Izin Dipermudah, Eksportir Hortikultura Semakin Bergairah

Minggu, 18 November 2018 – 21:49 WIB
Pekerja saat packaging barang-barang yang akan diekspor. Foto: Humas Kementan

jpnn.com, JAKARTA - Buah manggis dengan julukan "queen of fruit", merupakan salah satu buah primadona ekspor Indonesia. Meski saat ini ada penutupan ekspor manggis ke Thailand, hal tersebut tidak menyurutkan semangat para eksportir manggis di bumi pertiwi. Para eksportir semakin bersemangat untuk mengekspor langsung manggis ke China.

Sesuai dengan protokol ekspor manggis yang ditandatangani pemerintah Indonesia dan China, mempersyaratkan buah manggis segar siap ekspor berasal dari kebun dan rumah kemas (packing house) yang telah teregister.

BACA JUGA: Kementan Terapkan Budi Daya Ramah Lingkungan

Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura Yasid Taufik menyampaikan, instansinya melakukan pembinaan dan terhadap pengajuan registrasi rumah kemas. Proses pendampingan dilakukan agar pengajuan sesuai dengan standar sanitasi, keamanan pangan dan memiliki sistem telusur baik (traceability) yang baik.

"Peran lain dari Direktorat Jenderal Hortikultura adalah melakukan pembinaan, pengawalan dan pendampingan terhadap kebun buah agar dapat menerapkan GAP dan dapat memperoleh nomor registrasi kebun," ujar Yasid.

BACA JUGA: Ekspor Kelapa Indonesia Luar Biasa!

Dirinya menyakinkan bahwa pihaknya bersama-sama dengan Dinas Pertanian Provinsi dan Kabupaten akan saling berkoordinasi untuk melakukan bimbingan teknis budidaya dan penanganan pascapanen manggis di tingkat petani, sehingga produk yang disuplai ke rumah kemas adalah produk yang berkualitas.

Sejauh ini sudah terdapat 18 eksportir yang telah mendapatkan approved register dari Karantina Cina (GACC). Hal ini diyakini masih akan terus bertambah jumlahnya. "Informasi dari Otoritas Kompeten Keamanan Pangan Pusat (OKKPP), rumah kemas yang mengajukan registrasi terus bertambah," ujar Andi Arnida Massusungan, Kasubdit Standarisasi dan Mutu.

BACA JUGA: Pasokan Bawang Merah untuk Natal dan Tahun Baru Terjamin

"Proses registrasi rumah kemas tersebut terlebih dahulu dalam bentuk pengajuan ke OKKPP, maupun ke Otoritas Keamanan Pangan Daerah (OKKPD) untuk OKKPD yang memiliki ruang lingkup untuk melakukan registrasi," tambah Andi.

Beberapa eksportir yang membangun rumah kemas house di lokasi sentra manggis di antaranya di Lima Puluh Kota, Purwakarta, Bogor, Banyuwangi dan Tabanan. Selain itu, eksportir juga membuka cabang rumah kemas di lokasi yang berdekatan dengan pelabuhan dan bandara seperti di Jakarta dan Denpasar.

Salah satu eksportir manggis, PT. Bumi Alam Sumatera yang diwakili oleh Muhammad Bayu Vesky menyatakan, setelah di Limapuluh Kota, Sumbar, saat ini pihaknya juga tengah membuka packing house di Jakarta, dengan tujuan pelabuhan Tanjung Priok.

"Ke depan kami berencana untuk melakukan ekspor melalui Pelabuhan dengan kontainer. Untuk mempersiapkan buah Manggis yang akan diekspor, proses penanganan pascapanen sudah dilakukan di tingkat petani agen," kata Direktur Kerjasama Antar Lembaga PT Bumi Alam Sumatera ini.

Pihaknyamemfasilitasi peralatan air blasting di tingkat petani agen, sehingga buah yang datang di rumah kemas tersebut sudah lebih siap. Oleh karena itu, harga beli manggis di tingkat petani menjadi lebih mahal dan petani akan menikmati keuntungan lebih banyak.

"Begitu Menteri Pertanian Andi amran Sulaiman membuka kran ekspor lebar lebar, maka sejalan dengan itu pula, kami ingin terus berlari dalam menduniakan produk hortikultura kita," jelas Bayu

Dirinya memuji era kepemimpinan Presiden Joko Widodo dan Menteri Andi Amran Sulaiman beserta jajaran bahwa pengurusan izin ekspor sangat dipermudah dan malah, tidak ada pungutan.

"Makanya, sewaktu Pak Mentan dan Pak Dirjen Hortikultura melepas ekspor 10.000 ton manggis di Situjuau, Limapuluh Kota, Sumbar, kami sampaikan, jika kami tidak menemukan pungli satu rupiahpun. Wajar saja, jika Mentannya anti korupsi," jelasnya.(jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Program Kementan Tingkatkan Kesejahteraan Penduduk Miskin


Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Terpopuler