Istri Meninggal, Tukang Becak Berhati Mulia itu Nyaris Putus Asa

Senin, 18 Mei 2015 – 07:34 WIB
PEDULI SESAMA: Himan (kiri) berbincang dengan Pak Dul. Dia mengunggah kisah Pak Dul di akun Facebook-nya karena ingin menginspirasi warga. Foto: Angger Bondan/Jawa Pos

jpnn.com - KAMAR berukuran 2x4 meter itu terasa pengap. Maklum, tidak ada satu pun jendela. Satu-satunya ventilasi hanyalah pintu kamar yang tampak reyot. Lantai kamar itu tanpa keramik, hanya disemen.

Di kamar itulah, Syukur alias Pak Dul, 65, merehatkan tubuhnya setelah seharian mengayuh becak dan menambal jalan berlubang.

BACA JUGA: Perjalanan Komunitas Indonesias Sketchers setelah Pameran di Kedubes Belanda

Di kamar itu pula, tukang becak yang merelakan tenaga dan waktunya untuk menambal jalan-jalan berlubang itu, sering memasak. Ya, dapurnya memang menjadi satu dengan kamar tidur. Kompor minyak, gelas, piring, dan peralatan memasak tampak berserakan di kamar tersebut.

Kendati kamar itu dilengkapi kasur, Pak Dul sering memilih tidur di lantai beralas tikar. ’’Badan sering pegal-pegal kalau tidur di kasur,’’ ucap Pak Dul.

BACA JUGA: Hai...Mau Ngapain setelah Lulus SMA?

Kamar Pak Dul terletak di loteng. Sekilas lebih mirip gudang. Tumpukan kardus dan botol bekas berada di mulut pintu kamarnya. Pak Dul tinggal satu rumah dengan anak keduanya, Wahyuni, di Jalan Tambak Segaran Gang 1 Nomor 27. Rumah tersebut berukuran 9x4 meter, tapi dibangun dua lantai.

Total penghuni rumah delapan orang. Yakni, Pak Dul, Wahyuni dan suaminya, tiga anak Wahyuni, serta Hariono (anak bungsu Pak Dul yang masih membujang). Seorang lagi adalah tetangga yang sudah dianggap seperti keluarga, yakni Nenek Jannah.

BACA JUGA: Ternyata, Tari Poco-poco bisa Mencegah Penderita Diabetes tak Cepat Pikun

Pak Dul memilih tinggal di sebuah kamar di lantai 2, sedangkan keluarga Wahyuni tinggal di lantai 1. ”Tidak enak jika menumpang rumah anak (lantai 1, Red). Di sana juga sudah sempit dan mereka kurang,” ujarnya.

Sesaat kemudian, dia menunjukkan pigura dengan foto seorang perempuan bersama Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dan anak kecil. ”Ini foto istri tercinta saya. Namanya Waginah,’’ jelas Pak Dul sambil menunjuk sosok perempuan di samping Khofifah. Istrinya meninggal karena sakit pada tahun lalu.

Pak Dul masih sering kangen dengan istrinya. Karena itu, dia sering memeluk foto istrinya saat tidur. ’’Tidak ada niat kawin lagi, wes tuwek,” ungkap penggemar Titik Sandora itu, lalu tertawa kecil.

Di awal kehilangan istrinya, Dul mengaku nyaris putus asa. Dia merasa kesepian. Apalagi, lima di antara enam anaknya telah berkeluarga dan menjalani hidup masing-masing. Winarsih, anak kelima Dul, terkadang menjenguk. Maklum, dia tinggal bersama suaminya di gang yang sama. Sementara itu, dua anaknya yang lain, Hariadi dan Edi, tinggal di luar kota bersama keluarga masing-masing.

Kematian istrinya membuat Pak Dul sering linglung. Namun, dia bisa bangkit dan kembali menekuni profesinya sebagai tukang becak. ”Masak mau minta makan sama anak. Tidak tega saya. Kalau dikasih tidak apa-apa, tapi tidak minta,” kata Pak Dul. Dia memang punya prinsip pantang merepotkan orang lain. Bagi Pak Dul, sebisanya dirinya harus membantu orang lain.

Pak Dul juga punya kepekaan yang tinggi terhadap lingkungan. Agus Solihin, tetangga sekaligus kerabat Pak Dul, memiliki cerita tersendiri tentang hal itu. ”Kayu di jalanan yang ada pakunya ya diambil. Pakunya dicabuti. Dia juga sangat rajin bersih-bersih kampung,” katanya.

Selain itu, sejak dulu Pak Dul dikenal kreatif dan tidak bisa diam. Agus juga ingat betul dengan masa kecil Pak Dul. ’’Dulu, dia sering membuat mainan mobil-mobilan dari batang kayu. Mainan itu sampai dibuat mainan anak sekampung,’’ kenangnya. Dul muda juga pernah membuat rumah pohon untuk tempat bermain anak-anak.

Terkadang Pak Dul dinilai terlalu peka, sampai-sampai sempat dikatakan orang gila. ”Pak Dul sering membersihkan selokan kampung. Hasilnya kan becek dan lumpur berbau di pinggir rumah. Banyak warga yang marah dan menganggapnya gila,” tambah Hariadi. Sejak itu, anak-anaknya melarang Pak Dul membersihkan selokan kampung lagi.

Namun, jiwa sosialnya tidak berhenti. Dia sama sekali tidak peduli dengan cap ’’gendeng” yang disematkan padanya. Pak Dul tetap suka menolong tetangga. Dengan bersemangat, dia memperbaiki pos ronda kampung atau pagar kampung tanpa diperintah siapa pun. Bahkan, sepuluh tahun terakhir, dia menambal lubang jalanan dengan bekas galian aspal.

Ketua RT 4 Totok Efendi Tambak Segaran Gang I mengatakan, selain memiliki hobi menambal lubang di jalanan, Pak Dul sangat ringan tangan. ”Itu lihat pos keamanan. Pak Dul yang nambalin pakai kayu dan besi seadanya. Mau kami bangun, tapi belum ada anggaran,” ujar Totok sambil menunjuk sebuah poskamling kecil.

Beberapa kali Totok melihat Pak Dul mengangkut bongkahan bekas galian aspal dengan becak tuanya. Jika ditanya warga sekitar, dia hanya menjawab untuk menambal embong. Motifnya simpel, agar tidak ada lagi pengendara yang jatuh karena lubang di jalanan. Totok pernah menjumpai Pak Dul membawa bongkahan aspal yang memenuhi becaknya. ”Sekitar pekan lalu. Katanya sih buat nembel jalan,” kata Totok, lantas tertawa.

Bongkahan aspal berukuran besar hingga kecil juga terlihat menumpuk di sudut gang di samping pos ronda. Posisi pos ronda tepat di seberang rumah Pak Dul. Galian aspal tersebut adalah stok yang disimpan Pak Dul untuk menambal lubang-lubang jalan.

Aspal-aspal sisa itu diambil dari bekas galian PDAM di sekitar Jalan Tambak Adi. Pak Dul mengaku sudah izin petugas dan warga setempat saat mengambilnya. Menurut Pak Dul, sisa-sisa aspal tersebut memang harus dibawa pulang ke rumah. ”Sebelum nanti diangkut dan dibuang, saya ambil. Eman. Kata yang jaga galian itu, pek-pek en kabeh (ambil saja semua, Red),” ucap Pak Dul yang hobi mendengarkan musik lawas itu.

Sebelum menambal lubang jalan, Pak Dul biasanya membawa galian aspal sesuai dengan kebutuhan. Caranya, bongkahan aspal itu dihancurkan dengan menggunakan martil untuk menutupi lubang jalanan. Lubang jalan yang sudah ditambalnya, antara lain, Jalan Tembaan, Gembong, Kenjeran, Gembong Tebasan, dan Tambak Rejo.

Hobi menambal lubang jalanan itu biasanya tidak selesai dalam sehari. Jika lubangnya besar, Pak Dul menyelesaikannya dalam waktu 2–3 hari. Apalagi, dia juga harus mencari uang untuk makannya sehari-hari. Jadi, menambal jalan itu hanya bisa dikerjakannya selepas kerja, yakni pukul 21.00. ”Pernah juga saya menambalnya siang sebelum kerja. Tapi, taruhannya nyawa. Kalau pengendara mobil tidak lihat, bisa mati saya,” ucapnya, lantas terkekeh.

Namun, ketenaran sepertinya tidak membuat Pak Dul nyaman. Setelah aksinya terekspos media, dia jadi sibuk melayani undangan media. Akibatnya, dia jatuh sakit. Saat ditemui Jawa Pos di rumahnya, raut wajahnya tampak kurang bersemangat. Jadwal syuting dan berbagai aktivitas setelah menjadi public figure sepertinya lebih berat daripada kuintalan beban yang biasa diangkut sebagai tukang becak penambal lubang jalan.

Wajahnya yang keriput semakin mengerut, menunjukkan sedang sakit. Suaranya serak, bahkan hampir tidak terdengar. Beberapa anggota keluarga mengatakan, Dul kecapekan. ”Apalagi kemarin sempat lupa makan dan tidak berhenti syuting untuk beberapa media,” ujar Wahyuni, anak kedua Pak Dul. Dalam sehari, tukang becak yang biasa mangkal di ITC Surabaya tersebut menghabiskan setengah hari untuk perekaman adegan menambal lubang hingga kehidupannya untuk satu media.

Wedang jahe, jamu, dan berbagai ramuan tradisional terlihat tengah dikonsumsinya. Pak Dul merasa harus sehat kembali. Sebab, dia masih ingin membantu orang lain. ”Kula gerah, leres. Sekarang saya harus sehat seperti dulu. Ada undangan juga, kan mendatangi undangan wajib,” ujar Pak Dul dengan suara terbata-bata.

Meski sudah disarankan untuk beristiharat, Pak Dul tetap mondar-mandir. Dia menyerahkan sepucuk surat untuk Wali Kota Tri Rismaharini kepada Wahyuni dan Agus Solihin, staf ketua RT 4, yang diminta keluarga membantu mendampingi Pak Dul setelah tenar.

Tulisan tangannya tersaji dalam ejaan lama. Itu pun hanya beberapa kalimat. ”Ini belum selesai karena saya sakit, tulung sampaikan ke Bu Risma,” ujar Pak Dul kepada anaknya. Tertulis nama Risma menjadi Tri Risma Handayani.

Dalam suratnya, Pak Dul mengaku sangat sungkan dan malu pada Risma. Orang nomor satu di Surabaya mau bertemu dengannya. Dia menyampaikan rasa terima kasihnya atas pertemuannya dengan Risma dan berharap bisa berjumpa lagi. Dia juga merasa apa yang dilakukannya tidak boleh membuatnya berbangga diri.

”Kalau dibilang bangga, ya saya tidak bangga. Saya tidak mau disebut pahlawan. Demi Allah kulo ikhlas, wani sumpah. Opo onone kula omongaken,” ujar penggemar ceramah Mama Dedeh itu. Dia mengaku hanya bersikap apa adanya dan sesuai dengan keinginannya.

Pak Dul menyatakan tidak bermaksud menolak pekerjaan yang diberikan Pemkot Surabaya. Namun, dia merasa tidak cocok menjadi seorang pegawai. ”Tapi, kalau bekerja memantau dan melihat jalan yang harus dibenerin lalu laporan, saya sanggup bekerja begitu,” ucapnya. (aya/c7/oni)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Sensasi di Ujung Bukit Parangendog


Redaktur : Tim Redaksi

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler