghibur, kredibel dan inspiratif.

“Dan saya yakin konten informasi Muslimat NU sudah pasti kredibel dan bukan hoaks. Tinggal bagaimana mengemasnya sesuai rumus PRABU KREATIF," tuturnya.(ara/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Tim Anies-Sandi Bentuk Satgas Khusus Penangkal Hoaks


Redaktur & Reporter : Antoni

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler