Jabat Kwarnas Pramuka, Buwas Diminta Mundur dari Bulog

Selasa, 02 Oktober 2018 – 06:41 WIB
Budi Waseso. Foto: dokumen JPNN.Com

jpnn.com, JAKARTA - Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso diminta untuk meninggalkan jabatannya karena menjabat sebagai Kwarnas Pramuka.

Asisten Deputi Organisasi Kepemudaan dan Pengawasan Kepramukaan Kementerian Kepemudaan dan Olahraga Abdul Rafur mengatakan, jabatan Ketua Kwarnas Pramuka sangat berat sehingga membutuhkan konsentrasi penuh.

BACA JUGA: Presiden Jokowi Harus Cepat Atasi Ribut Impor Beras

"Mudah-mudahan dia (Budi Waseso) berhenti jadi Dirut Bulog, dan fokus menangani Pramuka. Karena ini besar sekali, butuh tenaga dan pemikiran yang luar biasa," kata dia saat dikonfirmasi, Senin (1/10).

Pria yang akrab disapa Buwas itu terpilih menjadi Ketua Kwarnas Pramuka dalam Musyawarah Nasional yang digelar di Kendari, Jumat (28/9).

BACA JUGA: Fahri: Waspada Pak Jokowi, Ada Tikus Mati di Lumbung Padi

Pemilihan ketua tersebut dilakukan melalui voting. Buwas mengungguli dua kandidat lainnya, yakni Adhyaksa Dault dan Yana Cahyana.

Mengenai proses pemilihan itu, Rafur mengaku tidak mengikutinya. Namun, Rafur mendengar Munas diwarnai dengan intervensi dan tekanan untuk memilih salah satu calon.

BACA JUGA: Buwas Ogah Hadir di Rakor, Begini Respons DPR

"Karena saya tidak di sana, saya tidak tahu persis, hanya katanya-katanya. Saya tidak mau tanggapi kalau hanya katanya-katanya," ujarnya.

Rafur mengaku tidak mau masuk dalam isu tersebut. Meski demikian, Rafur menginginkan jenderal purnawirawan bintang tiga itu memimpin dengan baik ke depannya.

"Saya pikir Pak Buwas berhasil di BNN, dan semoga bisa berhasil di Pramuka," kata dia.

Sementara itu, Andalan Nasional Bidang Komunikasi dan Informasi Hariqo Wibawa Satria membenarkan adanya tekanan-tekanan dalam pemilihan yang berlangsung di Hotel Grand Clarion, Kendari itu. Dia menambahkan, tekanan itu langsung dirasakan oleh ketua panitia Munas.

“Kami di Pramuka tidak terbiasa dengan hal-hal seperti ini,” kata dia.

Namun, Hariqo mengaku tidak ingin meributkan hal itu di internal Pramuka mengingat Indonesia tengah berduka.

Hariqo menambahkan, setelah pemilihan selesai, para peserta Munas keluar ruangan, dan tidak lama kemudian langsung ada gempa.

“Kak Adhyaksa membawa pendukung untuk menenangkan, kami menyadari bahwa kalau kami ribut polemik internal, malu. Lalu, bisa dianggap sebagai barisan sakit hati dan hal ini tidak sportif,” tutur dia.

Menurut Hariqo, para pengurus pramuka tidak banyak mempermasalahkan yang sudah terjadi.

“Tetapi, juga jangan dianggap pembenaran, terus dilanjutkan, saya pribadi ingin Pramuka terus membudayakan musyawarah dalam memilih ketua, tanpa melibatkan pihak lain,” kata dia.

Hariqo pun meminta seluruh jajaran Pramuka merapatkan barisan untuk membangun organisasi tersebut.

“Kami tidak ingin dianggap mudah diintervensi. Jangan lagi ada ancaman dan intimidasi, kami sangat cinta gerakan pramuka. Jadi ke depannya perlu ada evaluasi, terutama timnya Pak Buwas,” jelas dia.

Sebaliknya, usai Munas, Buwas membantah adanya intervensi pada saat Munas di Kendari.

Menurutnya, pemilihan berjalan lancar. Dalam voting pemilihan itu, Budi Waseso meraih 19 suara, Adhyaksa Dault meraih 14 suara, sisanya dia suara diraih Jana Anggadiredja.

“Tidak ada itu (intervensi), tadi fair, kami sudah musyawarah dan putuskan untuk fair voting,” kata Buwas. (tan/jpnn)

BACA ARTIKEL LAINNYA... Moeldoko Koreksi Alasan Buwas soal Impor Beras


Redaktur & Reporter : Fathan Sinaga

Silakan baca konten menarik lainnya dari JPNN.com di Google News

Tag

Terpopuler